Menulis buku, cerita pendek, puisi, artikel, dan aktif di media sosial dengan postingan-postingan yang menggigit, Ali BD yang merupakan mantan bupati Lombok Timur dua periode merupakan sosok langka. Menjadi sangat langka jika menyaksikan kiprahnya sebagai seorang pengusaha perbankan yang berhasil.
Dari 4 juta penduduk Lombok, kemungkinan Ali BD merupakan satu saja sosok pengusaha sekaligus penulis aktif. Usahanya pun tidak main-main karena terus berkembang dengan puluhan kantor dari Lombok hingga Sape Bima dengan bendera Bank Samawa Kencana dan Bank Segara Anak Kencana.
Tidak hanya itu, Ali bersama H.Ayip Rosidi (alm) pun mendirikan Universitas Gunung Rinjani (UGR) di Desa Gapuk Lombok Timur, yang pada tahun 1996 merupakan kawasan sepi dari sentuhan pendidikan tinggi. Perguruan tinggi itu hingga kini masih berdiri kokoh dengan ribuan alumni.
Namun, hal yang menarik adalah kemampuan Ali BD dalam menulis. Karya cerpennya yang bernuansa keberpihakan pada rakyat kecil sering menyentil dengan kritik sosial. Sejumlah artikelnya cukup bernas dengan pembahasan yang detil, baik soal sosial kemasyarakatan, hukum, ekonomi maupun politik.
Sedangkan dalam menyusun buku yang berjudul “Nahdlatul Wathan Bagian Potret Wajah Suku Bangsa Sasak”, ditulisnya dengan bahasa jurnalis yang mengalir. Tanpa daftar pustaka, buku itu membahas dinamika perjalanan suku bangsa Sasak yang diwarnai keberagaman dan perbedaan.
Pada sisi lain, ia pun menguraikan perjalanan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang merupakan organisasi sekaligus aset terbesar di NTB, lengkap dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang diurai dengan pandangan positif.
Hal tersebut cukup beralasan karena Ali merupakan mantan wartawanTempo di masa lalu sehingga terlatih dalam mengumpulkan data, menguraikan dan menganalisanya menjadi tulisan yang sulit dibantah.
Pemahaman yang luas tentang Suku Bangsa Sasak tampak dari alur cerita yang dibangun dengan bingkai yang tertata apik. Dalam uraiannya itu, Ali tidak melihat kedatangan orang-orang Bali ke Lombok sebagai bentuk “penjajahan”.
DIKSI YANG BAIK
Tokoh NWDI, Dr.Fauzan, menilai semua tokoh yang ditulis Ali BD atau Mat Kodak dalam bukunya, menggunakan diksi yang baik. Ia pun menyebut tokoh seperti Hj Umi Rauhun, Hj.Umi Raehanundan dan sederet lainnya.
“Saya mengatakan beliau sudah husnul khotimah, termasuk dalam memotret orang orang yang saya kenal dekat, ” kata Dr.Fauzan yang tampil sebagai salah satu narasumber pada bedah buku yang berlangsung di Gedung YSM, Kamis (4/12).
Menurut Fauzan, salah satu yang mendasari Ali BD untuk menulis buku tersebut adalah karena kegelisahan sebagai anak Sasak bahwa sampai saat ini tidak ada tokoh Sasak yang oleh semua orang Sasak dianggap tokoh.
“Semua perlawanan Sasak tidak terkonsentrasi pada satu tokoh sentral. Mudahan pertemuan ini bisa menyepakati siapa yang dituakan,” katanya.
Menurutnya, dengan jumlah penduduk yang banyak, Lombok dinilai masih kurang diperhitungkan secara nasional ketimbang Papua — sebutlah untuk menduduki posisi sebagai menteri.
“Sampai sekarang di pentas nasional jarang ada orang Sasak. Itu yang merisaukan beliau. Sehingga Ali BD menganggap akan lahir dari NW orang yang dianggap sebagai pemimpin tidak hanya dari NW tetapi oleh semua.
Fauzan mengapresiasi Ali BD yang menganggap NW yang lahir dari timur ke barat, tidak sebagaimana organisasi yang lahir di barat ke timur. Ia pun memuji Ali BD yang walaupun bukan jamaah NW tetapi mengapresiasi karya-karya Maulanasyech TGHM.Zainuddin Abdul Madjid.
SEBAGIAN SASAK CERMIN NW
Sementara itu, Prof.Fahrurrozi mengatakan bahasa yang digunakan Ali BD dalam buku tersebut sangat berani dan nyeleneh, bahkan terkesan “suul adab”.
“Namun, sebagai bahasa jurnalis boleh-boleh saja,” katanya. “Tapi inilah bahasa beliau, berani melawan mainstream,” ujarnya seraya menyebut buku tersebut bicara apa adanya dengan membahas segala elemen dengan tuntas baik pada masa pendirian NW termasuk sejarah kepengurusan. Hal menarik, Ali BD tidak condong ke kanan maupun ke kiri. Baginya, NW adalah dinamika yang terus berkembang.
Fahrurrozi mengemukakan dalam konteks NW bagian dari potret suku bangsa Sasak, tercermin dalam kesadaran beragama.
“Identitas masyarakat sasak adalah masyarakat muslim,” katanya. “Saya katakan setiap orang Sasak itu pasti muslim. Kenapa? Karena sudah menjadi identitas yang melekat,” kata Fahrurrozi.
Kedua, lanjut dia, kesadaran berilmu. “Tidak ada masyarakat Sasak yang tidak bisa baca Al-Qur’an. Yang tidak bisa mengaji, lanjut dia, tidak ada. Sehingga menjadi inspirasi seperti tokoh-tokoh yang justru mendapat doktor di usia senja,” cetusnya seraya menyebut HL Azhar yang menuntut ilmu di UGM dan Ali BD yang meraih doktor di usia tua.
Ketiga, kata Fahrurrozi, semangat kebersamaan berorganisasi yang luar biasa. “Masyarakat Sasak itu suka ngumpul. Itu suatu identitas, sebuah kekuatan,” ujarnya.
Guru Besar UIN Mataram itu pun menyebut identitas lain, yakni semangat bermasyarakat yang juga tercermin dalam diri Al BD. Ia yakin Ali BD tak mungkin jadi bupati dua periode kalau tidak punya kesadaran bermasyarakat.
“Dan memang Sasak itu masyarakat yang guyub, masyarakat yang luar biasa solidaritasnya,” kata Fahrurrozi yang dua periode menjadi pengurus wilayah NW. ian
