Adzan Ashar terdengar berkumandang. Langit terselimuti awan hitam tipis.
Seusai melaksanan ibadah shalat Ashar, nampak satu persatu warga keluar mengenakan pakaian adat.
Semakin sore, lautan manusia memadati Masigid Bengan atau Masjid Tua Desa Songak.
Tak berselang lama, satu persatu perempuan dengan pakaian adat membawa sesangan dan dulang berisi sanganan khas Sasak.
Dari kejauhan terdengar bunyi tetabuhan gamelan yang datang dari empat penjuru menuju Masigid Bengan.
Bagi warga Desa Songak, pemandangan seperti ini saat bulan Rabiul Awal sudah biasa. Warga setempat menggelar event budaya Songak Bejango Bliq.
Seusai berdoa di Masigid Bengan, warga diiringi gamelan kompak keluar, berjalan menuju makam keramat.
Tak pelak, suasana jalan besar di desa itu macet. Hanya diisi oleh lautan manusia.
Ditengah kerumunan, terlihat penjabat Bupati Lombok Timur, H Muhammad Juaini Taofik, dan sejumlah organisasi perangkat daerah, dan Forkompincam Sakra.
Penghulu Lembaga Adat Darmajagat Songak, Murdiyah, menerangkan kegiatan tersebut sudah ke tiga belas kali yang mengusung ritus Bejango sebagai ikon.
“Di Songak ada ritus Bejango yang hidup sampai sekarang,” terangnya.
Dia menuturkan, Bejango berarti mengunjungi, bisa juga dimaknai sebagai silaturrahmi. Ritual ini, kata dia, masih mendampingi kehidupan warga setempat.
Ritual ini merupakan peninggalan nenek moyang desa tersebut. Bejango, bebernya, mengunjungi leluhur melalui Masigid Bengan menuju ke makam keramat.
“Ritual ini dilaksankan pada hari Senin dan Kamis, dilaksanakan dua kali bagi siapa saja yang bernazar,” tuturnya
Bagi warga yang berminat, imbuhnya, bakal menggelar Bejango Buwaraq (pemberitahuan, red) dan Bejango.
Dia membeberkan, jika pelaksanaan nazarnya pada hari Senin maka Bejango Buwaraq dilaksanakan pada hari Minggu sorenya. Begitu juga dengan yang akan melaksanakan pada hari Kamis.
Bagi yang bernazar, paparnya, akan membawa sesangan dan sanganan (makanan, red).
Pembuatan sesangan akan dibantu oleh warga setempat. Sebab, kata dia, tidak semua orang bisa membuatnya karena ada aturannya.
Sedangkan sanganan berupa makanan mulai dari buah, kue-kue basah, nasi serta lauk pauknya.
Dia mengatakan, Bejango ini digelar bagi mereka yang telah tuntas melaksanakan nazarnya, yakni dengan mengunjungi masigid dan makam keramat.
“Nazarnya mulai dari terbebas dari penyakit, hutang, atau ada yang bernazar selamat dalam perjalanan, banyak,” ucapnya
Dia mengatakan, prosesi ini sudah mulai diturunkan ke generasi muda. Hal itu, sebutnya, salah satu ikhtiar untuk tetap menjaga kelestariannya.
“Tidak hanya ritual Bejango, tapi juga ritus lainnya, sudah diajarkan ke generasi muda,” paparnya
Penjabat Bupati Lotim, H Muhammad Juaini Taofik, dalam kesempatan itu mengatakan, tujuan utama pembangunan desa adalah membuat masyarakat, termasuk pemuda betah tinggal di desanya. Lantaran itu dirinya mengaku mengapresiasi pelaksanaan tradisi tersebut.
Menurut Pj Bupati, tradisi itu adalah untuk menjenguk para leluhur atau orang tua yang sudah mendahului ke pangkuan Tuhan. Ia pun mengingatkan untuk mengedepankan kearifan lokal namun tetap menjaga semangat dan fokus untuk mengejar masa depan seperti yang dipraktikan sejumlah negara maju di kawasan Asia.
Dalam kesempatan itu, dirinya mengingatkan masyarakat untuk menentukan pilihannya di Pilkada mendatang. Namun demikian, kata ida, pilihan tersebut diharapkan tidak mendatangkan masalah dan hilangnya silaturahmi antar sesama karena adanya perbedaan.
“Jangan karena beda pilihan kita kehilangan silaturrahmi antar sesama,” imbaunya.
Sementara itu Ketua Panitia, Rof’il Khaerudin menyampaikan bahwa tujuan diadakan kegiatan tersebut guna menghidupkan kembali nilai-nilai yang sudah diajarkan oleh para leluhur.
“Kegiatan ini untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang sudah leluhur bangun, baik itu nilai keilmuwan maupun kekeluargaan,” tuturnya.li
