Pantaslah durian disebut si Raja Buah. Disamping tak sembarang bisa dipegang karena tajam berduri, rasa dagingnya penuh teka teki dan bisa menghimpun banyak orang pada musimnya.

Tak lama setelah sampai di Boy Farm, terdengar ada yang memanggil. Suara itu dari pemilik Vila Kebalen, H. Boy Mashudi. Kedengarannya manis karena menyangkut ajakan menyantap satu buah yang sudah dijanjikan: durian.
Walau di Lombok buah ini membanjir, persiapan pesta durian di Boy Farm pulalah yang meringankan langkah untuk datang. Ada rasa dan sensasi berbeda yang membuat bersemangat memenuhi panggilan itu.
Dikelilingi pepohonan yang tumbuh subur, di atas berugak dengan sepoi angin lembut, satu persatu buah durian dijinjing Arif, penjaga gawang Boy Farm. Buah ini sudah dipersiapkan beberapa hari sebelumnya untuk menyambut tamu yang dianggap istimewa.
Seketika teriakan memanggil nama-nama peserta press trip dari JMSI direspon. Ray Aruman, Andek dan Dedi Suhadi, walau mengantuk mencoba turun dari rumah panggung suku Osing kemudian melangkah turun menuju kebun. Aroma durian rada membuat bola matanya menegang.
“Saya walau mengantuk terpaksa datang karena yang disebut durian, ” ujar Widi yang mendapat giliran sebagai penikmat pertama.
Di atas berugak Muhyidin, Widi, Dedi Dompu, dan Saudi membelah lagi buah berduri itu. Wajah mereka sumringah sembari menyaksikan kehadiran kawan lain yang mencoba menjadi peserta baru.
Membelah durian yang tak jauh dari pohonnya memberi sensasi lain. Tak heran, hanya dalam sekejap satu butir habis diserbu bersama. Butir berikutnya menyusul. Rasanya berbeda. Tidak ada yang tersisa dari setiap butir karena masing-masing punya keistimewaan di lidah.
Didorong rasa penasaran dengan durian berikutnya MuhyIdin nyaris tak kenal berhenti. Alasan takut gula disingkirkan karena penasaran saja menikmati perbedaan rasa durian mentega, musang king, montong, atau yang lain. Sedikitnya puluhan butir sudah masuk tenggorokan namun tangan terus menyapa daging legit dan lembut itu.
“Ini enak, legit, ada rasa pahitnya, ” katanya. Tangan yang lain cekatan mengambil. Setidaknya belasan buah durian ludes seperti tertelan dendam lama.
“Lagi? Itu masih ada kalau mau, ” H. Boy menawarkan dengan suara khasnya. Tak berapa lama Arif menenteng dua butir. Para pemburu durian tersenyum lagi, belah lagi dan santap lagi.

BANGUN RUANG KEKELUARGAAN
Pohon durian di Boy Farm belum dipasarkan Jumlah yang ditanam pun masih belasan batang.Sehingga, hasil panennya cenderung dinikmati bersama kawan dan tetangga.
Setidaknya, sejumlah tanaman produktif belum dimanfaatkan untuk komersil melainkan sebatas membangun ruang kekeluargaan dan kebersamaan.
Ternyata, tidak semua buah durian memiliki rasa yang sama walau berasal dari pohon yang sama.
“Justru rasa yang berbeda itu membuat nagih,” cetus Ray yang asal Ampenan Lombok. Walau demikian, sebelum semua buah durian ludes masuk ke dalam perut, rerata penikmat sudah menyerah khawatir asam urat.
“Saya hanya makan tiga, ” aku Muhyidin sambil tersenyum kecil menyimpan rahasianya telah menyantap cukup banyak durian sore itu.
RATUSAN. POHON
Berada di tengah pepohonan dengan buah yang segar menjadi kerinduan setiap orang. Terlebih, di antara ratusan pohon yang berbeda di lahan luas.
Pada tahun 2019, luas lahan Boy Farm hanya sekira 1,5 hektar. Saat ini sudah mencapai 4 hektar. Cukup luas bagi pengunjung untuk berjalan dari satu pohon ke pohon yang lain.
“Saya berjalan dari sini hingga ke tepian sungai namun belum juga sampai pada batas tanah perkebunan milik Pak Boy, ” ujar Muhyidin, Ketua JMSI Dompu, seraya menyeka keringat.
Selain durian terdapat deretan pohon alpukat, yang mulai berbuah lebat. Pun mangga, kelengkeng, pisang, jambu. Pepohonan ini menjadi menarik saat berbuah, bagian yang kemudian penting sebagai dokumentasi setiap pengunjung. Ian














