Selong, DS- Suhaelan menjadi satu-satunya siswa berkebutuhan khusus di MTs Maraqitta’limat Tembeng Putek, Kecamatan Wanasaba Lombok Timur (Lotim).
Suhaelan mengalami kaki tidak sempurna sejak berumur dua tahun sehingga membuatnya tidak bisa berjalan normal. Namun kondisi itu tidak membuat Suhaelan Patah semangat untuk tetap bersekolah.
Suhaelan saat lahir dengan keadaan normal. Tidak ada keluhan kesehatan. Kondisinya mulai berubah saat menginjak usia dua tahun.
“Dia lahir normal dan sehat bahkan gemuk, tetapi saat dia berusia dua tahun dia mulai sakit-sakitan, kakinya tiba-tiba sakit dan lumpuh,” terang Jawahir, Ibu Suhaelan, Saat ditemui di Rumahnya, Jumat (01/11).
Karena lahir dari keluarga tidak mampu, Suhaelan jarang dibawa ke Puskesmas. Terlebih saat itu Keluarganya belum memiliki kartu BPJS Kesehatan. Karena tidak mendapatkan penanganan cepat membuat kondisi Suhaelan makin hari semakin memburuk. Ia divonis mengidap penyakit Polio. Sejak itulah Suhaelan tidak bisa normal berjalan.
Sejak kecil, Suhaelan sudah menjadi anak yatim. Ia tinggal bersama ibunya dan ayah tirinya di sebuah rumah yang jauh dari layak. Rumah dua kamar berukuran sekitar 4×5 meter itu merupakan rumah peninggalan almarhum ayah Suhaelan.
“Sejak kecil ayah Suhaelan sudah meninggal. Hanya rumah ini peninggalan almarhum ayahnya. Meskipun kecil dan tidak bagus Alhamdulillah setidaknya ada tempat kami beristirahat dengan aman bersama Suhaelan,”ucap Jawahir.
Dikatakan, meski kondisi Suhaelan berbeda dengan anak-anak lainnya, keadaan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bersekolah. Setiap hari ia harus duduk di pinggir jalan depan rumahnya menunggu tumpang ke sekolah. Karena kondisi kakinya yang sakit tidak memungkinkan untuk berjalan sejauh sekitar lima kilometer dari rumah ke sekolahnya.
Dia akan menyetop kendaraan siapa saja yang lewat dan searah dengan sekolahnya. Jika ada tumpangan ia akan sekolah, jika tidak ada ia terpaksa harus libur sekolah. Hal ini membuat Suhaelan tidak maksimal mengikuti pembelajaran di sekolah seperti teman-temannya.
“Sejak pagi dia sudah siap-siap berangkat sekolah, tetapi kalau ada yang jemput atau ada tumpangan dia akan sekolah. Kalau tidak ada tumpangan dia tidak sekolah,” ujarnya.
Ibu Suhaelan hanya seorang penjual serabi (Jajan tradisional -red) keliling setiap sore di kampungnya. Sementara ayah tirinya tukang ojek di pasar Aikmel. Persoalannya, beberapa tahun terakhir ini, kondisinya ibunya sakit-sakitan sehingga tidak sanggup lagi keliling kampung berjualan serabi.
Melihat kondisi ibunya yang sakit-sakitan, Suhaelan terpaksa menggantikan ibunya untuk berjualan serabi keliling kampung, meskipun tidak bisa berjalan normal. Semua itu harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia tahu hasil ngojek dari ayah tirinya tidak cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
“Sejak saya sakit, dia yang gantikan saya jualan keliling kampung. Selain menjual serabi dia juga jualan roti, roti itu diambil dari kios-kios terdekat. Dia jualan setiap sore,” katanya.
Tidak hanya berjualan keliling kampung. Terkadang ia menggantikan pekerjaan ibunya sebagai ibu rumah tangga mulai dari mencuci, memasak dan lainnya.
“Selama ini dia tidak pernah mengeluh apapun kepada saya, apalagi masalah ekonomi. Hanya sesekali mungkin karena terlalu jauh jualan, hanya bilang kaki saya pegel,” kata Jawahir dengan mata berkaca-kaca.ramli














