YSM Gelar Maulid Nabi Lewat “Ngaji Budaya”

Saat Perayaan Bertemu Refleksi

banner 120x600

SELONG, DS – Yayasan Swadaya Membangun (YSM) menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Suryawangi, Lombok Timur, Senin (31/8).

Berbeda dari kemeriahan Maulid pada umumnya, peringatan kali ini dikemas dengan cara yang berbeda. Tidak ada tabuhan hadrah semata. Di Suryawangi, Maulid diisi dengan lantunan puisi dan ruang diskusi dinamis bertajuk “Ngaji Budaya”.

Hadir dalam acara tersebut pendiri YSM, Dr. H. Moch. Ali Bin Dachlan, bersama sejumlah tokoh masyarakat.

Tiga narasumber utama mengurai hikmah dari sudut pandang berbeda. Dari aspek budaya hadir Amaq Tepupu, yang akrab disapa Guru Muhir. Dari aspek agama diisi TGH. Abdul Latief. Sementara Ali BD bertindak sebagai pembedah kritis.

Perayaan Maulid dengan Ngaji Budaya

Guru Muhir: Jangan Hanya Megahkan Masjid, Lupakan Manusia

Guru Muhir menyoroti kontradiksi yang sering terjadi tidak hanya saat Maulid melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tempat ibadah dibangun semakin megah bertingkat tingkat. Tapi di sisi lain, ada wajah kemiskinan yang seolah kita biarkan berlalu,” ujarnya.

Menurutnya, inilah saatnya Maulid menjadi momentum transformasi agar nilai-nilai spiritual tidak berhenti pada ritual, tetapi turun menjadi kepedulian nyata kepada sesama.

TGH. Abdul Latief: Maulid Adalah Ekspresi Cinta

TGH. Abdul Latief mengajak jamaah menyelami kisah kelahiran Nabi.
“Di zaman Jahiliyah, lahirnya anak perempuan dianggap musibah. Tapi Islam datang mengangkat dan memuliakan kaum perempuan,” katanya.

Beliau juga mengisahkan bagaimana Abdul Muthalib menyambut kelahiran Rasulullah dengan tawaf di Ka’bah dan menyembelih dua ekor kambing. Bahkan Abu Lahab, yang kemudian menjadi penentang dakwah, diringankan siksaannya setiap hari Senin karena pernah gembira atas kelahiran Nabi.

“Kalau hari ini kita tidak bergembira dengan kelahiran Nabi, maka iman kita sedang ‘konslet’,” tegasnya.

Bagi TGH Latief, Maulid adalah bentuk cinta. Dan cinta harus dirayakan.

Ali BD: Jangan Saling Memarahi Soal Cara Merayakan

Ali BD mengingatkan agar umat tidak terjebak pada perdebatan “bid’ah atau tidak”nya perayaan Maulid Nabi.

“Jangan memarahi orang yang bilang Maulid itu bid’ah. Begitu juga jangan mencibir cara orang Bayan merayakan Mulud dengan adatnya. Karena itu jati diri orang Sasak,” tuturnya.

Yang lebih penting, kata Ali, adalah membaca realitas umat hari ini. Ia menyoroti fenomena 1,3 miliar orang di dunia yang memilih menjadi ateis.

Dalam konteks Al-Quran memerintahkan ummat untuk ‘Bacalah’, kata dia, makna ‘membaca’ di sini bukan hanya harfiah. “Tapi berpikir, merenung, dan memahami zaman,” jelasnya, mengutip pemikiran seorang orientalis.

Acara ditutup dengan dialog hangat antara narasumber dan audiens. Pembacaan puisi di awal dan pemaparan yang penuh renungan mengingatkan bahwa mencintai Nabi bukan hanya dengan lisan, tapi juga dengan tindakan.ian