Pagi itu, 1 Oktober 2025, Eli Marsiana (27) bersama sejumlah ibu di Dusun Kuranji Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tampak sibuk. Ibu – ibu yang berada dalam sebuah komunitas bernama Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) “Ingin Maju”, meracik adonan kerupuk yang kini menjadi “best seller” di kalangan wisatawan.
Cemilan yang akan dibuat ternyata bukan sembarang kerupuk. Karena, bahan bakunya cukup istimewa, yakni cangkang kepiting. Disebut istimewa, semula cangkang kepiting jadi limbah yang dibuang, oleh ibu-ibu itu kini dikumpulkan, diolah bersama bahan makanan lain sehingga menghasilkan produk bercita rasa istimewa.
Usaha itu bermula dari pelatihan program Pemberdayaan dan Keluarga (PKK) dari peneliti Universitas Mataram tahun 2017. Saat itu Eli dan ibunya mengikuti pelatihan membuat produk kerupuk berbahan baku rumput laut.
“Selesai pelatihan kita dikasih makan dan lauknya kepiting. Nah, di situ kita tanya ke instrukturnya, bisa nggak limbah kepiting ini juga kita buat kerupuk, terus dijawab bisa,” tuturnya saat ditemui di kediamanya di Dusun Kuranji, Kamis (1/10/2025).
Sejak itu, ia bersama ibu-ibu lainnya mengikuti pelatihan membuat adonan limbah cangkang kepiting. Bahan bakunya didapat dengan mudah dan murah dari pengepul di Wilayah Ujung Pemongkong. Bahkan, untuk memeroleh bahan baku dilakukan barter dengan kerupuk.
Menggunakan brand kerupuk CAKEP (Cangkang Kepiting), produksi Poklahsar “Ingin Maju” semakin berkembang, terlebih setelah mendapat pendampingan dalam program Gumi Seri yang diinisiasi PT Amman bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Sedangkan pelaksanaannya bermitra dengan Forward Indonesia dan Yayasan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI).
Program Gumi Seri yang diluncurkan pada 15 Mei 2025 (proses asesmen dan pendampingan pelaku UMKM sejak Februari 2025) merupakan upaya pemberdayaan sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pelatihan, pendidikan dan pendampingan. Dirancang untuk menciptakan kemandirian ekonomi melalui peningkatan kualitas SDM secara inklusif dan berkelanjutan, sasaran utamanya adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pariwisata wilayah Lombok Timur.
Menurut Eli, banyak ilmu yang dipetik selama pelatihan dan pendampingan, terutama tentang manajemen bisnis, peluang pasar dan pengembangan produk. Dari aspek literasi keuangan, kata Eli, dulu pencatatan yang dilakukannya amburadul namun berkat pendampingan sudah mulai rapi dengan pembukuan yang lengkap.
Hasil pelatihan yang melibatkan dua trainer bisnis ternama untuk membekali para pendamping dan pelaku UMKM, pun membuatnya terinspirasi melakukan inovasi produk dengan varian baru seperti rasa kelor dan daun alfa. Bahan tambahan ini banyak tumbuh di sekitar keramba. Namun, semua bahan dasarnya dari limbah cangkang kepiting.
DIMINATI WISATAWAN
Inovasi yang dilakukan Eli membuat produk CAKEP makin laris dengan meluasnya pemasaran tidak hanya di kios-kios melainkan juga ke homestay dan pengelola penginapan. Tak jarang, para wisatawan datang sendiri kemudian duduk bersila di gazebo di sela-sela kunjungannya ke sejumlah obyek wisata. Mereka tampak ceria menikmati renyah dan gurihnya kerupuk CAKEP.
“Paling laris, CAKEP varian cumi. Ini best seller, banyak diminati wisatawan,” ujar Eli. “Mereka tahu dari media sosial dan ada peneliti mangrove dari Kanada, kemudian sempat nyicipin CAKEP, ternyata menurut mereka enak dan dia pesan,” imbuh Eli yang didampingi pendamping UMKM program Gumi Seri, Zurhan.
Eli mengaku tak menyangka kerupuk CAKEP sangat diminati wisatawan yang bahkan menjadikan camilan ini sebagai oleh-oleh para turis untuk dibawa pulang ke negaranya.
“Selain rutin kita stok ke homestay, beberapa kali kita sudah ngirim ke Malaysia dan Kanada,” ungkap Eli yang sehari hari berdinas di Kantor Desa Pare Mas itu.
