Dari HPN ke Happy End (2)

Ziarah ke Makam (Alm) Rusdi Tagaroa

banner 120x600

Kegiatan HPN di Serang Banten 2026 bagi kru JMSI NTB di bawah komando H.Boy Mashudi bukan hanya menghadiri momentum yang baru melainkan juga “reuni” terhadap yang lama. Di Serang Banten, pada sebuah pekuburan, jasad sosok aktivis, Rusdi Tagaroa, terbaring — walau sebagian besar kiprahnya meninggalkan jejak di Lombok.

makam Rusdi Tagaroa

“Hari Pers Nasional (HPN), bagi saya dan Andek (owner Ditaswara) bukan hanya senang mengikuti rangkaian HPN tapi senang karena akan ziarah ke makam Mas Rusdi Tagaroa, kakak kandung saya,” ujar H.Rudi Hidayat pemilik Lombok Boss. Jauh-jauh hari ia sudah pasang niat bahwa di sela-sela kegiatan HPN akan ziarah makam.

Rudi memiliki kenangan mendalam bersama kakaknya selama di Lombok sehingga memanfaatkan momen di Serang sebaik mungkin. Tepatnya ba’da Ashar 7 Februari setelah bertemu di Lobby Hotel Aston dan berjumpa dengan jurnalis senior Budi Laksono serta Gagah putra tunggal almarhum Rusdi, semua berangkat menuju makam.

“Kami duduk berdoa kepada pemilik kematian dan kehidupan agar Mas Rusdi senang bertemu kembali dengan kami meski sudah berada di alam kubur. Kami terus mendoakan, agar kehidupan kuburnya diberikan kenikmatan, bukan adzab. Juga berharap dilapangkan dan diterangkan kuburnya, diberikan tempat yang mulia bersama orang-orang sholeh,” ujar Rudi yang membacakan surah Al Mulk.

Andek terlihat khusyuk dan khidmat demikian juga yang lain seperti Nurul Utami yang sempat sejak aktif di Koslata, H. Riyanto, Widi, Ray Aruman, Ustadz Hasfen dan semuanya larut dalam doa yang ikhlas.

AKTIVIS  MAHASISWA

Bagi anggota JMSI NTB, Andek alias Suardi Mustaan, Rusdi sudah dikenal sejak tahun 1985 ketika kos di halaman Masjid Al Muttaqin Reppuk Bebek Dasan Agung Mataram.

“Kamar Andek bersebelahan dengan kamar saya, Mas Rusdi dan Bang Usman. Kamar Andek no 8 dan kamar Mas Rusdi di kamar no 9,” tuturnya.

Di kos-kosan ini Andek pada tahun 1985 adalah pendatang baru bersama Ustadz Lalu Sohimun Faisal (yang kini) dosen UIN Mataram, kakak dari Lalu Aksar Anshory yang pernah jadi Ketua KPU NTB.

Rusdi Tagaroa  dikenal sebagai aktivis mahasiswa. Kalau di kota-kota besar di Jakarta ada Kelompok Studi Proklamasi, di Yogya ada Teknosufi, di Mataram Rusdi Tagaroa mendirikan HIMPESS (Himpunan Mahasiswa Pencinta Studi Sosial).

“Banyak aktivis bergabung di HIMPESS seperti Prof Markum, Bang Andre, Bang Yono, Bang Wahyu dulu ketua BPM FE Unram, ada alm Mas Agus, Bang Guril, Bang Rujito, Sulistiyono, Bang Furqon,  Bang Fahmi, Bang Usman, Mbak Dena, Mbak Niniek, HIMPESS aktif mengadakan diskusi dan bakti sosial di Pulau Lombok,” kata Rudi.

HIMPESS juga sering diundang oleh LSM untuk menjadi narasumber dalam kegiatan sosial, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sosok Rusdi Tagaroa  jadi sentral figur di HIMPESS.

Namun, sebagai figur sentral,  Rusdi tetap low profile. Upaya menjadikan HIMPESS sebagai bagian penting gerakan mahasiswa terwujud. Ketika tahun 1990-an sudah berhasil membuat beberapa kelompok studi seperti HMP2k, WMPM dan lain-lain merupakan bagian dari upayanya untuk membuat gerakan mahasiswa membesar.

AKTIVIS LSM

Selain aktif menjadi inspirator gerakan mahasiswa,  Rusdi juga aktif di LSM dan mendirikan Lembaga Olah Hidup (LOH) bersama  Catur Kukuh dan Yani Sagaroa. Kegiatan LOH bermula di Desa Poto Kecamatan Moyo, Kabupaten Sumbawa. Yani kemudian juga dikenal sebagai aktivis Lingkungan Hidup anti tambang dan pernah berperkara dengan PT NNT.

“Mas Rusdi adalah figur yang suka ‘’ngemong’’ dan visioner. Beberapa organisasi yang didirikan selalu menjadi rujukan bagi aktivis untuk menjalin NETWORKING yang kuat,” ujarnya.

Setelah menikah dengan Encop Sodia, Rusdi Tagaroa menetap di Serang Banten. Di kota ini selain aktif di LSM juga mendirikan media on line DAMAR Banten bersama Budi Laksono. Damar Banten selain koran online juga aktif di podcast yang menyuarakan kaum perempuan dan isu strategis lainnya.