Beternak Puyuh, Retas Kemiskinan dari Batas Desa

banner 120x600

Lombok Timur, DS-Di halaman kebun, lahan sewa tak kurang dari 20 are milik rekan sesama warganya dari ujung batas Desa Beriri Jarak, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, Masnin mencoba peruntungan dengan memelihara unggas beternak puyuh petelur. Kandangnya hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer saja dari rumah Masnin saat ini dengan waktu tempuh cuman lima menit saja.

Masnin yang diamanahkan sebagai Ketua Kelompok Tani Ternak Maju Jaya, bersama anggota kelompok lainnya, rutin membersihkan kendang dan sekaligus memberi pakan ternak di Kandang bertingkat yang belum lama dibangun. Ia Bersama anggota lainnya begitu piawai merawat ribuan ekor puyuh petelur yang dibudidayakannya.

Semula peternakan puyuh bagi Masnin (40) merupakan skala rumahan yang hanya sekedar coba-coba. Hanya ingin jadi pembeda diantara usaha unggas lainnya yang lazim dibudidayakan warga pada umumnya. Meski coba-coba, namun ketekunannya tak pernah surut, bahkan ia berkomitmen untuk terus konsisten. Kecuali itu ia mencermati peluang pasar telur puyuh terbuka lebar. Ketelatenan ternyata berbuah sukses. Meski produksinya tak seberapa namun, tak sedikit juga yang memesannya.

“Tentu saja saya bersama anggota kelompok merasa haru, senang bercampur bahagia adanya perhatian dari pemerintah provinsi NTB. Karena selama ini sama sekali belum ada sentuhan dari siapapun atas pemberian hibah untuk mengembangkan budidaya ternak puyuh petelur ini,“ kata Masnin melalui selulernya Selasa, (10/2/2026).

Senada dengan Misnan, pendamping peternak unggas wilayah Lombok Timur, Minal Abidin menjelaskan, bantuan ini merupakan hibah dari Pemprov NTB dalam upaya pengentasan kemiskinan berbasis pedesaan. Kemiskinan structural dan kemiskinan cultural biasanya banyak di desa. Dengan intervensi dari pemerintah diharapkan sebagai upaya menekan angka kemiskinan yang selama ini menjadi momok yang dihadapi di desa.

“Bantuan paket pengembangan ternak puyuh ini berupa kandang, pakan, obat-obatan, 4000 ekor bibit hingga pendampingan sampai panen termasuk pemasarannya. Tiga bulan ke depan jika tahap pertama ini dinilai berhasil akan diberikan bantuan lagi dengan harapan, masing-masing anggota bisa memiliki dan memelihara puyuh, sehingga bisa memperoleh pendapatan masing-masing dan tentu jauhh lebih baik. Minimal per anggota mendapatka bantuan bibit antara 500 sampaii 1000 ekor,” demkian Minal Abidin.

Sepengetahuan Abidin, bantuan budidaya ternak puyuh ini untuk tahap pertama tidak saja dikembangkan di wilayah Wanasaba, namun juga menyasar ke wilayah Kecamatan lainnya seperti Kecamatan Pringgabaya, Pringgabaya Utara dan Kecamatan Swela.

Karena semangat beternak masyarakat setempat yang tak pernah surut akhirnya dilirik Pemprov NTB. Melalui Dinas Peternakan dan Keswan melakukan monitoring sekaligus pembinaan. Budidaya telur puyuh ini terbilang masih langka. Umumnnya budidaya unggas seperti ayam petelur, ayam pedaging dan sejenisnya sudah banyak diusahakan.

Salah satu bukti pengembangan budidaya telur puyuh ini dilakukan Kelompok Tani Ternak Maju Jaya Desa Beriri Jarak. Kelompok ini menjadi bukti nyata bahwa usaha peternakan burung puyuh petelur mampu memberikan dampak ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat. Kelompok ini dinilai menginspirasi peternak pemula maupun warga lainnya yang ingin meningkatkan ekonomi keluarga melalui langkah sederhana dengan beternak puyuh.

Selain memberikan dampak ekonomi yang positif, usaha beternak puyuh yang masih tergolong langka di kalangan pembudidaya ini dinilai mampu menggerakkan perekonomian warga sekitar. Keberhasilan kelompok tersebut juga menjadi inisiator bahkan rujukan bagi peternak lain untuk memanfaatkan peluang serupa mengingat cukup menjanjikan di masa depan.

Potensi pengembangan ternak puyuh dinilai sangat besar, mengingat kebutuhan hasil produksinya, khususnya telur puyuh, masih cukup tinggi. Telur puyuh banyak dibutuhkan oleh berbagai usaha pengolahan makanan seperti cilok, bakso, dan jenis usaha kuliner lainnya.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan turut memberikan perhatian terhadap potensi usaha peternakan tersebut. Bentuk dukungan dilakukan dengan kegiatan monitoring langsung ke Kelompok Tani Ternak Maju Jaya di Desa Beriri Jarak, Lombok Timur belum lama.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Peternakan dan Keswan NTB Muhamad Riadi. Pada kelompok tersebut, populasi ternak puyuh tercatat sebanyak 3.990 ekor dengan produksi harian mencapai 35 tray telur. Harga telur pada saat pencatatan berada pada kisaran Rp31.000 per tray. Dari hasil produksi tersebut, pendapatan kotor harian mencapai Rp1.085.000.

