Mataram, DS-Mengutip ungkapan yang lagi populer tentang situasi yang “tidak baik-baik saja”, ternyata kesan itu termasuk di dalamnya menerpa sektor pariwisata. Tanpa sadar, industri tanpa asap dilanda toxic dengan berbagai jenis yang memerlukan penangkal.
“Kita harus membalik keadaan menjadi baik baik saja, Dan NTB masih baik-baik saja, ” kata Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Dharma Putra, Selasa (29/10)..
Mengisi Kuliah Umum bertema “Toxic Tourism and Detox Destination” di hadapan mahasiswa dan dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Prof. Dr. Dharma Putra, menyontohkan toxic itu banyak terjadi di Bali.
Pengertian toxic, menurutnya, tak cuma pada lingkungan tapi juga sosial budaya seperti pelanggaran moral etika.
“Polusi tidak cuma pada lingkungan. Pun penggunaan ruangan yang tidak sesuai kapasitas,” kata Dharma Putra.
Ia menyebut toxic di antaranya meliputi terjadinya over tourism, arena bisnis narkotika, tidak menghormati budaya lokal, kriminalitas, penipuan, dan daya dukung lingkungan.
Di Bali sebagai barometer pariwisata di Indonesia sudah terjadi polusi lingkungan dan budaya. Prilaku turis yang seenaknya menaiki tempat suci, telanjang di tempat umum, tak patuh aturan, merupakan bentuk toxic akibat ketidaktahuan. .
“Selama ini kita mendatangkan wisatawn tapi lupa mengantisipasi hal seperti itu. Terdapat turis yang stress dan telanjang. Kelakuan wisatawan yang tak takut mukul petugas saat ditegur tak pakai helm. Ini salahnya kita, ” paparnya.
Lantas bagaimana proses mengurangi racun itu? Dharma Putra mengemukakan perlunya detox melibatkan berbagai pihak. Ketika pariwisata dibuat untuk mendatangkan wisatawan sebanyak maka pariwisata dibuat sebaik mungkin.
Menurutnya, detox merupakan sistem kontrol dan pengendalian agar toxic tidak menyebar luas.
“Dalam dunia pariwisata detox sudah menjadi hal mendesak dilakukan. Kalau tidak, akan banyak racun dan kita pasti tidak mau,” katanya seraya menambahkan bahwa turis juga harus diberikan pengetahuan untuk sensitif.
“Kalau ingin pembangunan pariwisata berkelanjutan maka perlu menjaga dengan detox, ” tambahnya.
Akibat toxic, kata dia, Maya Beach di Thailand yang tiap hari penuh kunjungan ditutup. Maya Beach hanya berkapasitas 2000 namun didatangi 4,6 ribu. Philipina juga mengalami hal serupa melalui detok penutupan. Setelah beberapa lama pantai itu baru dibuka kembali. Langkah ini hanya salah satu formula detox untuk kemudian dilakukan pembatasan.
Ia mengatakan sektor pariwisatan sudah saatnya mengantisipasi berbagai toxic yang tidak hanya bersumber dari dalam melainkan juga yang dibawa wisatawan. Antisipasi ini diperlukan agar sikap yang dilakukan tidak seperti pemadam kebakaran. Ian