OMZET MENINGKAT
Eli menceritakan sebelum menekuni usaha kerupuk, ekonomi keluarganya tergolong pas-pasan. Sumber perhasilan hanya dari ayahnya yang sehari hari sebagai nelayan. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga yang sekali waktu membantu menjual hasil tangkapan.
Setali tiga uang, suami Eli yang bernama Jumadil dan anggota kelompoknya, pun mengais rezeki dari profesi sebagai nelayan. Penghasilannya tak menentu. Terlebih saat cuaca buruk, semua nelayan pasti tak akan melaut dan hanya mengurung diri di rumah atau mencari kerja serabutan.
“Sebelum adanya usaha sampingan, pendapatan keluarganya biasanya hanya berasal dari satu orang, yaitu kepala keluarga. Hal ini membuat keluarga sangat rentan apabila terjadi hal-hal tak terduga seperti sakit dan musibah lainnya,” tutur Eli.
Kini, Eli bersama keluarga dan anggota kelompoknya bisa senyum sumringah dengan adanya penghasilan tambahan. Apalagi perkembangan omzet penjualan kerupuk CAKEP mengalami peningkatan dengan bertambahnya produksi menjadi tiga kali setiap pekan yang menambah semangatnya. Satu kali produksi, diperlukan sekira 10 kilogram cangkang kepiting.
Dengan produksi itu setiap bulan Poklahsar “Ingin Maju” rerata memeroleh Rp3,5 juta. Sebelum pelatihan hanya Rp2 juta sampai Rp2,5 juta. Satu kemasan produk CAKEP hanya dibandrol Rp5 ribu, sedangkan kerupuk mentahnya dijual seharga Rp40 ribu perkilogram.
“Hal yang disyukuri, dulu cangkang kepiting jadi limbah yang dibuang, sekarang kita ubah jadi kerupuk dan jadi pundi ekonomi keluarga. Namun sementara waktu keuntungan sebagian besar untuk pengembangan usaha,” ucap putri pasangan Sabhan dan Harniati itu bersyukur.
Paling tidak, setiap bulan berhasil disisihkan Rp1,5 juta untuk pengembangan usaha kelompok yang beranggotakan 13 orang ibu-ibu itu.
SASAR 60 PELAKU USAHA
Penanggungjawab Lapangan Program Gumi Seri, Widya Kuswatun Harwin, menjelaskan program ini menyasar 60 pelaku usaha yang bergerak di sektor pariwisata di wilayah Kecamatan Jerowaru dan Sembalun. Usaha mereka beragam, mulai dari jasa tour guide, kelompok sadar wisata, BUMDes di desa wisata dan UMKM yang menunjang sektor pariwisata.
Selama ini, kata Widya, meski banyak UMKM sudah menjalankan bisnisnya bertahun-tahun tapi tidak ada peningkatan signifikan terutama dari sisi pendapatan. Pasalnya, pelaku UMKM tidak punya rencana bisnis yang baik kecuali sebatas berbisnis untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
“Bahkan banyak usaha yang buku tutup karena rencana bisnisnya tidak proper,” ujarnya seraya menambahkan bahwa program ini hadir untuk memberikan penguatan dan pendampingan kepada pelaku UMKM terkait pengelolaan bisnis yang baik sehingga lebih menguntungkan dan pendapatan semakin meningkat.
Manajer Community Development PT Amman Mineral, Dimas Purnama, menyebut program ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan.
Dalam hal ini, PT Amman Mineral mengadopsi pendekatan yang mendorong UMKM untuk menjalankan kegiatan ekonomi berbasis prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan yang sejalan dengan potensi besar Lombok Timur di sektor pariwisata
“Pariwisata berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari peran UMKM,” ungkapnya saat peluncuran Program Gumi Seri pada 15 Mei 2025 lalu.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur M. Juaini Taofik mengapresiasi upaya PT Amman Mineral dalam mendukung pemerintah daerah mewujudkan ekosistem pariwisata berkelanjutan selama dua tahun yaitu 2024 dan 2025. Karena, pariwisata tidak hanya bicara soal destinasi melainkan juga dukungan UMKM.
Menurutnya, kolaborasi Pemerintah Daerah dengan PT Amman Mineral melalui program Gumi Seri sangat tepat dalam mendukung ekosistem pariwisata berkelanjutan di Lombok Timur terutama di dua kecamatan sasaran program yaitu di Kecamatan Jerowaru dan Sembalun.
“Kita sudah banyak FGD, pendampingan dan mudah mudahan blue print tentang pariwisata berkelanjutan di dua kawasan wisata itu selaras dengan RPJM 2025 – 2030,” imbuhnya.
L.Ramli Nurawang
