PT. AMMAN, LPA NTB dan Pemprov Pulihkan Trauma 75 Anak Korban Kebakaran di Dusun Sade

banner 120x600

LOMBOK TENGAH, DS– PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) bersama Pemerintah dan Lembaga Perlindungan Anak Provinsi (LPA) NTB menggelar layanan pemulihan trauma psikososial bagi 75 anak korban kebakaran di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (31/8).

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengembalikan rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak, agar mereka bisa kembali ceria dan bersekolah seperti biasa.

Pendekatan Psikososial

Ketua LPA NTB, Sukran Hasan, di sela sela kegiatan Senin (31/8), mengatakan fokus utama trauma healing bukan menggali kejadian, melainkan memulihkan kondisi psikis anak.

“Kami ingin anak-anak merasa seolah tidak ada peristiwa kebakaran. Mereka kembali ceria, kembali bermain dan siap sekolah,” ujar Sukran.

Ia menegaskan program ini akan berjalan bertahap. “Ini awal pertemuan. Setelah kembali ke rumah pun anak-anak akan tetap dipantau bersama para pendamping, sampai rumah mereka berdiri kembali,” tambahnya.

Bermain, Menggambar dan Bantuan Sekolah

Suasana tenda pelayanan dipenuhi keceriaan. Para aktivis anak dan psikolog LPA NTB mengajak anak-anak bermain balon, menggambar, dan kegiatan edukatif lainnya.

PT AMMAN turut hadir memberikan semangat dan menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah serta bahan makanan untuk keluarga di pengungsian.

Anak-anak yang mengikuti kegiatan berasal dari jenjang TK hingga SMA. Lokasi kegiatan sengaja dipilih tidak jauh dari rumah tradisional mereka yang terbakar, agar anak merasa dekat dengan lingkungannya.

Pentingnya Perhatian Berkelanjutan

Fasilitator LPA NTB, Fitriatul Rahmah, menjelaskan belum bisa dipastikan seberapa besar trauma yang dialami anak-anak karena asesmen dan konseling mendalam belum dilakukan.

“Sepintas anak-anak terlihat biasa dan tertawa. Tapi kita tidak tahu apa yang mereka simpan. Karena itu perlu tindak lanjut konseling untuk mengetahui kondisi sebenarnya,” jelas Fitriatul, yang akrab disapa Atul.

Ia mencontohkan pengalaman LPA NTB saat menangani kasus serupa di Kecamatan Alas, Sumbawa. Di sana, setelah masa pemulihan anak-anak bisa kembali bahagia.

“Trauma biasanya baru terlihat 1-2 minggu setelah kejadian. Apalagi kebakaran ini terjadi di malam hari. Tidak mungkin tidak ada dampak psikisnya,” kata Atul.

Ia berharap pemerintah tidak melepas anak-anak sendirian. “Harus ada perhatian dari lintas sektor. Seperti di Sumbawa, Dinkes, Dinsos, sampai rumah sakit ikut ambil bagian. Anak-anak jangan dibiarkan tanpa perhatian,” tegasnya.

Menurut psikolog, Elen S. Psi, anak anak korban kebakaean di Sade lebih siarahkan kepada pelayanan psikososial karena turut mengalami ketegangan orangtua.

Dampak psikologis yang nampak adalah ketegangan disebabkan kondisi orangtua yang pendapatannya  berkurang sehingga sibuk mencari bantuan.ian

“PsikosoaiaI untuk memberikan support bahwa mereka tidak sendirian, ” ujarnya.ian