JEJAK TERAKHIR

Cerpen Riyanto Rabbah

banner 120x600

Diraihnya ranting kering itu dari dahan-dahan yang sudah melepuh, kemudian dengan langkah sedikit berlari ia melompat ke tengah persawahan yang mengering sambil memukulkan tongkat ke udara berkali-kali. Bintang-bintang berjatuhan mengelilingi tubuhnya menimbulkan percikan-percikan kecil yang memantul seperti mozaik-mozaik cahaya.

Perempuan itu begitu riang dikelilingi perca-perca sinar sambil terus tertawa dengan tangan yang seolah menggamit seonggok bintang. Langit yang indah tengah malam terdiam membisu menyaksikannya menari-nari. Sesekali tubuhnya berputar kemudian mengangkat sebelah kaki yang terentang ke belakang.

“Ini untukmu, sayang. Ini hari ulang tahunmu, ” katanya sambil mengejar sekelebat bayangan mungil.

Dari kejauhan, seseorang yang sudah mengenalnya berbisik menyaksikan kegembiraan hati wanita itu.

“Sinting! ”
“Gila! ”
“Mengong! ”

###

“Aku tidak gila. Tapi dia satu-satunya, ” bisik hati Aisha sambil memeluk bantal.

Lelaki tampan dengan sapuq di kepala menjadi mimpi Aisha. Ah, tidak! Dia juga bagian dari mimpi gadis lain. Teman kelasnya, teman di kelas berbeda, bisa juga dari sekolah lain. Ow, lelaki yang menghiasi hati dengan ketampanannya. Betapa bahagianya hidup ini. Tak boleh ada perempuan lain merebutnya.

“Dia jantan! Dia satu-satunya! ”

“Kau belum cukup umur, Nak. Belum tepat waktu berumah tangga, ” terdengar kalimat ibunya.

“Awas kalau dia datang lagi! ” kali ini kalimat ayahnya.

Sesering itu larangan terdengar, kian hangat terdekap mimpi hidup bersamanya. Tak ada yang tahu hubungannya sudah sedekat ini melalui jemari yang terus mempertahankan salam.

“Ah, Masa bodoh!”

Tengah malam yang tak berisik membebaskan belenggu. Ketika ayah dan ibu tertidur, kebebasan bersamanya bagai tamasya dengan pintu-pintu yang terbuka.

“Hari ini milikku, ” katanya seolah permaisuri yang melesat digandeng seorang pangeran. Bentangan langit seperti menyembutnya ketika lelaki itu membawanya pergi.

Namun, setelah selarian dan pesta pora itu, jalanan ramai dengan tetebuhan berubah sepi. Rumah tempat orang bertandang seperti lupa telah merekam peristiwa penting itu. Perut pun membesar namun dapur pelan-pelan tanpa jelaga. Dan, lelaki tampan tiba-tiba menghilang ketika jabang bayi menangis lahir ke dunia.

Rumah tua, bangku-bangku yang kehilangan pakunya tak seimbang lagi. Dinding-dinding kusam. Gubuk kecil yang telah membangun cerita ini mempercepat masa lalu dengan masa kini.

“Ternyata semua ini tak cukup dengan cinta, ” gumamnya.

Ia pun membuka pintu, melangkah, berjalan, berlari, tapi bukan mencari lelaki itu.

Anaknya yang bertubuh dekil tetiba berlarian dalam bayang yang memudar.

Aisha mengikis lapisan yang menghitam dan berdebu di tubuh kurus yang bugil dengan perca kain kusam. Belaian yang meredakan rasa lapar tertahan.

Aisha sama sekali tak membayangkan lelaki yang sudah merebut hatinya dan memberinya sosok kecil ini. Entah sudah pergi ke mana begundal jahat itu.

Lelaki itu telah merebut kesuciannya, membuatnya jauh lebih tua dari usia sesungguhnya. Kulitnya yang bagai padang pasir kehilangan warna cerahnya. Bola mata tak ceria lagi. Lebih banyak berselimut kabut duka.

