Loteng, DS-Lesehan di Desa Bon Jeruk, Kabupaten Lombok Tengah ini menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang gemar kuliner. Menu khas ayam bakar, ikan goreng dan masakan pelengkap menarik lainnya, bisa habis hingga 380 porsi dalam sehari.
Namun, menu itu ludes dalam sehari pada puncak kunjungan beberapa waktu lalu. Yang jelas, pada musim libur di atas 200 porsi bisa habis setiap hari.
Lesehan itu bernama Pasar Bambu. Mengambil ikon pohon yang tumbuh subur di areal tersebut, Pasar Bambu sudah dikenal masyarakar sejak beberapa tahun lalu. Bahkan saat ini sudah membuka cabang walau masih di kawasan itu.
Hal yang menarik adalah nuansa pedesaan yang cukup kental dengan pepohonan Bambu yang menjulang dan menyejukkan. Bangunan yang dimanfaatkan pun bernuansa lokal dengan berugak dan bale bale seakan membawa ke masa lalu.
Suasana begawe nampak dari pedagang yang membuka ruang bagi pengunjung untuk melihat secara langsung para juru masak yang tengah memanggang ayam.
“Ayamnya segar. Sambal ayam pun khas dan enak dengan minyak yang wangi, ” kata Maya, salah seorang pengunjung, Minggu (5/1).
Menggunakan nampan dengan lapisan daun pisang ditambah tutup dulang berwarna merah mengesankan pengunjung sedang menikmati suasana begawe orang Lombok.
Satu porsi hidangan itu dihargakan sekira Rp 150 ribu untuk 2-4 orang. Namun, menu yang menggugah selera membuat satu porsi lebih tepat untuk dua orang.
Gabungan suasana alam pedesaan dengan menu lokal itu membuat pengunjung tak kenal berhenti. Tetapi, lesehan Pasar Bambu tetap tutup pada pk. 18.00 wita.
Kata salah seorang juru masak, Andri, saat ini situasi pengunjung tidak lagi dibatasi hari libur atau hari kerja karena selalu ramai tiap hari.
Kendati ratusan ekor ayam setiap hari diolah untuk dijadikan hidangan, sementara ini tidak ada masalah pengadaan ayam kampung.
“Ayam ini usianya dua bulan. Sementara tidak kesulitan stok karena selalu ada yang jual di sekitar sini, ” ujarnya. Ian














