Mengenang Dienullah Rayes (2)

DIENULLAH RAYES DAN SEJARAH SASTRA NTB YANG HILANG

H.Dienullah Rayes
banner 120x600

H Dienullah Rayes berpulang. Jum’at 1 Mei, kabar duka itu datang dari Sumbawa. Kabar ini kemudian menyebar di media sosial dan group WA. Kepergian Pak Din, begitu dia disapa, menyisakan banyak catatan pada siapa saja yang pernah mengenalnya, terlebih pada yang berminat pada dunia sastra.

Dienullah Rayes lahir 7 Februari 1937,di desa Kalabeso, Alas, Sumbawa. Dinullah Rayes pernah bertugas sebagai guru SD dari tahun 1956-1965. Karirnya berlanjut menjadi kabid (kepala bidang) kebudayaan kabupaten Sumbawa. Lalu sebagai kasi (kepala seksi) kebudayaan kandep dikbud kabupaten Sumbawa. Dienullah Rayes juga dipercaya memimpin Dewan Kesenian Sumbawa serta Ketua Lembaga Adat Tana Sumbawa.
Dienullah Rayes telah aktif menulis sejak usia muda, 19 tahun, tahun 1956. tulisannya dalam bentuk puisi, cerpen, esei, naskah dramaserta artikel kesenian dan kebudayaan. Karyanya tersebar dimuat di media massa, diantaranya Suara Karya, Pelita, Panji Masyarakat, juga di majalah Horison dan Dewan SASTRA iMalaysia. Dienullah Rayes penyair NTB yang namanya masuk dalah Horison Sastra Indonesia.

Pak Din adalah pegiat sastra yang tangguh. Jejak dan riwayat kepenulisannya yang panjang, dari tahun 50an hingga akhir hayatnya. 70 tahun berkarya. Tidak saja lewat karya-karyanya yang tersiar di berbagai media cetak, hingga buku-buku puisi tunggal dan antologi bersama, yang membuat namanya di kenal, namun juga kegigihannya untuk bisa hadir di setiap event atau kegiatan sastra dan budaya. Ia rela dan ikhlas menjual kerbau atau kuda miliknya, agar punya sangu untuk biaya datang ke sebuah perhelatan sastra, yang jauh dari kampung halamannya, ke sebuah kota di Jawa bahkan Sumatera. Cerita romantik seperti ini, melingkupi kisah getir pelaku sastra atau pegiatan kesenian.

Kegetiran yang dialami, ditambah lagi musibah yang menimpa Pak Din. Tahun 2007 tanpa dinyana, rumahnya terbakar. Seluruh harta kekayaan paling berharga berupa ribuan buku hangus menjadi abu. Buku-buku koleksi yang menjadi bagian hidup dan karya-karyanya yang dikumpulkan sejak tahun 1950an lenyap tak berbekas.

Kehilangan ini, tidak hanya kemalangan buat Pak Din. Lenyapnya seluruh arsip dan dokumen milik Dinullah Rayes, merupakan kemalangan dan kehilangan bagi dunia sastra NTB. Sepotong sejarah telah hilang. Riwayat dan data sastra, karya dan penulisnya, tidak dapat di lacak lagi.

Siapakah atau adakah penulis NTB, selain Dienullah Rayes yang menulis di tahun 50 an itu? Atau di tahun tahun angkatan Balai Pustaka,misalnya. Dimanakah bisa didapatkan bukti dan dokumentasinya. Dan siapa pula yang mau menelusurinya.

Setidaknya seperti seorang peneliti sastra yang juga akademisi dari Universitas Udayana yang menemukan novel berbahasa Bali yang diterbitkan tahun 1930an, sebagai novel tertua yang dituls, didapatkan di Leiden Belanda.

Kepulangan Pak Din, Jum’at 1 Mei 2026, dalam usia 89 tahun, dengan membawa seluruh ingatan dan kenangannya. Sayang, ia tak sempat menuliskannya atau menceritakan sejarah itu. (Sinduputra)