Anak Korban Pelecehan Seksual Sering Kena Bully, Begini Jalan Keluarnya

KLU, DS-Anak korban pelecehan seksual sering tidak diterima masyarakat dan kena bully karena dianggap bikin malu keluarga. Namun, Kabid PPA dan Pengarusutamaan Gender Dinsos KLU, Tri Nuril Fitri, memiliki jalan keluarnya.

Pada workshop Pengembangan Sistem Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat yang berlangsung di Bayan, Senin (18/11),

Fitri mengatakan UPTD PPA secara teknis berperan memberikan perlindungan anak. Selain penanganan kasus juga bisa melakukan pencegahan melalui edukasi.
“Kasus kekerasan jika dibiarkan tidak ada efek jera, ” katanya seraya menambahkan bahwa. UPTD PPA kini sudah memiliki tenaga psikolog dan pendamping hukum.

Pendamping hukum bekerjasama dengan LPA provinsi sehingga berharap masyarakat yang mengetahui kejadian segera melaporkan kasus yang mengorbankan anak.

“Bahkan jika tidak memiliki kendaraan UPTD siap untuk mendampingi sejak proses awal. Ada banyak hal yang kita lakukan untuk perempuan dan anak, ” lanjutnya.

Ia mengatakan orangtua tidak boleh menjadikan pernikahan anak sebagai solusi.

“Ibarat kencing saja belum lurus maka akan menambah beban keluarga. Harus dipikir memberi nafkah dan kehidupan anak anaknya kelak, ” ujarnya.

Mantan kepala UPTD PPA KLU ini mengaku sempat melakukan edukasi terhadap anak yang menikah dan didampingi hingga akhirnya bisa kuliah. Ada juga kasus lain yang diberi pendampingan dan bisa melanjutkan sekolah.

“Banyak contoh baik yang kita lakukan, ” cetus Fitri seraya menambahkan bahwa UPTD PPA memiliki shelter menampung anak yang dalam masalah sampai korban merasa nyaman.

Menurutnya, anak yang dimarah dan dibully ketika mengalami suatu kasus kekerasan bukannya mendapat ketenangan jika ada ketidakberterimaan lingkungan. Bukan tidak mungkin, kata dia, ada yang merasa membuat malu desa dan dusun sehingga memutuskan bunuh diri.

Kalau orangtua sadar,.kata Fitri, anak bisa sekolah lagi untuk diberikan pelayanan di Balai Paramitha. Di sana, korban mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan yang baik sampai tidak ada beban orangtua sama sekali.

Ada juga anak lain yang mendapatkan pembinaan dengan berbagai macam keterampilan dan diberi tanggung jawab. Sehingga ketika dikembalikan kepada keluarga bisa diterima dengan baik.

“Jika ingin jualan diberi bantuan sebagai modal usaha, ” katanya.

Fitri menegaskan anak yang menerima pembinaaan akan bisa tumbuh berkembang serta melakukan hal positif dengan diri dan keluarganya. Ian

Exit mobile version