Dari Sampah Jadi Pupuk Organik ASA Green, Badri Sukses Tingkatkan Produksi Pertanian di Lombok Timur

Lombok Timur, DS-Kisah sukses sesungguhnya berawal dari keuletan, kesabaran, semangat, tak kenal kalimat pantang menyerah dan  tawaqqal. Adalah Badiri panggilan pria dari Dusun Sukamulia, Desa Pohgading Timur, Lombok Timur,  tak pernah jeda membantu petani di desanya dalam rangka meningkatlan produksi pertanian.

Ia mengaku mau tak mau harus berpikir keras bagaimana petani di desanya bisa menemukan jalan keluar agar hasil panennya meningkat dengan penggunaan pupuk yang tepat dan ramah lingkungan.

Badri lalu mencoba melakukan eksprimen pembuatan pupuk dan pestisida organik cair berbahan sampah dedaunan dan limbah sayur bekas rumah tangga.

“Awalnya, petani desa kami kerap kali gagal panen. Penyebabnya penggunaan pupuk berbahan kimia berkepanjangan tak terkendali,” kata Badri, Senin (8/6/2026).

Badri yang jebolan salah satu Universitas Negeri di Mataram yang ilmunya banyak bersentuhan langsung dengan biologi dan kimia memulai sebuah misi mulia, menciptakan pupuk dan peptisida organik cair.

“Bismillah, berbagai eksperimen kami mulai dari rumah dengan cara meracik, dan mencoba formula baru. Namanya sesuatu yang baru pasti tak semulus harapan. Banyak cemoohan datang dari sana- sini terurtama dari para petani yang menyebut eksprimen saya itu tak logis,” ungkapnya sembari tersenyum.

Meski demikian, Badri terbilan sosok pekerja keras, tak gampang menyerah walau cemoohan datang silih berganti. Baginya eksorimennya ini bukan cuma soal pupuk, tapi tentang mengubah pola pikir dan kebiasaan yang sudah puluhan tahun ada di benak petani.

Badri menilai kebiasaan petani di desanya sudah terbiasa dengan pupuk kimia yang instan, yang memberikan hasil cepat, meskipun merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang.

Butuh waktu, Badri dengan sabar mendekati petani satu persatu bahkan melalui kelompok tani  untuk mencoba produknya di beberapa lahan uji coba.

“Kami tetap berdiskusi dan memberi pemahaman kepada petani, kalau menggunakan pupuk organik yang sesuai dengan dosis dan waktu pengaplikasian yang tepat pasti hasilnya akan memuaskan dan biaya produksi akan menurun,” ujarnya.

Badri menjelaskan, rata-rata petani menggunakan pupuk organik sama pengaplikasiannya dengan pupuk kimia. Dia contohkan ketika ketika dosis yang di gunakan tiga tutup botol bahan kimia maka petani akan menggunakan tiga tutup Sama dengan penggunaan pupuk kimia bersubsidi satu are sebenarnya 1 kg akan tetapi petani menggunakan 2 kg

“Sedangkan penggunaan bahan organik yang seharusnya 4 kg/are tapi yang petani gunakan 0.5 kg/ Ara jadi tidak kelihatan hasilnya. Jika kelihatan nanti sampai 6 bulan-1 tahun. Memberikan contoh pada lahan percobaan karna petani tidak akan mau menggunakan bahan organik jika tidak melihat bukti nyata,” ujarnya.

Ia menceritakan, apa yang dilakukannya awal tahun 2010 karena tahun 2008-2009 petani sekitar gagal panen. Badri melakukan percobaan skala kecil ketika semua tanaman mereka terserang hama sedangkan di tanaman saya masih bagus pertumbuhannya dan tidak di makan hama.

“Sejak itu para petani sekitar menggunakan prodak yang saya buat dengan dosis dan waktu pengaplikasian yang tepat. Petani setelah uji coba pupuk ini baru mengakui kalau hasil panennya diketahui meningkat. Sejak itu pupuk organik cair ini mulai dikenal dan tak sedikit permintaan datang dari luar desa bahkan luar derah,” urai Badri.

Permintaan petani tidak hanya berupa pupuk organik cair, namun juga pada pupuk pestisida organik cair tentunya yang ramah lingkungan. Badri menerima tantangan itu dengan bereksperimen kembali hingga akhirnya berhasil menciptakan pestisida alami yang harganya jauh yang dikatakannya lebih murah dari produk pabrikan.

“Mereka meminta satu semprotan dengan dua manfaat. Itu permintaan yang menantang, tapi justru jadi motivasi saya untuk terus mencari tahu,” ujarnya.

Inovasi Badri rupanya tidak sampai di situ. Berkat semangatnya yang tidak pernah surut ia kembali membuat pupuk organik yang cukup spektakuler yang ia sebut Pupuk Organik Cair Fungsi Ganda yang bisa sebagai pupuk dan pestisida. Namanya Asa Green.

Pupuk merek ini nyatanya mendapat respon positip dari sejumlah daerah. Pesanan datang dari Lombok Utara, Sumbawa, Jawa Timur, dan bahkan Kalimantan Selatan.

Badri tidak ingin hanya berspekulasi dengan kata-kata dan janji manis kepada petani atas produk yang ia buat ini. Badri menyebut keberhasilan itu pada tanaman padi milik warga . Sebelumnya petani getol menggunakan pupuk kimia dengan biaya tinggi.

Sebelumnya untuk 50 are atau setengah hektar tanaman padi cos produksi yang dikeluarkan untuk membeli pupuk kimia antara Rp 3,5 juta hingga Rp5 juta. Namun dengan menggunakan pupuk pestisida cair Asa Green ini pengeluaran petani bisa ditekan cukup biayanyanya hanya Rp2 juta saja.

“Hasilnya pun meningkat drastis. Tadinya cuma 4 kuintal padi bisa mencapai 1 ton setelah gunakan pupuk organik ini. Hasil maksimal juga bisa terlihat saat ini bisa sampai 1 ton. Hasilnya juga terlihat pada tanaman hortikultura lainnya ataupun pada tanaman kelempok sayur-mayur,” terang Badri.

Badri layak menyandang pahlawannya petani. Pasalnya, petani ulet ini tak pernah henti  memberi semangat dan mengedukasi petani agar meninggalkan pupuk kimia yang mahal dan merusak tanah dan mencemari lingkungan. (adi)

Exit mobile version