Mataram, DS-Rejuvinasi Pasar Seni Senggigi merupakan strategi penting dalam upaya menghidupkan kembali daya tarik kawasan Senggigi sebagai destinasi wisata budaya unggulan di Nusa Tenggara Barat. Upaya ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik semata, seperti perbaikan infrastruktur, renovasi kios, dan penambahan elemen estetika budaya, tetapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi dan kultural secara terpadu.
Hal itu merupakan kesimpulan Dr. Sri Susanty, yang disampaikan dalam Pidato Ilmiah pada Wisuda XXVI STP Mataram, 25 November 2025. Doktor pariwisata satu-satunya di NTB itu memberi judul Orasi Ilmiahnya “Dari Pasar Seni ke Pusat Budaya: Model Rejuvinasi Destinasi Wisata Senggigi”.
Menurut dosen STP Mataram ini, melalui penguatan atraksi budaya seperti pertunjukan seni rutin, pameran kriya dan lokakarya interaktif, pasar seni dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, edukatif, dan representatif terhadap kekayaan budaya lokal.
“Pendekatan ini diperkuat dengan penerapan manajemen profesional, rebranding destinasi, dan promosi digital berbasis media sosial yang menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan generasi muda,” katanya.
Dr.Sri Susanty mengemukakan rejuvinasi yang melibatkan komunitas lokal secara aktif dalam pengelolaan dan promosi mendorong rasa memiliki dan pemberdayaan masyarakat, sehingga menciptakan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Kolaborasi dengan sektor swasta melalui kemitraan dan pemanfaatan program CSR juga menjadi pilar penting dalam mendukung pembiayaan, inovasi dan keberlangsungan program rejuvinasi ini.
Dengan demikian, kata dia, rejuvinasi Pasar Seni Senggigi bukan hanya sebagai proyek fisik semata, tetapi merupakan transformasi menyeluruh menuju destinasi budaya yang berkarakter, partisipatif, dan kompetitif, yang mampu memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan budaya secara berkelanjutan bagi masyarakat Lombok Barat dan NTB secara umum.
“Rejuvinasi Pasar Seni Senggigi bukan hanya tentang memperbaiki sebuah ruang, tetapi tentang membangkitkan kembali denyut budaya, kreativitas, dan identitas kolektif kita sebagai masyarakat Lombok,” katanya.
Upaya ini menegaskan bahwa destinasi wisata tidak akan pernah benar-benar hidup tanpa keterlibatan masyarakat, tanpa penghargaan terhadap budaya lokal, dan tanpa visi berkelanjutan yang melampaui kepentingan jangka pendek.
“Semoga gagasan dan semangat pembaruan ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi bagi masa depan pariwisata yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berbudaya,” ujar Sri. ian














