Pasar Lokal Digagas Ibu – ibu PEKKA Di Jenggik, Tawarkan Aneka Jajan Tradisional

Pasar lokal ibu-ibu PEKKA di Desa Jenggik.

Selong, DS- Pasar Lokal yang digagas sekelompok ibu-ibu yang tergabung dalam Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Desa Jenggik, LombokTimur, berhasil membangkitkan prekonomian ibu-ibu, khususnya ibu-ibu lansia. Pasar ini juga menarik perhatian banyak orang.

Pasar yang digagas Ibu – ibu PEKKA ini berbeda dengan pasar pada umumnya ataupun CFD. Pasar lokal ini cukup menarik dan hanya menjual makanan-makanan tradisional mulai dari Lontong, urap-urap, serabi, kelepon, bubur, pencok dan berbagai macam makanan tradisional yang lain, yang sudah mulai jarang ditemukan di pasaran.

Koordinator wilayah PEKKA Desa Jenggik, Baiq Winar Ningsih, mengatakan pasar lokal ini baru terbentuk dan berjalan tiga bulan yang lalu. Pasar lokal ini merupakan salah satu program dari yayasan PEKKA Desa Jenggik, yang diharapkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Baru tiga bulan berjalan. Alhamdulillah sejak dibukanya pasar lokal ini selalu ramai dan diserbu masyarakat, baik dari dalam desa maupun dari luar desa,” terang Baiq Winar, Sabtu (19/10).

Pasar lokal menjadi salah satu langkah untuk memberdayakan dan meningkatkan perekonomian perempuan yang menjadi kepala keluarga di desa Jenggik. Sehingga sebagian besar yang berjualan di pasar lokal ini adalah ibu-ibu lansia dan para janda yang saat ini menyandang sebagi kepala keluarga.

Sebelum adanya pasar ini, sebagian besar ibu-ibu ini berjualan keliling desa dengan berjalan kaki. Ada yang ke pasar, bahkan banyak juga yang tidak bisa bekerja. Namun, semenjak adanya pasar ini diakui, mampu mendongkrak perekonomian masyarakat dan membantu para janda yang selam ini tidak memiliki pemasukan.

“Meskipun hanya sekali dalam seminggu, tetapi hasilnya luman banyak. Bahkan semenjak adanya pasar lokal ini ibu-ibu ini semakin kreatif,” ucapnya.

Jumlah ibu-ibu yang berjualan pasar lokal ini hanya 15 orang. Semuanya adalah anggota PEKKA. Kendati demikian, siapa saja diperbolehkan untuk berjualan di pasar ini, tidak meski harus menjadi anggota PEKKA. Makanan yang dijual diakui memang hanya makanan tradisional dan sederhana. Tetapi hasil yang didapatkan lumayan banyak.

Pasar lokal ini buka hari Minggu mulai pukul 06:00 Wita -08:30 Wita dan sudah menjadi wisata kuliner di Desa Jenggik yang ramai dikunjungi setiap Minggu pagi. Dalam sehari satu orang bisa mendapatkan omzet mulai dari Rp 500 ribu- Rp 1 juta lebih. Bahkan tidak jarang para pedagang kehabisan setok.

“Bahkan ada salah satu pedagang pelecing itu sampai dua tiga kali dia harus buat. Ini memang pertama kali ada di Desa Jenggik, makanya dia rame. Bahkan kami juga disuruh untuk jangan hanya di hari Minggu saja,” katanya.

Bukan hanya menjual makanan, ibu-ibu ini juga menjual sayur mayur. Di mana sebelumnya sayur mayur yang ditanamn hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Keberadaan pasar lokal ini sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat khususnya ibu-ibu anggota PEKKA sendiri.

Inovasi ibu-ibu PEKKA  saat ini telah mendapatkan respons positif dari pemerintah desa (Pemdes) setempat. Ke depan pasar lokal ini akan dibuat menjadi wisata kuliner tradisional. Pihak desa juga siap mendukung dengan memberikan bantuan meja dan payung dagang.

“Alhamdulillah desa siap membantu, saat ini sedang proses pengajuan pembelian meja lipat dan payung. Semoga ada pihak-pihak lain juga nanati yang ikut membantu ibu-ibu ini,” katanya.

Di yayasan PEKKA tersebut, ibu-ibu juga diberikan pendampingan dan pelatihan mulai dari pembuatan makanan, pembuatan kerajinan, pendampingan untuk pemenuhan hak dasar, baik untuk mendapatkan kesehatan, pelayanan dasar Adminduk dan layanan lainnya.

Baiq Winar berharap, pasar lokal ini akan tetep eksis, agar para Ibu-ibu yang sebagian besar adalah para lansia dan menjadi kepala keluarga ini dapat meningkatkan perekonomian mereka dan mereka lebih produktif di masa tua ini. Sehingga ibu-ibu ini tidak hanya menunggu bantuan dari pemerintah saja.li

Exit mobile version