SELONGDS – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur menggelar diseminasi audit kasus stunting tahun 2024, Rabu (18/12).
Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jumlah kasus stunting yang tersisa serta menganalisis faktor penyebabnya.
Kepala DP3AKB Lotim, H. Ahmat, menjelaskan hasil audit akan menjadi dasar bagi para ahli untuk memberikan rekomendasi yang spesifik.
“Nanti kalau ditemukan permasalahan oleh para pakar, mereka akan merekomendasikan langkah-langkah yang harus dilakukan, baik itu terkait lingkungan, gizi, maupun faktor lainnya, untuk pendampingan berikutnya,”paparnya.
Dia mengatakan, penyebab stunting tidak selalu berkaitan langsung dengan masalah gizi. Faktor lingkungan, perumahan, ketersediaan air bersih, dan aspek lainnya juga menjadi penyebab signifikan. Oleh karena itu, audiensi stunting yang melibatkan spesialis anak diharapkan mampu memberikan solusi yang komprehensif untuk mengatasi masalah tersebut.
Lebih jauh, H. Ahmat menyampaikan angka stunting di Lombok Timur terus menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun. Data tersebut berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGM). Namun, jumlah kasus stunting tahun 2024 baru akan diketahui pada 2025 setelah survei selesai dilakukan.
Meskipun kasus stunting berkurang, DP3AKB tetap memberikan perhatian khusus kepada sekitar 18 ribu anak di Lombok Timur yang saat ini berada dalam kategori rentan stunting. “Jika tidak diatasi dengan baik, anak-anak ini berpotensi menjadi kasus stunting baru,” tandasnya.
Sementara itu, sebagai upaya pencegahan, DP3AKB telah merancang program pemberian telur harian kepada anak-anak sasaran. Program ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk Tim Pendamping Keluarga (TPK), untuk memastikan implementasi program berjalan efektif dan tepat sasaran.
“Program itu nanti akan dikawal oleh TPK kita. Mereka akan memastikan bahwa telur benar-benar dimakan oleh anak sasaran. Kami memilih telur karena mudah, praktis, dan kandungan nutrisinya baik untuk anak-anak,” jelas Ahmat.
Program pemberian telur ini dijadwalkan mulai berjalan pada tahun 2025. DP3AKB optimis, melalui program ini dan langkah-langkah lainnya, angka stunting di Lombok Timur dapat ditekan secara signifikan.
” Dengan sinergi berbagai pihak dan komitmen yang kuat,kita berharap upaya pencegahan stunting dapat menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan ” katanya. Li














