Buka Forum Inspirasi Daerah Berani II, Gubernur NTB Apresiasi Perkawinan Anak Turun

Sebanyak 15 kepala desa menerima penghargaan Gubernur NTB
banner 120x600

Mataram, DS-Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, membuka secara resmi Forum Inspirasi Daerah Berani II NTB di Hotel Lombok Raya, Sabtu (20/12). Dalam kesempatan itu, Gubernur  mengapresiasi  penurunan angka perkawinan anak di 15 desa intervensi.

Pada forum itu, LPA NTB menggeber keberhasilan intervensi program pencegahan perkawinan anak di 15 desa di Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara dengan menghadirkan langsung ke 15 kepala desa tersebut.

Hadir  pula Direktur Keluarga, Pengasuhan, Perempuan, dan Anak Bappenas RI,  Head of Development Cooperation to Indonesia Global Affaire Canada, Ketua TP PKK NTB, Field Office Unicef Kupang NTT-NTB. Acara diwarnai pemberian penghargaan kepada sejumlah stakeholdsr dan 15 kepala desa yang berperan aktif dalam pencegahan perkawinan anak.

Gubernur Iqbal  mengakui persoalan perkawinan dini di NTB masih tertinggi secara nasional dibalik  masalah sosial dan keterbatasan  sumberdaya. Karena itu, pendekatan Pemprov saat menyelesaikan masalah anak  bersamaan dengan menyelesaikan masalah ibunya. Namun, dibalik itu, kata dia, kemiskinan adalah ibu dari semua masalah.

“Kalau ditarik maka kemiskinan masalahnya, ” ujarnya.

Ketua TP PKK NTB, Bunda Sinta Agathia, sepakat masalah sosial semakin banyak sehingga berharap semua yang sudah dilakukan diperpanjang lagi.

“Masih banyak PR yang perlu dilanjutkan, ” katanya. “Menyelesaikan masalah kemiskinan luar biasa beratnya termasuk masalah kekerasan dan juga  disabilitas, ” cetus Sinta seraya berharap program ini bisa merangkul disabilitas.

PENURUNAN HINGGA 89 PERSEN

Ketua Panitia Forum Inspirasi Daerah Berani II NTB, H. Lalu Anis Mujahid Akbar, memaparkan  bahwa forum tersebut merupakan puncak refleksi Berani II dalam menekan jumlah perkawinan anak melalui pencegahan perkawinan anak. Program ini bentuk kolaborasi melalui pendekatan regulasi dan komunitas dalam melakukan intervensi.

Dalam soal hasil, Anis mengatakan bahwa penurunan kasus yang mencapai 89 persen  di 15 desa memberi dampak ekonomi. “Bukan cuma isu perlindungan anak melainkan juga isu peningkatan ekonomi, ” katanya terkait sinkronnya hubungan dengan program Desa Berdaya Pemprov NTB.

Hal penting yang diambil sebagai pembelajaran, kata dia, pencegahan perkawinan anak bukan isu sektoral yang harus dijawab satu institusi melainkan isu pembangunan daerah.  Ketika ditangani lintas sektor maka akan ada perubahan.

“Berani II menilai toma mampu ketika diberi ruang. Keberhasilan Berani II bukan angka semata tetapi pada model dan cara kerja melalui integrasi layanan dan keberanian dalam mengintervensikan dengan desa berdaya,” cetusnya.

INOVASI DIBAGIKANKE DAERAH LAIN

Direktur Keluarga, Pengasuhan, Perempuan dan Anak Kementerian PPN/Bappenas, Qurrota A’yun,  mengapresiasi komitmen Pemprov NTB dalam pencegahan perkawinan anak dan sunat perempuan.Banyak yang dilakukan dari desa sehingga perkawinan anak dan penghapusan Fimale Genital Mutilation (FGM)  menjadi bagian yang didukung dalam Program Berani II.

“Isu perkawinan anak dan sunat perempuan memerlukan pendekatan berbasis komunitas dan keluarga dan berharap dilakukan di NTB bisa jadi contoh yang baik,” katanya seraya berharap inovasi bisa dibagikan kepada daerah lain sampai pada level nasional sehingga Bappenas selaku kordinator Berani II  bisa memperbaiki proses melalui kebijakan yang sudah dipersiapkan dalam RPJMN.

“Ke depan ada yang memastikan ketika proyek tidak berlanjut ada keberlanjutan dari proyek tersebut  yang dilakukan NTB,” katanya.

Alice Birnbaum, Head of Development  Cooperation to Indonesia Global Affaire Canada, menilai praktik baik yang sudah dilakukan dalam Berani II merupakan pengetahuan bersama yang bisa dilakukan dalam program berikutnya. Pemerintah Kanada dalam hal ini sangat berbangga duduk bersama RI untuk membicarakan masa depan anak-anak.

Sedangkan Field Office Unicef Kupang NTT-NTB, Yudistira Yewangoe, menilai langkah yang sudah ditempuh dalam Program Berani II menjadi pondasi yang kuat. Unicef pun mengapresiasi mitra seperti PKK dan stakeholders  yang telah turut berkolaborasi.  ian