“Aku telah kehilangan diriku saat aku tak menghargai diriku.Aku terlalu muda untuk memutuskan di saat aku tak bisa mengambil keputusan. Oh, ibu, maafkan aku yang telah berlari dari panggilanmu”.

Aisha menyusuri jalan yang tak ada ujungnya. Tak lagi beda siang dan malam. Tak ingat lagi sudah berapa lama berada di jalan ini dan sudah berapa banyak lelaki yang menggagahi ketidaksadarannya.

Hari berputar. Telapak kaki tanpa alas mulai retak bergaris-garis hitam.

Sesekali bola matanya membentur wajah perempuan yang heran melihatnya. Aisha lupa. Ya, lupa pada seragam putih biru yang dulu pernah dikenakan sebagaimana pakaian perempuan-perempuan yang sering mencibirnya itu. Siapa mereka? Ah, bahkan dia lupa pada dirinya.

“Rasain, lu, kena karma. Dulu rebut pacar orang. Ribut-ribut ngaku sudah tidur dengannya, ” cetus seorang gadis berseragam yang kemudian berlalu.

Aisha menatap kosong tubuh-tubuh gang melesat pergi.

“Sinting! ”
“Gila! ”
“Puih….! ”

Suara itu berebut menggerogoti genderang telinganya.

###

Berjalanlah Aisha mengikuti langkah kecil dari senja ke senja, mengikuti bayangan pepohonan yang sambung menyambung hingga cahaya keemasan tergantikan kerlip lampu yang semakin berjarak dari perkotaan.

Di pematang ladang kecil, tubuh kecil meloncati selokan kecil, sesekali memunguti remah pertanian atau sisa buah yang membusuk. Kaki-kaki kecil selalu leluasa dan jujur membawanya jauh dari keramaian yang sunyi. Tak ada kata kecuali sedikit senyum hanya untuk anaknya yang sejiwa sebagai hiasan hari yang kian berarti dalam ketidakberdayaan.

Aisha tak pernah memanggil si buah hati dengan satu sebutan nama kecuali interaksi bisu dan kata hati. Namun, sesungguhnya ia masih bisa bercakap walau orang lain tak pernah berkata-kata kepadanya.

Puluhan kilometer Aisha berjalan sambil bersenandung hingga batinnya merasa cukup untuk bermalam di suatu tempat yang tak pernah difikirkan. Harapannya sangat pendek, sekadar anaknya bisa terlelap walau di atas hamparan rumput kering dan selembar kardus.Tiada waktu yang cukup untuk mengenang sesuatu. Segalanya tidak pernah tersimpan atau tergenang sebagai ingatan masa lalu yang harus disesali.

Sebuah pohon tinggi menjulang meninggalkan batang serupa bayangan. Sehamparan ilalang di depan matanya berada di bawah rembulan bundar seperti balon orange yang lucu dengan anak-anak bermain riang di bawahnya. Ada sekelebat bayangan dalam gelap dengan langkah pelan mendekat disertai kelepak burung dari balik semak yang terbang menjauh.

“Adakah yang kau risaukan pada hidup ini semasih ada diriku wahai, ibu?”

Suara kecil itu membuatnya tersenyum. Benarkan itu suara anaknya? Atau hanya suara batinnya sendiri?

Suara itu menekuk genderang telinganya dan memaksa Aisha menoleh ke samping tempat buah hatinya lelap tertidur. Bocah itu tidak.mendengkur, nyenyak bersama lelah yang terkubur hening dan membuatnya sedikit bisa jauh dari ketakutan.

Bayangan di depannya semakin jelas persis ketika Aisha meluruskan kepalanya. Bukan seorang saja, melainkan beberapa pria yang serta merta menutupi rona bulan. Mereka berdiri tegak. Tak nampak benar wajah-wajah itu kecuali hitam dan samar. Sedangkan Aisha masih tetap duduk menekuk lutut, merapatkan dengan perutnya sebagai satu-satunya cara melawan dingin.

