Masjid tidak hanya tempat shalat. Ia adalah nadi, ruang di mana pemberdayaan ummat dirajut dengan teliti dan sabar.
Di sanalah orang belajar. Mengaji, mengkaji, memahami Islam bukan sekadar bacaan semata, melainkan tingkah laku yang dijalankan.
Salah satunya adalah Masjid Hubbul Wathan Islamic Center di Nusa Tenggara Barat. Setiap subuh, seusai salam terakhir, kajian rutin menggema. Di saat kota masih lengang dan embun belum gugur, suara pencerahan dari para ustad dan ulama itu mengumandang — memberi nuansa yang khas bagi tanah yang memang religius ini.
Sebagai masjid terbesar di Kota Mataram, Hubbul Wathan adalah satu penanda. Ia memperkuat identitas NTB sebagai daerah yang taat beragama, mempertebal julukan Pulau Seribu Masjid dengan suasana yang sungguh Islami.
Arsitekturnya menjulang megah, tidak hanya memikat hati masyarakat lokal dan regional, tapi juga mengundang decak kagum warga dari berbagai negara. Yang datang bukan hanya Muslim, tapi juga non-Muslim yang ingin menyaksikan keindahannya.
Keunikan Masjid Hubbul Wathan terletak pada lima kubahnya. Ornamennya merangkum keragaman NTB — mengadopsi jiwa tiga suku besar: Sasak, Mbojo, dan Samawa, atau yang kita kenal sebagai Sasambo. Bangunan empat lantai ini disempurnakan oleh Menara setinggi 99 meter yang berdiri gagah, bermandikan cahaya lampu warna-warni dari senja hingga subuh.
Dari puncak menara yang dapat dijangkau dengan lift itu, Kota Mataram terbentang di bawah mata telanjang. Lamat-lamat, utuh, dan syahdu.
Masjid dengan lima menara ini telah dikunjungi ribuan wisatawan mancanegara. Dan, bila Jumat tiba, pemandangan itu menjadi biasa: wisatawan Muslim menunaikan shalat di masjid terbesar di NTB. Wisman yang beribadah di masjid-masjid Lombok kini bukan lagi hal yang langka.
Keunikan lain tersimpan di sudut bagian depannya: sebuah bedug raksasa, sumbangan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) NTB. Walau kini hanya menjadi pajangan dan tak lagi ditabuh, bedug itu adalah salah satu jejak — ia mencerminkan perjalanan panjang Islam di NTB, yang tumbuh di masjid dan langgar-langgar kecil.
Keramaian Hubbul Wathan mencapai puncaknya di bulan suci Ramadhan. Para dermawan berlomba menyalurkan sedekah untuk buka puasa hingga sahur. Pada sepuluh malam terakhir, pelatarannya berubah menjadi perkemahan ibadah yang besar, tempat ribuan jiwa berburu Lailatul Qadar dalam doa yang dipanjatkan.
Tak sedikit pula para mualaf yang memilih masjid ini sebagai saksi awal hijrahnya. Di sini, saat hidayah itu datang, keislaman mereka bermula dengan nuansa yang tak terlupakan.
Masjid Hubbul Wathan Islamic Center memiliki daya tarik yang luar biasa. Di sekelilingnya, fungsi ekonomi ikut tumbuh — ada UMKM di bawah naungan NTB Mall, ruang pamer produk terbuka, hingga aula yang bisa digunakan untuk resepsi pernikahan.
Namun demikian, ritual keagamaan tak pernah luntur ditelan keramaian.
Keindahannya tetap utuh, baik dalam riuh maupun lengang. Saat subuh yang sunyi, jalan panjang di sekeliling masjid menjadi lintasan olahraga para jamaah dengan mukena dan sorban yang melingkar — sebuah pemandangan yang hanya ada di sini, di jantung Pulau Seribu Masjid. riyanto rabbah














