Lebaran lalu saya mengirim pesan kepadanya,” Ayo datang, om, kita makan bakso di rumah. ”
Ia pun tiba sambil membawa sesuatu, dua buku berjudul : “Dompu Lebih Tua dari Bima dan Dou Mbojo Manusia Budak”. Judul buku seorang jurnalis yang membuat bola mata seakan melompat pada celah baru.
Jarak kediaman kami tidak jauh. Dan, kami ingin hari lebaran bergairah sehingga berdiskusi bersama kawan kawan lain sampai larut malam.
Setelah diskusi agak lama, saya kemudian lebih tahu bahwa sosok ini bukan wartawan biasa. Kritis, mencatat dan merangkai narasi dalam tabungan memori selama menjadi jurnalis. Sehingga tidak keliru ungkapan yang menyebut bahwa menulis adalah cara mengingat yang terbaik.
Dan, ia selalu riang mengabarkan karya terbarunya hampir setiap tahun yang kadang membuat kian cemburu. Seperti bekerja dalam senyap, menghimpun sesuatu yang terabai menjadi kejutan bernilai.
Tidak aeedikit pemahaman di masyarakat dan “peristiwa” sejarah yang dicermati tentang Bima dengan pandangan kritis..
Dalam salah satu bukunya, Muslimin mencoba mengurai pemahaman masyarakat yang dinilainya keliru tentang sebutan Mbojo dan Bima. Dia menulis :
Mbojo di sini diidentikkan dengan Bima, bahkan termasuk Dompu. Hal ini dianggap sesuatu yang given, artinya dari sono-nya sudah disepakati demikian oleh orang terdahulu sebagai nama lain Bima dan Dompu.
Padahal Mbojo dengan Bima merupakan dua entitas berbeda. Mbojo itu sesuatu yang simbolik dalam wadah kerajaan. Adapun Bima adalah kerajaan itu sendiri.
Jelas sekali fungsi dan kedudukannya. Makanya tidak bisa muncul sebutan suku Mbojo apalagi kerajaan Mbojo. Sebab Mbojo adalah salah satu elemen Bima.
Mbojo secara filosofis memang mewakili sesuatu yang transenden atau melampaui yang terlihat. Namun dia cuma irisan dari Bima, dihadirkan untuk menjaga eguilibrium (keseimbangan) semesta Bima.
###
Di medsos dia menyebut diri Obima. Beberapa kali melakukan siaran live untuk membuka ruang publik tentang bukunya namun kemudian redup. Saya mafhum dan sempat beranggapan bahwa hal ini disebabkan “kekalahan” menghadapi arus teknologi informasi. Tapi, itu semua tak membuatnya kendor dan bersedih walau tidak ada yang memfasilitasi kapasitasnya.
Muslimin adalah sosok yang giat mencatat, mengingat peristiwa, menabur literasi dan tidak serta merta menerima cerita. Selalu menggali sisi lain, bahkan yang paling kecil sebagai ranting-ranting penata narasi jika ada “sesuatu” nampak janggal hingga perlu diluruskan.
Menggarap buku adalah lumbung udara baginya. Tidak mengherankan, karyanya kini menjadi buah tangan sekaligus ilmu bagi yang masih hidup hingga sekarang.
Kami pernah menulis bersama sebuah buku tentang Kota Mataram. Kemudian merencanakan sebuah buku dan rencana sebuah buku yang lain. Dua rencana itu tertinggal hingga sekarang ditengah banyak rencana yang hanya terbungkus dalam cita-cita sepi.
###
Datang dari Jakarta ke Mataram di era gubernur Harun Al Rasyid, Muslimin Hamzah merupakan jebolan Bali Post Jakarta, satu generasi di atas saya. Tidak sedikit jurnalis dikadernya ketika diamanahi sebagai tetua redaksi di Ibu Kota.
“Ia perintis, pioner, bersama almarhum Hendra Usmaya, sejak Kantor BP berupa rumah sewaan di jalan Cililin, kebayoran Lama, ” tutur Bambang Hermawan, jurnalis asal Jakarta yang dibinanya, mengabarkan via WA.
Di Mataram Muslimin merekrut generasi muda menerbitkan Tabloid Kilas dan pada saat yang tak berjauhan saya menerbitkan Majalah Religi kemudian Tabloid Duta Selaparang.
Tidak berusia lama, situasi politik dan era digital turut membuat kantornya dirundung sepi. Muncul mimpi mimpi di era baru tentang podcast dan film dokumenter untuk mengkonstruksi karya tulis. Namun, gagasan itu semua timbul tenggelam dan hampir tak pernah terjadi.
Kendati adaptasi terhadap kemajuan teknologi sangat kurang, kegelisahan menuangkan gagasan tetap berkecambah. Bahkan apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang kini nampak berat dikerjakan orang (jurnalis) lain.
“Saya tak akan pernah lupa caranya “menenangkan” saya, pendatang yang shock dan “grogi” beradaptasi dengan medan baru, ” tutur Bambang tentang kisah masa lalunya.
Pada perjalanan profesi beberapa tahun terakhir Muslimin Hamzah tidak lagi memiliki kantor media namun tetap punya karya-karya sebagai tempatnya bernaung.
Dia kini sudah pergi namun setiap orang masih bisa menemukan catatannya yang tidak sebatas dikenang melainkan bisa dibuka setiap waktu sebagai referensi.
Selamat jalan, kawan. Dalam iringan Ramadhan 1447 H, semoga waktu-waktu lalu amal bagimu dan bulan ini menyucikanmu.














