Kangkung Lombok Bernama Sinona dan Aeni Tingkatkan Ekonomi Petani

banner 120x600

Lombok Barat, DS-Kangkung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan di Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat(NTB) yang banyak dibudidayakan para petani. Bahkan usaha tani ini terbukti bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan para petani. Dari kangkung para petani bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga Perguruan Tinggi.

Lobar sendiri memiliki dua jenis verietas kangkong unggulan yang telah disahkan oleh Kementerian Pertanian dan dilepas ke masyarakat luas. Dua varietas dimaksud yakni kangkung jenis Sinona dan Aeni. Dari dua jenis kangkung yang dibudidayakan petani ini terbukti mampu meningkatkan ekonomi petani itu sendiri.

“Alhamdulillah dengan usaha tani dari kangkung ini kelangsungan pendidikan anak-anak kami bisa terbantu baik yang sudah selesai pendidikannya maupun yang masih sekolah,” kata Marianah (55) salah seorang petani kangkung asal, Desa Ombe, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, Kamis (13/8/2026).

Marianah mengaku menjalani usaha tani kangkung ini sejak lima tahun lalu. Ia memiliki lahan hampir 30 are terbagi di empat lokasi penanaman. Dengan mempekerjakan 8 orang pemetik kangkung dalam setiap kali panen bisa menghasilkan 500 hingga 700 ikat kangkung. Dalam satu ikat kangkung dihargakan pengepul Rp1000. Selanjutnya pengepul bisa menjualnya di pasar lebih tinggi dari harga di tingkat petani.

“Kangkung tinggal diambil pengepul dan tidak perlu repot-repot mengangkutnya ke pasar. Sebagian pengepul ngambil kangkong dari kita untuk selanjutnya didistribusikan ke sebagian pasar tradisonal baik yang ada di Mataram maupun Lombok Barat.

Bahkan permintaan kangkung Lombok juga terbilang tinggi dari luar daerah seperti Jawa dan Bali dengan permintaan setiap hari. Bahkan ada seorang ekportir minta stok kangkong untuk dikirim ke Uni Emirat Arab. Namun kita tidak mampu memenuhi permintaannya. Disamping permintaannya dalam jumlah besar, juga urusan dokumen yang disiapkan agak ribet,” kata Marianah.

Lain halnya dengan petani kangkung lainnya Sumarni asal Kediri. Sumarni mengaku sejak bertani kangkung Pemda hanya membantu pupuk, namun sayangnya sering terlambat.

Sedangkan untuk bibit, maupun obat-obatan diakuinya belum ada bantuan. Ia secara mandiri membeli bibit dan obat-obatannya.

“Untuk bibit kami budidaya sendiri. Karenanya tidak perlu mencari atau membeli bibit, dan tak perlu mengeluarkan biaya untuk beli bibit. Kalau ada bantuan bibit dan obat-obatan tentu kami sangat harapkan,” tambah Sumarni.

Tingginya permintaan kangkung asal Lombok Barat khususnya diakui terbilang tinggi baik untuk Pulau Jawa ataupun Bali. Bahkan tidak saja untuk memenuhi permintaan negara-negara Timur Tengah, namun juga permintaan datang dari sejumlah negara Asean seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, Singapura.

“Kangkung Lombok Barat (Lobar) memiliki identitas berbeda dengan produksi kangkong asal daerah lain baik luar Lombok maupun antar daerah di Pulau Lombok. Kualitasnya tidak bisa dibandingkan dengan daerah lain. Kualitas kangkung Lobar memang sudah mendapat pengakuan banyak pihak. Kangkung yang dihasilkan petani lokal memiliki tekstur rasa, kelembutan dan keempukan yang berbeda disebabkan air yang digunakan dalam pengairan berasal dari Gunung Rinjani yang memiliki kandungan mineral sangat tinggi,” kata Kadis Pertanian Lobar H Hakam.

Petani kangkung Lombok.

Lobar memiliki dua jenis verietas yang telah disahkan oleh Kementerian Pertanian dan dilepas ke masyarakat luas. Dua varietas itu, di antaranya Sinona dan Aeni. Kangkung merupakan komoditas unggulan daerah bersama durian dan manggis.

Selain itu kata dia, animo petani untuk menanam kangkung sangat tinggi di Lobar.

Kangkung yang diproduksi petani dikirim hingga ke luar daerah. “Dikirim ke luar daerah, karena memang citarasanya beda dengan yang lain, renyah dan batangnya besar.

“Kangkung yang dikembangkan di Lobar ada dua varietas, yakni Aeni dan Sinona. Dengan ciri daunnya bergerigi untuk varietas Aeni dan varietas Sinona berdaun lurus. Dua varietas ini sudah dilepas ke masyarakat untuk ditanam secara luas,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Hakam, meski pola tanam secara tradisional yang diterapkan para petani, namun mampu menghasilkan 10 ton per hektare. Kedepan produktifitas akan ditingkatkan juga agar bisa mencapai 20 ton per hektare per empat bulan. Seiring dengan pasaran harga kangkung yang sewaktu-waktu naik turun, namun rata-rata penghasilan petani 50 juta setahun dalam satu satuan hektar.

Adapun kecamatan yang memproduksi kangkung di Lobar terdapat di wilayah kecamatan Lingsar, Narmada, Labuapi, Batulayar, Gunungsari, Kediri dan Gerung. Namun untuk diketahui kecamatan yang paling produktif membudidayakan kangkung ada di Kecamatan Labuapi, Narmada dan Lingsar.

Bahkan Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), memuji kangkung Lombok Barat merupakan yang terbaik di dunia. Kangkung dari Lombok Barat memiliki karakteristik khas yang tidak dimiliki daerah lain. Rasanya yang nikmat membuatnya menjadi favorit banyak orang.

“Luar biasa memang produksi kangkung Lobar, tak ada duanya dibandingkan daerah lain. Bahkan di luar negeripun tak bisa menandingi kualitas kangkung Lombok Barat,” kata Zulhas dalam kunjugannya beberapa waktu lalu. (Adi)