Ayo, Liburan!

Catatan Riyanto Rabbah

banner 120x600

Ayo, liburan!

Kedengarannya menyilaukan. Baju kaos friendly, celana pendek, punggung menggendong tas kecil warna cerah. Anak-anak bermain pasir. Di depan mata terhampar pemandangan indah.

Liburan? Sejak kapan jurnalis mengenal libur? Aku bertanya pada diriku seakan memaki kenyataan tak pernah meluangkan waktu untuk liburan.

Dahulu, ketika berada di bawah naungan koran harian Bali Post atau Suara NTB, libur itu ada. Bahkan terdapat hak cuti dalam setahun. Namun, tetap saja tangan ini bekerja, menulis apapun yang bisa ditulis. Jika bukan berita, ya puisi, ya cerita pendek.

Libur bukan kata sederhana bagi mereka yang mengususkan hari. Ada weekend yang ditunggu-tunggu. Hari yang sedikit menggandeng keleluasaan setelah penat dengan pekerjaan.

Namun, jurnalis tak pernah libur. Terlebih pada era sekarang ketika pertumbuhan media bak rintikan hujan. Ketika ASN libur pada moment hari bersejarah, jurnalis bekerja karena harus menulis moment itu. Pada hari raya pun liburan itu lenyap karena justru pada hari itu berbagai peristiwa mengiringinya.

Berbagai kemungkinan peristiwa dari segala hari yang diliburkan membuat seorang jurnalis merasakan sepenuh hari itu adalah hari kerja. Kadang istri dan anak minta diajak liburan. Walau mengiyakan, dalam liburan itu juga selalu saja ingin menyampaikan peristiwa di tempat tujuan.

Ketika berkunjung ke pantai maka tulisan tentang pantai itu yang jadi tema besarnya, ketika ke pegunungan semua punya menyesuaikan, termasuk untuk mengarahkan penyusunan tulisan dalam bentuk apa. Semua bisa diramu sebaik mungkin tanpa harus mengetahui siapa pembacanya.

Jurnalis menjadi satu bagian dengan segala peristiwa yang tak mengenal basi. Setiap waktu peristiwa berubah dan dia bersamanya. Bertumbuh bersama fenomena kehidupan, mungkin salah satu jenis tamasya atau juga bentuk dari bekerja.

Bekerja dalam tamasya, begitu sebaliknya.