Lombok Barat, DS-Ada kisah inspiratif datang dari Jamhur (55) warga Jerneng, Trong Tawah, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat. Hal berawal dari penawaran bermitra dengan salah satu pengembang perumahan yang mencari lahan untuk dijual namun lebih banyak menimbun rasa kecewa.
Lama menahan sabar dijanjikan keuntungan, bahkan justru ia banyak dikibuli, membuat Jamhur beralih profesi sebagai peternak yang dalam kesehariannya mencari pakan ternak berupa rumput di ladang kosong yang tak ditanami pemiliknya.
“Saat pekerjaan ini saya tekuni beberapa bulan, tiba-tiba ada kabar baik, jika pemilik kuda yang biasanya dipakai untuk transportasi tradisonal bagi wisatawan di kawasan wisata internasional membutuhkan pakan yang tak sedikit.Permintaan pakan ini hampir setiap hari, mengingat di kawasan tersebut tak tersedia rumput yang cukup untuk pakan kuda warga setempat,” kata Jamhur Rabu (13/5/2026).
Jamhur melihat peluang ini sangat menjanjikan untuk merubah haluan ekonominya menjadi lebih baik. Ladang rumput menghijau yang sering dianggap sebagai tumbuhan liar atau pengganggu pemandangan, dimaksimalkannya menjadi peluang bisnis menguntungkan.
Ia bersama rekan-rekannya yang memahami akan peluang usahanya ini berhasil disulapnya menjadi potensi bisnis yang menguntungkan. Rumput liar yang dipandang sebelah mata bagi banyak orang ternyata menjadi komoditas pakan ternak di kawasan wisata dunia yang ada di gili matra (gili air, meno dan gili terawangan).
Keyakinan untuk memulai dan mencoba peluang ini secara perlahan dijalani Jamhur.
Awalnya ia hanya mampu mengumpulkan 2 hingga 3 karung rumput sehari dibandrol dengan harga Rp25 ribu per karung.
“Jadi dapatnya Rp75 ribu per hari.Namun semua itu kita syukuri,” ujar Jamhur diamini rekan-rekannya yang lain.
Seiring dengan permintaan rumput yang semakin banyak, Jamhur akhirnya melibatkan istri dan anak-anaknya. Tak ayal dalam sehari ia bisa mengumpulkan rata-rata 9-10 karung. Bisa dihitung dalam sehari ia bisa meraup Rp250 ribu. Pendapatan yang cukup pantastis bagi seorang penyabit rumput dalam sebulan bisa dihitung sendiri cuan yang ia peroleh rata-rata 6-7 juta sebulan.
Untuk memenuhi banyaknya pesanan, Jamhur jug menambah tenaga kerja untuk mencari rumput dengan memanfaatkan peternak l di desanya.
Jamhur juga menceritakan, untuk mencari rumput harus di bernagai tempat. Bisa jadi di satu tempat rumputnya akan habis kalau terus-menerus disabit. Karena itu ia harus mencari rumput di wilayah lain atau di luar Labuapi.
“Kita juga bersaing mencari rumput dengan peternak-peternak asal Lombok Tengah. Mengingat para peternak dari Lombok Tengah juga biasanya mencari rumput hingga wilayah kita di Lombok Barat dengan menggunakan truk pengangkut,” tandasnya.
Ia menjelaskan, rumput-rumput yang sudah dikarungin untuk selanjutnya dibawa ke Tiga Gili. Pemborongnya datang sendiri untuk mengambil rumput. Di Tiga Gili harga jualnya tentu lebih tinggi karena dihitung juga dengan biaya penyeberangan.
Selain itu, untuk menjaga kualitas rumput yang bakal dijualnya, ia juga sewaktu-waktu memberikan pupuk kompos agar pertumbuhan rumput menjadi lebih subur dan kaya gizi yang dibutuhkan oleh ternak khususnya kuda di tiga Gili Lombok Utara. (adi)














