Selong, DS-Buah melon yang dibudidayakan di Lombok memiliki prospek cerah. Hampir tidak ditemukan kendala pemasaran karena setiap kali panen dengan mudah diserap konsumen
Hal itu tampak di Kebon Ayu yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Lombok Barat dengan bibit melon yang berasal dari Langkawi Malaysia.
Selain itu, petani Desa Kali Anyar, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, juga mengalami hal serupa. Setiap kali panen, buah melon dari 6 jenis vaietas itu bisa ludes dalam dua jam.
Petani melon setempat, Muhammad Fitriadi, Kamis (13/11), di lokasi budidaya melon, mengakui sebelum panen sudah ada pihak yang memesan termasuk yang berasal dari Pulau Sumbawa.
Fitriadi yang merupakan koordinator kelompok tani setempat pun sudah menambah green house yang semula hanya satu berkembang menjadi 8.
Masing-masing green house itu berisi sebanyak 800 tanaman melon dengan jadwal tanam yang diatur agar panen bisa dilakukan secara berkala.

Dengan 8 green house itu Fitriadi bisa panen buah melon yang terdiri dari 6 jenis itu sekali per dua minggu dengan nilai sekira Rp 18 juta untuk sekali panen.
Menurutnya, harga per kg buah melon dipatok Rp25 ribu. Namun, minat masyarakat yang sangat tinggi membuat panen melon tidak mengalami kendala penjualan.
Ia mengatakan konsumem yang datang dari berbagai daerah di NTB akan berdatangan ketika buah melon dipanen. Mereka datang secara perorangan sambil selfie dan juga ada yang memesan dalam jumlah banyak untuk dijual lagi. Biasanya, rencana panen dipublikasilan di media sosial.
Akan tetapi pembeli dibatasi hanya 300 orang saja. Pembatasan dilakukan untuk menghindari kerumunan di areal sekitarnya yang kurang representatif untuk kendaraan roda empat disamping keterbatasan kuantitas hasil panen agar tidak terjadi rebutan.
Secara kuailitas, kata dia, melon yang akan dipanen diuji terlebih dahulu tingkat kemanisan atau brix buahnya. Jika sudah memenuhi syarat dengan brix tertentu, baru kemudian dilakukan pemanenan.
Fitriadi sendiri mengaku memiliki komunitas petani mon di media sosial dengan anggota sebanyak 20 ribu orang yang berperan penting dalam berinteraksi terkait budidaya melon.
Kata Fitriadi, ia mulai mencoba budidaya melon tahun 2023. Panen pertama sangat menggembirakan sehingga membuatnya memperluas lahan tanam.
Keberhasilannya untuk memantik perhatian salah satu perbankan sehingga kelompok tani itu memeroleh dana hibah Rp150 juta.
Sementata persoalan yang dihadapu adalah cuaca yang cepat berubah yang memengaruhi kualitas melon.ian