“Wahai siapakah kalian yang mendatangi kami di tengah malam ini? Menjauhlah kalian, ” ujar Aisha.

Sosok itu berdiri tegak kemudian berjongkok dalam jarak yang tak terlalu dekat. Mereka nampak memandang Aisha yang menunduk seolah merasakan tidak ada siapa-siapa di sana.

Aisha sudah tidak sadar lagi apakah yang datang itu jin, malaikat atau orang sepertinya. Ia pun tidak merasa penting lagi dengan suara-suara yang berdengung di genderang telinganya. Ia tidak lagi mau membedakan antara ilusi atau kenyataan. Semua adalah ilusi dan semua kenyataan sebagaimana dirinya merasakan antara ada dan tiada.

Sekelebat burung melesat membentuk bayangan hitam menembus gelap. Areal ini begitu dingin. Ada tonggak-tonggak kecil. Tak seperti tempat sebelumnya yang biasa dituju anaknya, suasananya lebih dari sekadar sepi.

“Aisha, dengarlah. Ini aku. Laki-laki jahat itu.”

Sepasang lutut itu masih menjepit perut Aisha. Dia nyaris tak mau mendengar kata-kata sosok di depannya.

“Aku mencarimu sejak tadi Aisha setelah tiba di kampung kita. Aku tak sempat berkabar padamu atas kepergianku, maafkan aku,” katanya.

Aisha menoleh ke samping, melihat kembali anaknya yang bergerak dan tak peduli sama sekali dengan kata-kata itu.

“Dengarlah, Aisha. Aku pergi untuk kita. Hanya saja salahku tidak memberi kabar kepadamu ke mana aku pergi. Karena aku malu, Aisha. Malu kepadamu,” katanya.

Aisha mambelai kepala anaknya. Bocah kecil itu terduduk dan cukup menghibur hatinya untuk bisa menghadapi lelaki di depannya.

“Sadarlah, Aisha.Ini aku, Saida. Datang dari perantauan untuk kembali bersamamu. Ini sudah kurencanakan namun engkau tak tahu apa yang sesungguhnya aku lakukan.”

Bocah kecil terbangun dan melangkah, kemudian berlari kecil di tengah gelap. Aisha berdiri dan mencoba mengejar anaknya ke balik dinding tua. Jejeran batu nisan di kejauhan ketika lelaki itu kian dekat membuntutinya.

“Aisha, engkau ke mana? Itu pekuburan dan kau tak boleh ke sana di malam gelap ini! ” teriak lelaki itu.

Keinginan untuk mengajak Aisha kembali pulang membuat laki-laki itu mempercepat langkahnya. Udara dingin. Sunyi yang mencekam. Sisa cahaya di bawah pohon Kepuh menerpa tubuh Aisha.

Dari balik semak yang menjalar, laki-laki itu memandangi sosok yang terduduk anggun: telapak tangannya dirapatkan di atas kedua paha depan sebuah gundukan kecil. Kedua belah bibirnya bersenandung. Senandung hang diciptakan saat masa kehamilan.

Jelaslah bagi lelaki itu, wajah gadis yang dulu cerah, kini berkabut. Perempuan yang telah memberinya seorang bayi dan merawatnya sehari saja. Bayi yang kemudian hanya memikul beban tubuh dan meregang dalam pelukan. Kaku bisu sejak melihat cahaya pertama.

Tiga tahun lalu dialah yang membopong jenazah kecil berselimut kafan putih menuju liang terakhir. Ya, di tempat di mana Aisha kini berpagar sepi.

Sapuq : ikat kepala orang Sasak
Selarian : Salah satu prosesi adat Sasak sebelum melangsungkan perkawinan.

