M Sabli Warga Desa Denggen Timur, Kecamatan Selong berhasil memanfaatkan pekarangan rumah yang terbatas jadi pundi-pundi rupiah, dengan membuka usaha pembibitan.
Meski lahannya sangat terbatas, namun menjadi sumber penghasilan baginya. Bahkan ia mampu memperkerjakan orang-orang di sekitar rumahnya. Meskipun jumlahnya hanya beberapa orang.
“Dulu tanah ini bekas kandang kambing dan sapi. Dan sudah lama tidak dimanfaatkan dibiarkan terbengkalai begitu saja,”tuturnya saat ditemui di tengah-tengah kesibukannya merawat bibit tanaman cabai miliknya, Kamis (12/6).
Ia menceritakan, usaha ini dikerjakan bermula karena bingung untuk memanfaatkan lahan kosong di samping rumahnya tersebut. Sehingga dengan pengalaman bekerja di pembibitan, ia nekat untuk membuka usaha pembibitan, meskipun terkendala modal.
Untuk memulai usaha tersebut, ia harus mencicil modal dari hasil bekerja di tempat lain dan sisa membeli kebutuhan pokok sehari-hari dan dibantu oleh adiknya.
“Kalau pembelian bahan untuk pembuatan Green house ini dibantu sama adik. Saya buat sendiri karena kita tidak punya uang untuk bayar tukang. Saya kerjakan sendiri malam sepulang kerja,” bebernya.
Meskipun usaha pembibitan miliknya belum terlalu besar seperti orang-orang. Namun omset yang didapatkan cukup besar. Jika permintaan sedang ramai, dalam seminggu ia bisa mendapatkan Rp 2-3 juta. Namun jika sedang sepi, berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.
Adapun harga bibit dijual bervariasi. Untuk bibit cabai lokal dijual dengan harga Rp 150 ribu per empat trai atau per seribu biji bibit. Sementara untuk cabai hijau dijual Rp 170 per empat trai. Sedangkan untuk tomat dijual dengan harga Rp 300 per empat trai.
Terong 65 per trai.
“Tapi kadang pembayarannya tidak langsung kita terima. Karena petani bayarnya saat benih sudah ditanam. Jadi pendapatan kita itu tidak menentu. Kalau Seandainya di bayar langsung, bisa kita dapat Rp 3-4 juta bahkan lebih dalan sekali pembenihan,” katanya.
Diakui pahit manis menjadi pengusaha benih telah dilalui. Seperti banyak benih yang tidak bisa tumbuh. Sementara benih cabai yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan ke perusahaan, kemudian benih yang kerdil, dan benih sudah melebihi waktu tanam.
Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah, justru dijadikan sebagai motivasi dan pelajaran. Karena setiap usah memiliki resiko sendiri dan pasti ada untung dan rugi. Menurutnya seorang penguasa harus memiliki mental kuat, untuk menerima resiko dari pilihan.
“Di bisnis pembibitan ini kita harus berani mengambil resiko. Meskipun tidak ada yang pesan kita harus tetap menyemai. Jadi tidak perlu menunggu ada yang pesan dulu baru kita menyemai,”ucapnya.
Proses penyemaian hingga siap ditanam membutuhkan waktu sekitar 3-4 Minggu. Permintaan benih di Kecamatan Selong dan sekitarnya diakui cukup tinggi. Tidak jarang benihnya habis di pesan petani.
Hanya saja saat ini ia masih terkendala modal untuk mengembangkan usaha tersebut, modal yang dimiliki saat ini belum mampu untuk diputar 2-3 kali. Sehingga untuk menyiasati hal tersebut ia kembali mencicil hasil kerja yang lain.
“Saya tetap kerja di luar, kalau benih ini di kerjakan malam sepulang kerja. Kalau isi tanah dan masukan tanah saya pekerjaan tetangga sekitar. Mudah-mudahan besok bisa kita kembangkan lagi menjadi lebih besar ke samping sehingga orang yang bekerja lebih banyak lagi,” Imbuh Subli.li














