Ketika gelap rada tersingkap, kilau sinar matahari perlahan mengelupas dingin, para pejalan kaki mulai membelah pagi. Arena parkiran penuh, jalan mulai sesak.
Secepat itu suasana berubah walau tanpa dipanggil. Orang-orang datang dari berbagai penjuru dengan rasa bebasnya. Tidak ada beban menyusuri 1 kilometer jalan.
Car free day Udayana Kota Mataram membawa mereka yang sendiri seperti bersama, mereka yang berombongam dengan kawan atau keluarga kian gembira. Inilah minggu pagi yang telah membuat harapan sejak malam tadi.
Pasar memang tidak perlu seharian untuk membangun kenangan. Transakai jual beli sambil berolah raga cukup dua tiga jam saja. Hiruk pikuk yang menyenangkan dengan warga berbagai usia bersatu padu menikmati suasana pagi sambil menyapa.
Dahulu Teras Udayana bernama Pasar Tani. Para pedagang datang dengan hasil pertanian namun minim pembeli. Pelan pelan sepi beberapa tahun lamanya walau gubernur berganti.
Kini sepanjang jalan ramai pedagang dengan produk yang terus berkembang. Jalan aspal pun penuh sesak dan dinikmati bersama oleh para pengunjung dengan ragam kepentingan.
Tradisi Minggu pagi di Teras Udayana telah menjadi bagian dari denyut nadi masyarakat Kota Mataram yang dibuka tanpa tiupan peluit maupun pengguntingan pita. Dia hadir, hidup dan bertumbuh bersama pergantian hari.
Car free day Udayana melahirkan wirausahawan muda dengan kulinernya yang semula tak ada, atau anak anak bersepatu roda yang lihai meluncur seperti sudah dewasa. Sesekali suara penyanyi menggetarkan hati di sela-sela para pejalan kaki.
Ribuan orang tumpah dalam beberapa jam, menikmati hidangan seperti hari yang tidak biasa. Mereka pun membawa pulang belanjaan seakan akan membawa kenangan Minggu besok akan datang lagi. Rr