##

Tentang Riyanto Rabbah

Adalah jurnalis yang juga sastrawan kelahiran Singaraja, Bali. Kini bermukim di Lombok.

Penghargaan Jurnalistik
1.Pemenang Harapan Lomba Karya Tulis Jurnalistik HUT ke 53 RI yang diselenggarakan Pemprov NTB tahun 1998.
2.Pemenang II Lomba Karya Jurnalistik HUT ke 45 NTB tahun 2003
3.Pemenang I Lomba Lomba Karya Jurnalistik HUT NTB dan Anugerah KPID NTB 2019, katagori media cetak
4.Pemenang Harapan Lomba Karya Jurnalistik BPPD NTB Journalist Contest 2020 katagori Media Koran dan Online.
5.Peraih Press Card Number One (PCNO) dari PWI Pusat Tahun 2023.

Penghargaan Sastra
1.Nominasi Lomba Cipta Puisi Taraju Award, Padang, Sumatera Barat.
2.Salah satu pemenang Lomba Cipta Puisi Sanggar Candi Bali
3.Salah satu pemenang Lomba Cipta Puisi Teater Angin Denpasar Bali
4.Salah satu dari 10 cerpenis terbaik Bali Post 1996
5.Salah satu pemenang Lomba Cipta Cerpen Bali Post 2001
6.Salah satu pemenang Lomba Cipta Cerpen Bali Post 2002
7.Tiga Besar Pemenang Lomba Baca Puisi HUT Jaringan Media Siber Indonesia 2022.

Menulis/Menyusun Buku

1.Buku H. Moh. Ali B.Dahlan “Sang Pendobrak” Penerbit Yayasan Pemban Selaparang, (1998),
2.Buku “Penemu Teknologi Terapan NTB” Penerbit Bappeda NTB tahun 2002.
3.Buku HM Hatta Taliwang “Perjuangan Merebut Jati Diri” Penerbit Lembaga Komunikasi dan Informasi Perkotaan (LKIP) Jakarta, tahun 2002.
4.Buku “Teknologi Anak Negeri” Penerbit Bappeda Provinsi NTB, tahun 2004
5.Buku “Kekuasaan untuk Rakyat” Refleksi 1 Tahun “Sang Pendobrak, Penerbit Yayasan Pemban Selaparang (2004).
6.Buku Kekuasaan untuk Rakyat Refleksi 2 Tahun Sang Pendobrak, Penerbit Yayasan Pemban Selaparang Tahun (2005)
7.Buku Kekuasaan untuk Rakyat Refleksi 3 Tahun Sang Pendobrak, (2006)
8.Buku Biografi pengusaha sukses, Zainul Arifin, “Kisah Piatu jadi Pengusaha Sukses” Penerbit BPR Gumirang (2011).
9.Buku H.Moch.Ali Bin Dachlan, “Bupati Independen”, Penerbit Yayasan ADC (2017).
10.Buku Perempuan, Garam dan Penghidupan, kerjasama Bank Dunia, Penerbit Konsorsium Perkumpulan Panca Karsa-Yayasan Annisa Mataram (2017).
11.Buku “Mencari Kembali Orang-orang yang Hilang” Penerbit LPA NTB (2018)
12.Buku Praktik Baik Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penerbit Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana NTB, tahun 2021.
13.Buku “Langkah Kecil Menjemput Tumbuh Kembang, Cerita Perubahan dari Keluarga KSB untuk Indonesia”, Penerbit Yayasan Care Peduli Indonesia (2025)

Buku Sastra

1.Antologi Puisi “Equilibirum”, Penerbit KOSA, tahun 2008
2.Antologi Cerita Pendek “Pertarungan”, penerbit KOSA, tahun 2008
3.Antologi Cerita Pendek dan Puisi “Inaq Pangke di Kalaki”, penerbit Rebal, tahun 2021
4.Sejumlah antologi cerpen dan puisi bersama seperti Tiga Muka, Jamrud Katulistiwa.