Bedah Buku Suaeb Qury, Mengupas Cara Dakwah Digital Tuan Guru Femomenal di Lombok

banner 120x600

Mataram, DS-Bedah buku berjudul “Microselebritas Muslim: Strategi Dakwah Virtual Tuan Guru Lombok”  karya salah seorang pengurus muda Nahlatul Ulama (NU) NTB, Suaeb Qury,yang diluncurkan pada Sabtu (25/4/2026) lalu di Auditorium Universitas NU banyak menarik perhatian masyarakat terutama kaum muda yang banyak memfokuskan cara berdakwah sejumalh Tuan Guru Muda di Lombok seperti TGH Muaamar Arafat Kota Mataram dan Tuan Guru Marwan Lombok Timur yang beradaptasi dengan cara berdakwah di ruang teknologi digital sebagai media paling tepat dan cerdas untuk menyampakan pesan-pesan keagamaan.

Suaeb Quri yang juga salah seorang Komisioner Komsi Informasi (KI) Provinsi NTB di Mataram, Senin (27/4/2026) mengungkapkan, bahwa buku yang mengupas dan mengurai secara khusus tentang peran strategis tokoh lokal muda atau para Tuan Guru Muda di Lombok dalam menjalankan misi dakwah bagi kemaslahatan ummat seperti yang dilakukan TGH Muamar Arafat dan TGH Marwan melakukan peran-peran pendakwah yang maksimal dimana fungsi dakwah dalam konteks kekinian dihadapan masyarakat dan kaum muda mampu menyampaikan dakwahnya melalui jejaring virtual atau media sosial  ritual virtual atau media sosial dan acun media sosialnya sudah banyak yang dikenal para netizen.

“Cara-cara dakwah virtual yang dilakukan TGH Muammar Arafat dalam menunaikan tugas dakwahnya ini yang coba saya urai dan kupas secara khusus tentang manfaat dari cara penyampaian dakwah atau ceramah beliau melalui virtual. Nah salah satunya adalah dia mampu menyampaikan dakwah melalui gagasan-gagasan beliau yang secara langsung diterima oleh masyarakat yang materinya disesuaikan dengan fenomena atau peristiwa yang terjadi saat ini,” kata Suaeb Qury.

Ia juga menyatakan, dengan penyampaian dakwah TGH Muammar yang fenomenal  kepada masyarakat itulah yang yang membuat Tuan Guru yang juga Pengasuh Ponpes modern di Kota Mataram ini cukup terkenal di NTB dan bahkan di beberapa panggung nasional.

“Nah inilah cermin dari keberpihakan dan peran Tuan Guru lokal yang memang tidak kalah dengan para penceramah berkelas nasional yang mampu memaksimalkan media sosial sebagai sarana dakwah yang cukup efektif efisien dalam penguatannilai-nilai keagamaan yang mudah dimengerti dan diterima oleh berbagai kalangan terutama kalangan milenial atau Gen Zet ,” ujarnya.

Suaeb Qury juga menyatakan, Tuan Guru Muammar Arafat yang juga Ketua PC NU Kota Mataram ini  bisa menjadi icon yang tidak semua Tuan Guru mampu melakukan hal seperti ini yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang sekarang ini dimana penyampaian pesan-pesan dakwah secara cepat dan massif dilakukan melalui teknolgi digitalisasi.

“Cara-cara fenomenal berdakwah seperti yang dilakukan para Tuan Guru seperti ini di Lombok menjadi ciri khas tersendiri, dimana beliau mampu mengemas pola-pola dakwah yang secara khusus digemari oleh masyarakat pada umumnya dan masyarakat kaum milenial pada khususnya. Dan ini penting menjadi sprit bagi para Tuan Guru atau Ulama-Ulama di Lombok dan NTB pada umumnya dalam menyebarkan nilai-nilai atau ajaran-ajaran keagamaan. Dan ini adalah salah satu pola cepat untuk memberikan pengetahuan keagamaan atau ceramah-ceramah keagamaan kepada masyarakat agar masyarakat ini dengan mudah menerima dakwah yang sesuai sesuai dengan ajaran agama Islam,” tukasnya.

Menurutnya, cara berdakwah para tokoh agama yang bisa beradaftasi dengan percepatan dan kemajuan teknologi informasi sekarang ini dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada jamaah atau masyarakat akan sangat tepat dan sepenuhnya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat pula.

“Kita juga bisa mengambil pembelajaran dari para ulama-ulama fenomenal yang secara nasional sudah terkenal dengan cara dakwah dengan memaksimalkan media sosial seperti KH Das Latief, Agus Bahar dan lain sebagainya. Dan ini cara berdakwah yang paling praktis dan tepat sasaran kepada jamaah,” jelasnya.

Sebelumnya Sekda NTB Abul Chair melauncing buku karya Suaeb Qury ini dengan mengatakan, bahwa tantangan zaman saat ini telah bergeser. Masyarakat kini tidak lagi hanya menghadapi keterbatasan akses informasi, melainkan justru menghadapi “banjir” informasi yang seringkali disertai dengan krisis keteladanan dan maraknya konten-konten yang menyesatkan.

“Kehadiran ulama yang mencerahkan di ruang digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan besar masyarakat. Teknologi boleh berubah, tetapi pesan kebaikan harus tetap hadir,” tegas Abul Chair di hadapan para akademisi, mahasiswa, dan tokoh agama serta pegiat literasi yang hadir. (adi)