Lombok Barat, DS -Terik matahari yang tepat di ubun-ubun tak dihiraukan Makruf (52). Petani asal Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat itu tetap bekerja di sawahnya, meski kulitnya disengat panas. Baginya, hujan dan panas sudah menjadi risiko puluhan tahun menjadi petani. Semua ia lakukan agar hasil panen setiap musim tanam lebih baik.
Saat ditemui DS, Senin (19/10/2026), Makruf tengah membakar jerami yang telah mengering pasca panen dua minggu lalu. Lahannya kini hanya tersisa 50 are, sebagian sudah tergerus pembangunan perumahan.
Ketika ditanya alasan membakar jerami, jawabannya praktis: agar cepat bersih dan bisa segera memulai musim tanam berikutnya.
“Kami bersama petani lainnya di sini ingin segera mulai menanam. Agar lebih cepat, kami membakarnya saja. Mohon maaf kepada pengguna jalan yang terhalang asap pembakaran jerami ini. Kami paham jerami bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, tapi prosesnya lama. Jadi petani di sini cari cepatnya saja,” kata Makruf.
Pembakaran jerami pasca panen memang masih menjadi kebiasaan petani di sejumlah wilayah di Pulau Lombok, khususnya Lombok Barat. Kebiasaan yang kurang ramah lingkungan ini terus berulang setiap selesai panen raya. Alasan lainnya, untuk membasmi hama yang tersisa di lahan.
Hal senada diungkapkan Wahidin, petani asal Batukumbung, Kecamatan Lingsar. Menurutnya, pembakaran jerami dilakukan hampir oleh sebagian besar petani di wilayahnya.
“Menjelang panen tidak sedikit hama menyerang tanaman padi, bukan hanya milik sendiri tapi juga milik orang lain. Dengan membakar jerami, hama yang masih menempel bisa ikut mati terbakar,” ujarnya.
Petani lainnya, M. Asri, menyebut hama yang paling sering bertahan adalah wereng dan ulat. Jika dibiarkan, hama tersebut dikhawatirkan akan kembali menyerang pada musim tanam berikutnya.
“Hama yang tidak mati biasanya jenis wereng dan ulat. Meski tidak banyak, tapi bisa berdampak tidak baik kalau dibiarkan,” kata Asri.
Kedua petani itu mengakui, abu sisa pembakaran kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk saat pengolahan lahan. Meski begitu, ada juga sebagian petani di desa lain yang memilih membiarkan jerami membusuk secara alami untuk dijadikan pupuk organik.
“Hanya saja kalau ada hama, biasanya kami bakar saja biar cepat mati,” tambah Asri.
*Hilangkan Unsur Hara*
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Lombok Barat, Erni Raodah, menyatakan tidak setuju dengan praktik tersebut.
Menurutnya, pembakaran jerami justru menghilangkan unsur hara penting dalam tanah dan menurunkan kesuburan lahan. Ia mengimbau agar sisa tanaman dikembalikan ke tanah agar terurai secara alami.
“Kandungan batang, daun, dan akar tanaman terdiri dari unsur-unsur penting, terutama Kalium. Pengembalian sisa tanaman yang dibiarkan lapuk akan memberikan ruang bagi bakteri pembenah tanah untuk berkembang, sehingga pH tanah menjadi ideal bagi tanaman,” jelas Erni.
Ia memahami alasan petani yang ingin serba cepat, terutama petani penggarap atau penyewa lahan.
“Semakin cepat mereka menanam kembali, semakin cepat mereka mendapatkan uangnya kembali,” tandasnya.
Dinas Pertanian Lombok Barat berharap petani mulai beralih ke pengelolaan jerami yang lebih ramah lingkungan demi menjaga kesuburan tanah dan keberlanjutan produksi pertanian. (adi)














