Dari HPN ke “Happy End” (4)

Jakarta - Banyuwangi, Adakah yang Menarik?

banner 120x600

Setelah dua hari di Banten, terpikir bagaimana mencapai Banyuwangi dengan cepat. Pilihan kereta menyita waktu lebih sehari. Satu-satunya cara mencoba jalur udara. Namun, adakah yang menarik dari Banyuwangi

Banyuwangi memiliki beberapa legenda yang menjadi bagian dari identitas budayanya. Misalnya kisah cinta wanita cantik Sri Tanjung dengan Sidopekso yang diwarnai fitnah hingga Sidopekso membunuh pasangannya. Terciptalah air harum dan jernih yang dikenal sebagai Banyuwangi.

Atau kisah cinta antara Raden Banterang, putra raja Blambangan dan Surati, putri raja Klungkung. Lagi lagi fitnah dan kecemburuan membuat Raden Banterang menuduh Surati. Surati kemudian melompat ke sungai dan air sungai menjadi harum.

Legenda ini mengandung nilai pengorbanan. Tidak jauh berbeda dengan legenda daerah lain. Lombok punya kisah Putri Mandalika yang rela menceburkan diri ke laut karena menjadi rebutan para pangeran.

Hal yang menarik adalah bagaimana pemangku kebijakan menjadikan nilai-nilai pengorbanan sebagai ruh dalam membangun daerah dengan semangat kemajuan. .

Kota kecil di ujung timur Pulau Jawa itu ternyata telah menjadi destinasi wisata berbasis budaya yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Tentu saja hal ini menjadi menarik bagi wisatawan.

Bagi para pelancong, perbedaan kultur budaya di suatu daerah merupakan magnet utama dalam meraih pengalaman baru. Bagaimana Banyuwangi mengintegrasikan budaya dengan pariwisata sehingga masa lalu juga hidup mewarnai masa kini.

Gairah menggali pengalaman baru membuat para owner media siber belum ingin pulang kecuali mempercepat tujuan menuju Banyuwangi.

PILIHAN TRANSPORTASI
Pilihan transportasi menuju Banyuwangi mempertimbangkan soal lama perjalanan dan usia. Khususnya para jurnalis sekaligus owner media siber berusia antara 40 tahun hingga 60 an. Mereka sudah dilakukan perjalanan sebelumnya ke beberapa lokasi di Banten.

Scrool perjalanan dari Jakarta ke Banyuwangi menunjukkan waktu tempuh yang cukup singkat jika menggunakan pesawat udara, yakni tidak lebih dari dua jam. Sementara itu menggunakan kereta dengan transit terlebih dahulu di Surabaya, menyedot waktu lebih sehari.

Penerbangan dari Jakarta ke Banyuwangi dapat dilakukan dengan menggunakan maskapai yang tersedia sejak bandara dibuka, yakni Garuda Indonesia, Lion Air atau Citilink.

“Klop, kita lewat udara, ” cetus Dedi Suhadi, pimpinan rombongan, yang diiyakan para pewarta.

Dari segi biaya, memanfaatkan kereta bukan lebih mudah dengan berbagai pertimbangan. Waktu tempuh kereta Jakarta-Surabaya diperkirakan sekira 11 jam. Sedangkan dari Surabaya ke Banyuwangi mencapai sekira 5 jam. Perjalanan yang sangat menyita stamina tua.

Keputusan yang cepat diamini ketika sepakat menggunakan pesawat udara. Kami angkat koper dari Wisma UIN di Serang.

Waktu menunjukkan tengah malam. Hujan rintik rintik di Bandara Soeta dengan suhu yang sangat dingin. Tubuh-tubuh terbungkus jaket tergeletak di kursi tunggu melepas kantuk disebabkan kehadiran jauh lebih awal.

SENIN, PK. 08.30 WIB.
Usai lepas landas dari Bandara Soeta, melalui kaca jendela nampak gumpalan awan yang beberapa kali diterobos moncong pesawat dan menciptakan sedikit getaran.

Bola mata agak berbinar saat birunya langit menyeruak di balik perca-perca awan yang robek membungkus panasnya cuaca. Daratan nampak kecil seperti guratan pasir di tengah hamparan laut membiru.

Benar saja, kurang dari dua jam pesawat melakukan nose up untuk mengurangi kecepatan hingga menyentuh landasan pacu (run way). Sesekali kami menengok kiri kanan menanti pesawat benar-benar berhenti.

Beberapa penumpang mulai beranjak menuju bagasi pesawat disaksikan sejumlah pramugari cantik yang tersenyum menanti di depan pintu.

Udara menguap dari lapangan bandara yang luas seakan memberi ruang kebebasan menghirup sepuasnya. Alhamdulillah, tidak ada goncangan berarti dibalik kerisauan pada cuaca buruk akhir-akhir ini.

“Banyuwangi, kita sudah tiba! Cepat sekali! ” ujar Widi.

Tepat pk. 10.27. Beberapa rekan bersijengkat sambil menarik tas koper yang mulus meluncur.

“Mirip Bandara Selaparang zaman dahulu, ” cetus Mustaan, jurnalis tertua asal Lombok Timur, mengenang bandara di Kota Mataram yang kini sudah tutup digantikan BIZAM di Lombok Tengah.

Areal yang tidak terlalu padat membuat langkah-langkah tua cepat mencapai ruang penyambutan sambil menyeret tas koper di tangan kanan di jinjingan bawaan di tangan kiri menuju tempat penjemputan.

Sekilas tampak bandara yang beroperasi tahun 2010 itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap, seperti restoran, toko, dan layanan transportasi. Tergambar arsitektur dekoratif bernuansa lokal suku Osing mewarnai bangunan.

Situasi yang masih lengang sangat tepat dengan suasana hati yang ingin berlibur. Terdapat kafe yang seakan mengajak berhenti dengan suguhan kopi lokal berbagai merek  selain makanan dan cinderamata.

Bola mata kemudian menyapu areal parkir dengan sejumlah taksi yang siap melayani menuju ke Kota Banyuwangi dengan waktu tempuh sekira 20 menit dari bandara.

Seorang bapak sudah menanti dengan senyum ramah di tengah gegas langkah. Dialah yang akan membawa para jurnalis menuju Boy Farm Vila Kebalen di Dusun Kebalen Lor, Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogo Jampi, Kabupaten Banyuwangi.

Sepanjang perjalanan tampak hamparan sawah luas dengan pepohonan menghijau. Sejumlah ruas jalan sangat mirip dengan yang ada di Lombok Barat dan Lombok Tengah. Kendaraan melindas aspal basah yang perlahan mengering seiring meredanya percikan gerimis. Ian