Peninggalan Belanda di Lombok Potensial Jadi Destinasi Wisata

Bratayasa, M.Par

Mataram, DS-Kehadiran Belanda yang  sempat bercokol di Indonesia selama 350 tahun, menyisakan peninggalan yang tidak sedikit. Di Pulau Lombok. peninggalan bersejarah itu masih nampak berdiri kokoh berupa bangunan tua, gapura, saluran irigasi, jembatan gantung, meriam,  alat pertanian tradisional, dan lain-lain. Peninggalan bersejarah ini potensial sebagai destinasi wisata.

Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Bratayasa M.Par., mengatakan  peninggalan bersejarah  menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan dalam menyedot kunjungan wisatawan. Di sana terdapat jejak-jejak yang perlu dipahami setiap wisatawan sebagai story teeling.

Jejak-jejak kolonial dari negeri kuncir angin itu tersebar di beberapa desa di Lombok. Selain Ampenan dengan pelabuhan dan bangunan tuanya yang telah sangat dikenal, sejumlah desa wisata seperti Bonjeruk, Batu Kumbung dan Suranadi menyimpan historis kehadiran Bangsa Belanda yang masih  terpelihara hingga sekarang.

Salah satu Gapura peninggalan Belanda

Selama ini, upaya menggarap sektor pariwisata sangat besar dialokasikan untuk sport tourism dengan mengundang para pembalap dari berbagai negara dengan investasi arena balapan di Mandalika yang begitu besar.  Sedangkan peninggalan masa lalu seakan-akan hanya bagian dari kegiatan tersebut sehingga wisatawan kadangkala tidak fokus menelusuri pesona destinasi wisata lainnya.

Bratayasa mengakui jika melihat minat wisatawan ke Pulau Lombok, sementara ini memang masih cenderung digugah oleh pesona alam seperti partai, pegunungan dan persawahan yang membentang. Wisatawan minat khusus menempati posisi yang relatif kecil.

Sedangkan dari aspek asal wisatawan, kata dia, Australia dan Swiss masih menempati posisi tertinggi dibandingkan wisatawan Belanda. Namun, kata dia, hal itu bukan berarti mengabaikan potensi yang sudah ada karena bisa jadi hal itu diakibatkan ketidaktahuan wisatawan saja.

Kata Bratayasa, peninggalan kolonia Belanda sangat layak dijadikan daya tarik bagi wiatawan jika dipadukan dengan  poteni lokal seperti kuliner dan budaya. Bahkan di tiga desa sepeti Suranadi, Batu Kumbung dan Bonjeruk, layak dijadikan satu kesatuan perjalaan wisata.

“Dengan magnet ini kita berharap wisatawan Belanda tertarik ke Lombok,” katanya.

Menurutnya, ketertarikan wiatawan Belanda untuk datang ke Indonesai sangat tinggi disebabkan pula oleh perlakuan Bangsa Indonesia terhadap peninggalan masa lalu mereka. Di Lombok, kata Bratayasa,   makam Jendral Van Ham dibangun megah yang menjadi perbincangan hangat warga Belanda yang datang ke Lombok.

“Ini saja sudah meikat hati mereka,” cetusnya. Ian

Exit mobile version