Setelah dikurangi biaya produksi sebesar Rp800.000 per hari, kelompok ternak ini memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp285.000 per hari. Dengan perhitungan tersebut, keuntungan bersih yang diperoleh dalam satu bulan mencapai Rp8.550.000. Pendapatan tersebut selanjutnya dibagi kepada anggota kelompok ternak melalui skema kemitraan yang telah disepakati bersama.

“Setiap dua bulan, satu anggota kelompok diberikan 1.000 ekor puyuh yang siap produksi sehingga dalam waktu 20 bulan semua anggota kelompok masing-masing memiliki 1.000 ekor puyuh,” kata Riadi.

Secara teknis, M Riadi yang pernah sebagai Plt Dinas Pertanian Prov NTB ini menjelaskan, puncak produksi ternak puyuh terjadi pada usia delapan bulan dengan potensi produksi mencapai 40 tray telur per hari. Pada kondisi tersebut, pendapatan kotor harian dapat mencapai Rp1.240.000 dengan keuntungan bersih sekitar Rp440.000 per hari. Dengan skema kemitraan ini, masing-masing anggota kelompok peternak puyuh memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp110.000 per hari.

Dari sisi positipnya Riadi membeberkan, bahwa pola kemitraan tersebut mampu meningkatkan pendapatan peternak secara berkelanjutan dan menjadi solusi nyata dalam membantu peternak keluar dari jerat kemiskinan. Program ini menjadi bukti bahwa pengelolaan peternakan unggas yang terencana dan berbasis kemitraan mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat peternak.

Beternak puyuh di Lombok Timur merupakan peluang usaha menjanjikan, terbukti dengan adanya skala usaha ribuan ekor. Ia mencontohksan, UD. Pratama Golden Puyuh di Pringgabaya yang memasok telur ke berbagai pasar di Lombok Timur dan Mataram. Usaha ini efektif dengan populasi 1.000 ekor dapat menghasilkan ratusan butir telur per hari, apalagi didukung permintaan tinggi, kemudahan pakan, dan siklus produksi cepat (mulai bertelur usia 6-7 minggu).

Dalam hal ini Kepala Dinas Kominfotik Dr. H. Ahsanul Khalik dalam tulisannya berjudul “Gubernur Iqbal Selaraskan Industrialisasi Perunggasan Terintegrasi dengan Budaya Beternak NTB” sebagaimana dilansir dari portal ntbprov.go.id menjelaskan, di tengah percepatan program pangan nasional, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menampilkan pendekatan yang substantif, menyelaraskan agenda pusat dengan kekuatan sosial-ekonomi lokal.

Industrialisasi perunggasan terintegrasi tidak diposisikan semata sebagai proyek investasi, melainkan sebagai strategi membangkitkan kembali budaya beternak masyarakat, sebuah tradisi yang telah lama hidup di desa-desa, namun terpinggirkan oleh struktur industri yang timpang. Program nasional diterjemahkan ke dalam konteks daerah, lalu ditarik hingga ke tingkat desa, agar transformasi ekonomi benar-benar berpijak pada realitas masyarakat.

Ahsanul Khalik mengungkapkan, Lebih jauh, yang sedang dibangun di NTB bukan hanya sistem produksi, tetapi juga tata kelola (governance) pembangunan yang bersifat lintas level. Pemerintah pusat menyiapkan kerangka kebijakan dan pendanaan, provinsi bertindak sebagai orkestrator, kabupaten/kota mengawal implementasi teknis, sementara desa menjadi simpul utama produksi dan pemberdayaan. Inilah praktik multi-level governance: pembangunan tidak bergerak satu arah dari atas ke bawah, melainkan melalui konsolidasi aktor dari berbagai tingkatan pemerintahan.

Arah kebijakan Gubernur Miq Iqbal terlihat jelas dalam upaya mengintegrasikan peternakan dengan potensi lokal NTB, terutama jagung sebagai bahan baku utama pakan unggas. Ketergantungan pada pasokan luar daerah ingin diputus melalui pembangunan pabrik pakan lokal, riset protein alternatif, serta skema pembiayaan KUR bersubsidi bagi peternak rakyat. Di saat yang sama, peran BUMN diposisikan sebagai penyedia input strategis sekaligus off-taker, agar hasil produksi terserap pasar secara berkelanjutan.

Menurut Ahsanul Khalik, jika konsistensi kebijakan ini terjaga – dari pusat hingga desa – maka NTB bukan hanya akan tumbuh sebagai sentra perunggasan baru Indonesia, tetapi juga sebagai contoh bagaimana pembangunan dapat berjalan selaras dengan budaya. Di titik itulah visi Gubernur Iqbal menemukan maknanya yang paling dalam: membangun masa depan dengan berpijak pada akar tradisi, agar kemandirian pangan tumbuh bersama kemandirian masyarakat.

Seperti diketahui Desa Beriri Jarak sebagaimana diungkapkan Kadesnya Lalu Fauzi, memiliki banyak potensi. Mulai dari Pertanian, Perkebunan, Pariwisata, peternakan, UMKM dan lainnya. “Dan khsusus budidaya telur puyuh ini tengah digalakkan, tanpa mengabaikan potensi ekonomi lainnya bagi masyarakat,” ujar Kades Beriri Jarak, Lalu Fauzi dikonfirmasi Selasa (10/2/2026). (Ardi)