MANGGARAI BARAT — Dari Mataram, perjalanan panjang itu dimulai. Tim Solidaritas Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN) dari Pemprov NTB bergerak menuju NTT membawa tenaga medis, peralatan kesehatan, logistik, perlengkapan dapur umum, dan kebutuhan untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak gempa M7,7.
Tujuannya jelas: hadir di wilayah yang membutuhkan, bekerja bersama pemerintah dan tim tanggap darurat setempat, serta memastikan bantuan tidak berhenti di perjalanan.
Pemerintah Provinsi NTB membuka posko utama di Kabupaten Manggarai Timur. Di wilayah tersebut, Tim KR-BNN NTB akan membangun rumah sakit lapangan dan dapur umum, sekaligus mengerahkan tenaga medis untuk memperkuat pelayanan kesehatan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak.
Keputusan itu merupakan hasil koordinasi antara Pemerintah Provinsi NTB dan Posko Utama Penanggulangan Bencana Provinsi NTT. Karo Kesra Setda Provinsi NTB H. Amir, S.Pd., M.M., Kepala BPBD NTB H. Sadimin, S.T., M.T., dan Kepala Dinas Kesehatan NTB Dr. dr. H. L. Fikri Hamzi, M.M., MARS., berkoordinasi dengan Koordinator Pusat Posko Utama yang juga Sekretaris BPBD NTT, Yohanes Taka Dosi, S.SiT., M.Sc.
Dilepas Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri (16/8), tim bergerak dari Mataram menuju Sape, Bima. Perjalanan darat ditempuh dengan membawa personel dan berbagai perlengkapan yang akan digunakan di lokasi bencana.
Dari Sape, perjalanan belum selesai. Tim masih harus menyeberangi laut menuju Labuan Bajo.
Keterbatasan kapasitas kapal membuat penyeberangan dilakukan dalam dua tahap. Rombongan pertama berangkat sekitar pukul 21.00 WITA, disusul rombongan kedua sekitar pukul 23.00 WITA.
Malam itu, perjalanan berlanjut di atas laut. Kendaraan, perlengkapan medis, logistik, dan personel ikut menyeberang menuju Flores.
Pagi hari, Selasa, 18 Agustus 2026, tim tiba di Labuan Bajo. Setelah perjalanan panjang, mereka langsung berkumpul di Markas Polres Manggarai Barat untuk memeriksa kembali kelengkapan personel dan peralatan.
Dari sini, pekerjaan dimulai. Tim Solidaritas KR-BNN melakukan koordinasi bersama Wakil Bupati Manggarai Barat, Kepala Pelaksana BPBD Manggarai Barat, dan Kabid PK BPBD NTT. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan pergerakan tim dari NTB dapat menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan dan berjalan bersama sistem penanganan darurat yang sudah dibangun Pemerintah Provinsi NTT.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Wakil Bupati dr. Yulianus Weng, M,Kes, menyampaikan salam hormat dan terima kasih kepada Gubernur NTB serta masyarakat NTB atas bantuan dan kepedulian yang diberikan untuk masyarakat terdampak gempa M7,7 NTT.
Di Kantor BPBD Manggarai Barat, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD NTB kemudian mendirikan Posko Transit NTB. Posko ini menjadi titik koordinasi dan transit bagi personel serta bantuan yang datang dari NTB maupun wilayah lainnya sebelum diteruskan menuju lokasi yang membutuhkan.
Dari Manggarai Barat, tim mulai bergerak sesuai tugas masing-masing.
Tim kesehatan menjadi salah satu yang berangkat lebih dahulu. Para tenaga medis NTB langsung menuju wilayah terdampak untuk menjangkau warga yang belum memperoleh pelayanan kesehatan. Sebagian tenaga medis ditempatkan untuk memperkuat pelayanan di sejumlah rumah sakit dan puskesmas, sementara tim lainnya disiapkan untuk rumah sakit lapangan di Manggarai Timur.
Tak banyak bicara. Tak banyak berdiskusi. Tak ada waktu untuk menghitung lelah.
Mereka langsung bekerja. Mendatangi warga. Memeriksa kondisi kesehatan. Memberikan pelayanan. Menjangkau mereka yang belum tersentuh tenaga medis.
Di tengah situasi seperti itu, kehadiran tenaga kesehatan memiliki arti yang lebih luas dari sekadar pelayanan medis. Bagi warga yang sedang menghadapi ketakutan dan kehilangan, ada rasa tenang ketika seseorang datang untuk membantu.
Ada tangan yang memeriksa luka. Ada suara yang menenangkan. Ada kehadiran yang memberi keyakinan bahwa masih ada yang peduli.
Gubernur Miq Iqbal, terus memantau pergerakan tim solidaritas KR-BNN dan memberikan arahan.
Tim medis bergerak membawa pelukan dari NTB untuk saudara-saudara di NTT.
Sementara tim medis bergerak, tim dapur umum menuju pusat pengungsian di Manggarai Timur. Dapur umum disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang harus bertahan dalam kondisi darurat.
Tim logistik juga terus bergerak. Air minum, beras, mi instan, dan berbagai kebutuhan lainnya diturunkan di Posko Manggarai Barat sebelum diteruskan menuju Manggarai Timur.
Untuk distribusi logistik, Tim NTB memilih bergerak dalam satu koordinasi dengan Tim Tanggap Darurat Gempa M7,7 NTT di bawah koordinasi BPBD NTT. Bantuan yang datang tidak sekadar harus cepat, tetapi juga harus sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Koordinasi ini sekaligus untuk mencegah bantuan menumpuk di satu lokasi atau terjadi bantuan ganda, sementara masih ada wilayah lain yang belum memperoleh bantuan.
Begitulah misi ini berjalan. Dari Mataram menuju Sape. Dari Sape menyeberangi laut menuju Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, tim kembali bergerak menuju wilayah yang terdampak.
Perjalanan panjang itu akhirnya menemukan maknanya ketika bantuan mulai bekerja di tengah masyarakat.
Tenaga medis memberikan pelayanan. Dapur umum menyiapkan makanan. Logistik bergerak menuju pengungsian. Posko menjadi tempat menghubungkan kebutuhan dengan bantuan.
Semua dilakukan dengan satu tujuan yang sama: membantu masyarakat NTT melewati masa sulit setelah gempa.
Bagi NTB, solidaritas tidak berhenti pada ucapan. Ia hadir dalam perjalanan, dalam tenaga yang diberikan, dalam bantuan yang disalurkan, dan dalam kehadiran di tengah masyarakat yang membutuhkan.
KR-BNN NTB bergerak membawa bantuan dan pelayanan. Tetapi yang ikut menyeberang bersama mereka adalah pesan sederhana: saudara-saudara di NTT tidak sendiri.kmf














