PAMERAN lukisan. “Mengurai Kebekuan” yang berlangsung di Taman Budaya NTB hingga 30 Oktober 2025, merekan denyut nadi kehidupan masyarakat suku bangsa Sasak.
Adalah Lalu Syaukani, pelukis generasi kedua di Lombok, menampilkan dua karya yang bernuansa Sasak. Tradisi adiluhung diurai berbenturan dengan arus kehidupan global yang bisa disaksikan tidak hanya secara langsung melainkan juga melalui layar sentuh.
Karya itu diberi judul “Procetion”, tentang denyut kehidupan tradisi yang terus berputar ditengah pusaran global. Sebuah ritus perjalanan kolektif yang menyatukan manusia dengan akar leluhur, tanah dan waktu.
Dalam setiap warna, garis dan bentuk tersimpan nuansa yang meneguhkan identitas diri disaat globalisasi menipiskan batas- batas makna tradisi.
“Procetion” menjadi metafora tentang identitas budaya, bagaimana sebuah komunitas masyarakat mempertahankan ritusnya tanpa kehilangan kemampuan untuk beradaptasi, terus bergerak menuju keseimbangan baru antara globalisasi dan jati diri lokal.
Terdapat juga karya lainnya, yakni “PenariTerakhir”. Sosok penari ini seakan-akan menjadi potensi satu-satunya yang masih tersisa.
Namun, dalam pusaran dunia yang kian bergerak cepat, di mana tradisi sering kali larut dalam arus globalisasi, ia menari — dengan tubuh yang menjadi perlawanan, dan gerak yang menjadi doa.
“Penari Terakhir bukan sekadar sosok yang melestarikan tari, tetapi juga lambang dari perlawanan sunyi terhadap hilangnya makna, ” kata pelukia kelahiran Lombok Tengah, Lalu Syaukani.
Syaukani menggambarlan tubuh yang menanggung warisan masa silam. Setiap gerak adalah bahasa leluhur yang lahir dari tanah, angin, dan ritme kehidupan yang alami. Dalam diamnya tersimpan kesetiaan terhadap nilai-nilai budaya yang kian terpinggirkan oleh citra modernitas.
“Ia menari bukan untuk panggung, tetapi untuk menjaga keseimbangan antara masa lalu dan masa kini — antara akar tradisi dan bayangan dunia yang serba cepat, ” ujar Syaukani.
Lukisan Syaukani menjadi perenungan akan posisi manusia di tengah perubahan zaman. Bahwa di balik gemerlap modernitas, masih ada jiwa-jiwa yang bertahan menjaga nyala nilai-nilai luhur, seperti Penari Terakhir yang menolak tunduk pada waktu.
Dalam dirinya, tradisi menemukan napas baru, dan geraknya menjadi jembatan antara yang purba dan yang modern — antara keheningan dan harapan yang tak pernah padam.ian
