Mataram merupakan pusat pemerintahan Provinsi NTB. Alur sejarah menunjukkan Kota Mataram menjadi mozaik keberagaman kultur budaya yang sudah terpatri sejak masa lalu. Warga dari berbagaii komunitas suku bangsa berdatangan ke daerah ini, baik dari suku bangsa di Tanah Air seperti Bali dan Bugis maupun dari luar seperti Arab dan Tionghoa.
Karena itulah Kota Mataram mirip Indonesia kecil yang hidup dengan interaksi sosial berbagai kultur budaya yang membaur dengan sikap toleransinya yang tinggi.
Banyak jenis peninggalan bersejarah menjadi rekam jejak bahwa Mataram memiliki temali yang kuat dengan bangsa lain yang tidak terhapus hingga sekarang. Hal ini sekaligus menunjukkan keberterimaan masyarakat Kota Mataram yang berkembang dari waktu ke waktu.
Peninggalan yang cukup berarti seperti Kota Tua Ampenan, Taman Mayura dan berbagai tempat ibadah berbagai agama yang menjadi saksi sekaligus aset berarti. Hal tersebut menunjukkan bahwa kota ini memiliki modal kuat dalam menyambut wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri, terlebih didukung pula dengan potensi alam seperti pantai, sungai, kuliner, seni kerajinan dan lain-lain.
Setelah dibukanya Bandara Internasional Lombok yang kini bernama Bandara ZAM, Kota Mataram tidak lagi menjadi pintu gerbang utama masuk bagi wisatawan. Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Barat beralih sebagai pintu masuk wisatawan baik dari udara dan laut.
Namun, dengan daur hidup dan beraneka ragam kekayaannya, Mataram memiliki potensi besar untuk berkembang di sektor pariwisata, kendati pun wisatawan tidak menginjakkan kaki pertama di Kota Mataram.
Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Dr.Halus Mandala, M.Hum, mengakui trend wisatawan sementara ini adalah adventure dengan mencari tempat yang sunyi. Karena itu, banyak wisatawan menyasar obyek menarik yang bersifat alamiah dan sebagian besar berada di pedesaan.
“Orang kecenderungan datang mencari tahu apa yang ada di suatu wilayah dan keuntungan yang didapat serta seberapa banyak informasi sebagai pengalaman hidup. Karena, yang semakin banyak itulah yang dicari,” ungkapnya.
Kecendrungan wisatawan memiliki di pedesaan juga disebabkan ada trend desa. Wisatawan misalnya, ingin menginap bersama di desa dengan menyaksikan pula produk kehidupannya.
“Dengan trend homestay wisatawan punya kecenderungan ke desa,” ujar Halus Mandala.
Apakah Mataram memiliki pula potensi itu? Halus yakin Kota Mataram memiliki potensi tersebut. Persoalannya, Mataram kurang berpromosi bahwa di ibukota provinsi ini terdapat tempat menarik seperti aliran sungai dan obyek lain yang lebih lengkap sebagaimana alam pedesaan.
Oleh sebab itu, Kota Mataram harus bisa memberikan pilihan bahwa di kota pun ada homestay dengan harga terjangkau. Hal ini memerlukan keterlibatan intens pemasaran wisata dinas terkait termasuk pihak lain yang ingin menjadikan kota berkembang dengan kunjungan wisatawan.
Keberadaan Mataram yang memiliki sungai seperti Sungai Jangkuk yang bisa menjadi salah satu pilihan wisatawan, perlu membangun mindset penting bahwa sungai i bukan lagi berada di belakang akan tetapi sungai adalah muka bahkan mahkita Kota Mataran.
Jumlah destinasi yang bisa dikunjungi di Kota Mataram tidak kalah dengan kabupaten lain mengingat banyak potensi sepeeti budaya, seni kerajinan dan kuliner. Kota Tua Ampenan memiliki nilai tinggi untuk dipromosikan.
“Tinggal bagamana mengolah dengan kreativitas untuk menggarap dengan sungguh-sungguh.Mataram ini mozaik budaya berbagai suku bangsa yang patut diketahui sebagai cerita yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan,” katanya.
Berikut obyek wisata di Kota Mataram
Islamic Center
Kota Tua Ampenan dengan Pantai Ampenan dan Klenteng
Museum Negeri NTB
Taman Mayura
Teras Udayana
Taman Sangkareang
Loang Baloq
Pura Meru
Pantai Penghulu Agung
Jalan Pejanggik dengan Pohon Kenari
Pengrajin Emas Sekarbela
riyanto rabbah
