SELONG,DS– Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur gencar melakukan vaksinasi dan penyemprotan kandang untuk mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi. Kegiatan itu mulai dilakukan di sejumlah kecamatan yang terindikasi rawan PMK
Kabid Kesehatan Hewan Disnakeswan Lombok Timur, drh. Hultatang, menjelaskan bahwa program vaksinasi ini merupakan instruksi langsung dari pemerintah pusat. Selain vaksinasi, Disnakeswan juga melakukan penyemprotan disinfektan, pemeriksaan kesehatan ternak, dan penyuluhan kepada peternak.
“Hari ini merupakan hari perdana kita turun langsung ke peternak untuk melakukan vaksinasi. Langkah ini akan terus dilaksanakan selama beberapa bulan ke depan melalui UPTD peternakan di setiap kecamatan,” ungkapnya, Senin (20/1).
Pada tahap awal, Lombok Timur mendapatkan jatah sebanyak 5.000 dosis vaksin yang akan dibagikan secara bertahap ke masing-masing UPTD. Vaksinasi serentak juga dijadwalkan akan digelar pekan depan di seluruh wilayah.
Ia menambahkan bahwa target vaksinasi ternak sapi di Lombok Timur mencapai 35.000 ekor hingga tahun 2025. Hal ini dilakukan untuk melindungi populasi sapi di daerah tersebut yang mencapai 145.000 ekor. Prioritas vaksinasi diberikan kepada ternak baru, ternak yang belum pernah divaksin, serta anak sapi yang baru lahir.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus PMK di wilayah Lotim. Hingga saat ini, sebanyak 34 ekor sapi dilaporkan sebagai suspek PMK melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (Signas).
“Kita menjadi salah satu daerah yang cukup diperhatikan karena mobilitas ternak yang tinggi. Dalam seminggu, pasar hewan di Lombok Timur buka tiga kali. Kondisi ini berpotensi memunculkan kembali kasus PMK,” jelasnya.
Selain untuk menjaga kesehatan ternak, vaksinasi juga bertujuan memastikan sapi dari NTB tetap sehat hingga hari raya kurban. Hal ini penting mengingat banyak ternak dari NTB yang dikirim ke Pulau Jawa sebagai hewan kurban.Hultatang berharap para peternak semakin sadar akan pentingnya vaksinasi. Ia menekankan bahwa vaksinasi harus dilakukan ketika ternak dalam keadaan sehat untuk memberikan perlindungan maksimal.
“Kami berharap, program vaksinasi ini mendapatkan dukungan penuh dari para peternak. Jika vaksinasi berjalan lancar, kita dapat memastikan Lombok Timur bebas dari kasus PMK,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Lenek Daya, Unasih, menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh program vaksinasi ini. Desa Lenek Daya diketahui memiliki populasi ternak sapi terbesar di Kecamatan Lenek, yakni mencapai lebih dari 3.000 ekor. Untuk itu, pemerintah desa telah menganggarkan biaya jasa vaksinasi dari dana desa (DD) selama tiga tahun terakhir.
“Setiap tahun, kami menganggarkan dana untuk jasa vaksinasi. Hal ini penting karena dari 2.000 lebih kepala keluarga di desa kami, sebanyak 1.500 di antaranya merupakan peternak. Pada tahun 2024, kami juga mengalokasikan anggaran untuk pembuatan pakan ternak,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat yang diambil Disnakeswan dalam mencegah penyebaran PMK melalui vaksinasi, penyemprotan disinfektan, dan pemeriksaan kesehatan. Ia menekankan bahwa sektor peternakan menjadi salah satu penopang ekonomi utama masyarakat Desa Lenek Daya, khususnya di Dusun Kroak.
“Hampir semua masyarakat di Dusun Kroak beternak. Bagi mereka, beternak lebih menguntungkan dan hasilnya cepat dirasakan. Jika ada kebutuhan mendesak, ternak bisa langsung dijual malam itu juga,” katanya.li














