Lombok Tengah, DS-Kepala Bapperida Kabupaten Lombok Tengah mengemukakan kabupaten layak anak memiliki indikator pengentasan perkawinan usia dini. Karena itu, sangat penting mencari cara agar grafik pernikahan dini di NTB turun.
Pada kegiatan bertajuk “Praktik Studi Nikah Siri pada Perkawinan Anak di Jatim dan NTB”, Senin (3/2), di Aula setempat, Kepala. Bapperida Loteng (Lombok Tengah), Lalu Wiranata mengemukakan rata rata perkawinan anak secara nasional mengalami penurunan namun NTB termasuk Loteng justru masih tinggi.
Dalam acara yang dihadiri Konsultan Unicef, OPD terkait. Dan LPA NTB, mengemukakan bawa perkawinan anak di NTB sudah turun menjadi 14 persen di tahun 2024 dari 17 persen di tahun sebelumnya. Namun, karena daerah lain mengalami penurunan,. NTB masih tetap tinggi.
Menurut Lalu Wiranata, masih ada celah warga melakukan perkawinan usia muda. Terdapat prosesi perkawinan merariq di mana perempuan diambil atau dilarikan kemudian dilakukan selabar dan bersejati.
Permasalahannya kata dia, dulu masyarakat taat karena merariq diambil di rumahnya. Kini di mana saja bisa dilakukan, termasuk di sekolahnya kalau mau menikah. Di sisi lain, pergaulan anak sulit diawasi setiap saat.
Ia menuturkan terdapat desa yang membatasi jam main warganya yang masih anak. Ketika ada yang belajar bersama, saat pulang ban motor bocor, ketika pulangdi atas jam 10 malam, mereka dinikahkan.
“Sekarang bagaimana mengurangi ekses dampak dari kultur kita dengan pendekatan untuk mengurangi, ” ujarnya seraya menyebutkan adanya praktik baik untuk menekan nikah dini.
Ia berharap “Praktik Studi Nikah Siri pada Perkawinan Anak di Jatim dan NTB”, bisa menemukan cara strategis dengan satu dua kebijakan.
“Ke depan target semua kebijakan berbasis research. Belum tentu sama kondisi kita dengan tempat yang lain. Sehingga bisa dengan cara ini bisa menghimpun output dan outcomenya, ” papar Wiranata. Ian














