M. Zulfiandi, Dari Aktivis Jadi Pelukis

banner 120x600

M Zulfiandi merupakan salah satu seniman lukis yang cukup terkenal  khususnya di Lombok Timur. Karyanya banya diminati para penyinta lukisan. Meski sebelumnya tidak memiliki bakat melukis atau hanya belajar secara otodidak,  karyanya populer hingga sering berperan sebagai guru lukis.

Teras rumahnya sekaligus menjadi sanggar lukis yang banyak didatangi pengunjung dan anak anak yang rutin belajar melukis. Sanggar ini sekaligus menjadi sejarah perjalanan Zulfiandi sebagai seorang pelukis di Lotim.

Sanggar Naluri yang beralamatkan di Dusun Pungkang Lauk, Desa Aikmel Barat ini hampir tidak pernah sepi anak-anak yang belajar melukis setiap Minggu.

Ia menceritakan awal menekuni seni lukis sekitar tahun 2012 lalu. Waktu itu dia aktif mengikuti berbagai pameran. Sebelumnya tidak memiliki ilmu melukis bahkan tidak memiliki ilmu dan bakat di bidang melukis sama sekali. Semuanya ia pelajari secara otodidak.

“Tahun 2019 itu saya mulai kenal dengan pelukis-pelukis senior di Lotim. Salah satunya pak Senin Apriadi dan ibu Anah. Saya ngobrol-ngobrol dan melihat cara mereka melukis. Cuman begitu saja cara saya belajar,” ungkap M Zulfiandi, Kamis (01/05).

Ia mengaku sering mendatangi pelukis-pelukis di Lombok Timur untuk belajar dan diskusi tentang lukisan dan belajar dari pameran pameran lukisan yang pernah diikuti bertahun tahun. Setelah itu ia baru bisa percaya diri untuk membuat sebuah karya lukisan.

Sebelum bergelut di dunia lukisan, Zulfiandi aktif sebagai seorang aktivis di organisasi pergerakan. Aktivitas dan hobinya berubah 100 derajat setelah melihat karya pelukis dan belajar secara otodidak. Meskipun waktu itu masih belajar, ia sudah mulai mengajar melukis di salah satu TK di Kecamatan Sakra.

“Meskipun masih belajar, saya diminta mengajar melukis oleh senior-senior saya di TK. Karena waktu itu, TK sangat aktif untuk mengikuti berbagai lomba mewarnai,”tuturnya.

Kemudian tahun 2018, Zulfiandi memutuskan untuk membuat sanggar seni lukis di rumahnya. Hal ini dilakukan untuk mengangkat seni lukis di Kecamatan Aikmel, khususnya di desa Aikmel Barat. Karena minat masyarakat terhadap seni lukis sangat minim.

Seni lukis dianggap menjadi ilmu yang tidak bermanfaat dan menjadi pelukis dinilai tidak memiliki masa depan cerah. Sehingga masyarakat tidak tertarik dengan melukis. Bahkan hingga sampai saat ini masyarakat dari desa Aikmel sendiri masih kurang tertarik dengan lukisan.

“Sebagian besar yang datang belajar di sanggar seni ini merupakan anak-anak dari luar kecamatan. Seperti Selong, Pringgasela, Sikur, Sakra dan lainnya. Justru yang dari kecamatan Aikmel hanya satu orang,” katanya.

Setiap ada lomba mewarnai tingkat TK di Lotim, yang kerap mendapat juara ialah anak muridnya di sekolah-sekolah. Hal inilah yang menguatkannya untuk membuat sanggar lukis untuk mengajar melukis anak-anak di Aikmel.

Sejauh ini hampir puluhan sekolah TK-SD telah diajarkan untuk melukis di Lotim. Bahkan kerap diminta untuk mengajar di Lombok Tengah (Loteng) dan Mataram. Namun permintaan itu ditolak karena jadwal terlalu padat.

“Sampai Mataram kami diminta untuk mengajar, tapi di Lotim ini kalau sudah ramai itu full setiap hari. Apa lagi hari Minggu, kita mulai mengajar itu dari pagi sampai sore,”ujarnya.

Setidaknya puluhan anak-anak didiknya telah berhasil menyabet prestasi mewarnai, mulai tingkat kabupaten hingga tingkat Nasional. Dalam mengajar melukis ini ia dibantu oleh salah satu orang siswanya.

Selain aktif melukis dan mengajar melukis, dirinya juga aktif mengajar di salah satu MA di Lotim sebagai guru honorer. Selama ini berbagai lukisan miliknya habis terjual. Lukisan miliknya lebih kepada aliran Surealis atau lukisan yang bercerita tentang gambar yang tidak ditemukan di dunia nyata. Seperti kuda menari dengan manusia, wayang berbicara dengan manusia, bunga di atas awan dan lainnya.li