Nanas Penggerak Ekonomi Masyarakat Lendang Nangka

Lombok Timur, DS-Hamparan perkebunan nanas membentang di sepanjang jalan utama Kecamatan Masbagik, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Desa Lendang Nangka.

Pemandangan hijau dengan buah kuning keemasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung sekaligus penggerak utama perekonomian warga setempat.

Nanas yang tumbuh subur di desa ini memiliki ukuran beragam, rata-rata berbobot 2 hingga 3 kilogram per buah. Harga jualnya pun terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp75 ribu tergantung jumlah ikat.

“Kalau yang besar biasanya satu ikat berisi 5 biji dan jika buahnya kecil, satu ikat berisi 10 biji,” ujar Fahrozihin (36), salah satu pedagang nanas, Selasa (/13//10/2026).

Dengan cekatan ia mengupas nanas hingga bersih, memperlihatkan kesegaran buah khas Lombok Timur ini.

Rasa manis yang menjadi ciri khas nanas Masbagik menjadikannya pilihan utama berbagai hotel di Lombok. Sebagian besar penduduk Desa Lendang Nangka Utara berprofesi sebagai petani nanas. Dari total petani yang ada, sekitar 3.654 orang menanam nanas dengan total produksi mencapai 4 ribu hingga 6 ribu ton setiap tahun.

Dengan luas lahan mencapai 900 hektar, Desa Lendang Nangka Utara telah lama menjadi sentra penghasil nanas dan tulang punggung ekonomi masyarakat. Inaq Rohmi, seorang pengepul nanas dari Pagutan, Mataram, menuturkan bahwa ia mewarisi kebun nanas dari kakeknya yang sudah berkebun sejak tahun 1960-an.

“Nanas menghidupi kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya bangga. Menurutnya, bibit nanas yang diberikan pemerintah sejak lama mendorong pengembangan ekonomi kawasan sekitar taman nasional.

Bentang alamnya yang berbukit dan berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Rinjani menambah pesona desa yang terbagi ke dalam 12 dusun ini. Nanas bukan sekadar komoditas, melainkan warisan dan sumber kehidupan. Kini, nanas Masbagik menjadi komoditas andalan dan simbol kemandirian warga Desa Lendang Nangka Utara. (adi)

Exit mobile version