Sembilan Hari Wafatnya Datok Bagu, Ribuan Keluarga Besar Kemenag NTB Larut dalam Zikir dan Doa

banner 120x600

LOMBOK TENGAH,DS– Ribuan keluarga besar Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB larut dalam doa dan zikir untuk mengenang wafatnya Almagfurulah Datok TGH. L. Turmudzi Badaruddin.

Massa terdiri dari ASN, PPPK, tokoh agama, guru dan tenaga kependidikan madrasah, tokoh masyarakat, santri hingga siswa madrasah tumpah ruah mengikuti Doa dan Zikir Akbar di Bagu, Lombok Tengah, Jumat (23/10). Kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan hari kesembilan wafatnya ulama kharismatik NTB tersebut. Suasana khidmat begitu terasa.

Ribuan peserta dari berbagai daerah dan satuan kerja Kemenag NTB bersama-sama melantunkan zikir, membaca doa, serta memohon kepada Allah SWT agar almarhum mendapat ampunan, rahmat dan tempat terbaik di sisi-Nya.

Kepala Kanwil Kemenag NTB Dr. H. Zamroni Aziz, S.HI., M.H., hadir bersama jajaran Kemenag dari berbagai kabupaten/kota. Hal itu, sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan duka atas wafatnya tokoh yang dinilai memiliki jasa besar terhadap perkembangan pendidikan Islam dan pesantren di NTB.

Dalam sambutannya, Zamroni menegaskan bahwa Datok TGH. L. Turmudzi Badaruddin bukan hanya milik keluarga besar Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu maupun organisasi keagamaan tertentu. Sosok almarhum, kata dia, telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat NTB.
“Almarhum Datok Bagu, Tuan Guru Haji Lalu Turmudzi Badaruddin, bukan hanya milik Qomarul Huda, bukan hanya milik Nahdlatul Ulama, tetapi beliau milik seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” ungkap Zamroni.

Menurutnya, almarhum merupakan sosok guru sekaligus orang tua bagi banyak kalangan. Keteladanan itu terlihat dari keikhlasan, keterbukaan dan pengabdiannya kepada masyarakat tanpa melihat pangkat, jabatan maupun latar belakang seseorang. “Beliau orang yang ikhlas. Siapa pun yang datang, mau punya pangkat, punya jabatan atau tidak, beliau temui dan beliau layani dengan sama,” tuturnya.

Zamroni mengaku memiliki banyak kenangan selama berinteraksi dengan almarhum. Salah satunya ketika terlibat dalam sebuah kegiatan di Sumbawa Barat. Dari berbagai pertemuan tersebut, ia melihat langsung bagaimana almarhum menjadi sosok yang ramah dan terbuka terhadap siapa pun.

Bahkan, menurut Zamroni, keteladanan Datok Bagu tidak hanya dirasakan oleh umat Islam. Almarhum juga dikenal menerima tamu dari berbagai latar belakang agama dengan penuh penghormatan dan persaudaraan.

Sikap tersebut, lanjutnya, menjadi teladan bahwa seorang ulama tidak hanya diukur dari kedalaman ilmu agama. Lebih dari itu, seorang ulama juga dituntut mampu membangun persaudaraan, menebarkan kebaikan dan menghadirkan kesejukan di tengah masyarakat.“Beliau memberikan keteladanan yang luar biasa. Kita tidak hanya mengenang ilmu dan perjuangannya, tetapi juga bagaimana beliau melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan,” katanya.

Zamroni menegaskan, keluarga besar Kemenag NTB merasakan kehilangan yang sangat besar atas wafatnya Datok TGH. L. Turmudzi Badaruddin. Sebagai bentuk penghormatan, Kemenag NTB sebelumnya telah menginstruksikan pelaksanaan salat gaib bagi keluarga besar madrasah dan jajaran Kemenag di berbagai wilayah NTB.

Instruksi tersebut mendapat respons luas dari berbagai satuan pendidikan dan unit kerja Kemenag. Menurut Zamroni, hal itu menjadi bukti kuat bahwa sosok Datok Bagu memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat NTB.
“Semoga seluruh kehadiran kita dalam kegiatan doa dan zikir ini dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT. Ini juga menjadi bentuk penghormatan kita atas jasa dan perjuangan beliau,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, Datok TGH. L. Turmudzi Badaruddin juga memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan Islam dan pondok pesantren di NTB. Perjuangannya dalam membina santri dan mengembangkan lembaga pendidikan pesantren dinilai telah memberikan kontribusi terhadap lahirnya generasi berilmu dan berakhlak.

Karena itu, Zamroni mengajak seluruh kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, ASN dan PPPK Kemenag NTB untuk tidak berhenti pada kegiatan mengenang. Semangat dan perjuangan almarhum harus diteruskan melalui kerja nyata dalam memajukan pendidikan dan kehidupan keagamaan. “Semoga kita bisa mengikuti jejak perjuangan beliau yang luar biasa gigih dalam memperjuangkan madrasah dan pondok pesantren,” tegasnya.

Doa dan zikir akbar tersebut akhirnya bukan sekadar momentum mengenang sembilan hari wafatnya Datok Bagu. Kegiatan itu juga menjadi ruang refleksi bagi keluarga besar Kemenag NTB untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan, keikhlasan dan pengabdian yang telah diwariskan almarhum.

Di tengah suasana duka, ribuan peserta menyatukan doa. Mereka berharap perjuangan Datok TGH. L. Turmudzi Badaruddin dalam membangun pendidikan Islam dan pesantren di NTB terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. (*)