Rabu pagi awal April 2026 saat fajar dari timur mulai menyingsing, selepas rutinitas mengantar anakku yang paling bungsu ke sekolahnya di SMPN 1 Labuapi, tiba-tiba tebersit keinginan masuk Pasar Jerneng, Labupi. Ada apa ya? Saya juga tak terlalu memikirkannya karena semuanya berjalan alami sesuai kehendak hati.
Seperti biasa, masuk ke Pasar Desa ini sekedar membeli air kelapa untuk dikonsumsi. Sayangnya Inaq Rainah yang usinya sudah 75 tahunan lebih dan rutin kutemui di pasar, masih membelah kelapanya untuk mendapatkan airnya.
Saya lalu berjalan kecil melompat menghindari becek karena hujan semalam terbawa keinginan untuk mampir di warung Papuq Asnah hanya sekedar menyeruput kopi.
Setelah kuucapkan salam, Papuq Asnah menimpalinya dengan jawaban lembut Waalaikummusaalam.
Papuq Asnah tak pernah merasa terganggu, apalagi terusik. Ia dengan senyum kecilnya tetap melayani pelanggan.
Menu jualannya tak seberapa seperti masakan tradisonal urap-urap, kelak komak campur sayur, tempe, tongkol, ayam, sambel dadar, sambal bawang, sambal trong, beberok kacang panjang. Semua tersedia di situ. Papuq Asnah menikmati betul pekerjaaannya dengan penuh rasa syukur.
Papuq Asnah tidak langsung menekuni usaha ini. Perjalanan hidupnya penuh aral, bermula dari pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga, membantu suaminya di pasar sebagai tenaga kebersihan yang diwarnai penuh coba dan tantangan. Ia pun mencoba peruntungan baru membuka warung nasi.
Sempat mencoba masakannya, terasa enak. Nasinya pun terasa pulen, memancing selera untuk nambah lagi.
Ditanya rahasia masakannya, Papuq Asnah hanya menjawab singkat : “Masaknya memakai jangkih (tungku,red), semacam perapian berbahan bakar potongan kayu saja.
“Saya menghindar menggunakan kompor gas. Disamping ndak tau cara menyalakan kompor gas, saya juga nggak berani menghidupkannya,” tutur Papuq Asnah polos.
Papuq Asnah 70 tahun lebih usianya. Selama delapan tahun berjualan di Pasar Jerneng, nasi campur yang dijual semata untuk mencari nafkah untuk keluarganya.
Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, hidupnya terasa berat untuk memenuhi kebutuhan hidup empat orang anaknya.
Cobaan yang ia hadapi tidak lalu membuatnya patah semangat, Ia tak mau larut dalam duka dan mencoba berjualan kecil-kecilan. Kendati hasilnya hanya cukup untuk bertahan seharian, berkat ketekunan, kesabaran dan keuletannya, ia tetap eksis hingga sekarang.
“Anak-anak saya sudah bekerja, berkeluarga bisa mencari uang sendiri. Kerja apa saja yang penting halal, dan tidak merepotkan orangtua atau orang lain,” kata papuq dengan enam cucu ini
Belajar sabar, istiqomah dari penjual nasi seperti Papuq Asnah, bisa menjadi inspirasi yang kuat dalam menjalani pekerjaan sehari-hari.
Kesabaran bukanlah tentang pasif menunggu, melainkan tentang ketekunan dalam proses, menghargai setiap langkah yang diperlukan untuk mencapai hasil yang baik. (adi)














