Biomassa Lokal NTB Dikaji untuk Pengembangan Genteng Komposit dan Produk Bernilai Tambah

banner 120x600

Lombok Barat, DS- Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengidentifikasi peluang pemanfaatan biomassa dan bahan baku lokal menjadi produk material komposit bernilai tambah. Salah satu hasil pembahasan yang disepakati dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan dan Pemanfaatan Material Komposit Berbasis Potensi Lokal untuk Mendukung Inovasi Teknologi dan Industri Berkelanjutan” adalah penjajakan produksi genteng berbasis biomassa melalui UMKM dan koperasi desa.

Kegiatan yang berlangsung di Aula BRIDA Provinsi NTB, Lombok Barat, Kamis (5/11/2026), menghadirkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tim ahli BRIDA, serta perwakilan sejumlah perangkat daerah. Instansi yang hadir antara lain Bappeda, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta Dinas PUPR-PKP.

Dalam pemaparannya, tim peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, memperkenalkan pengembangan material komposit berbasis bahan lokal, di antaranya serat sorgum dan serat kelapa. Salah satu produk yang dibahas adalah genteng berbahan biomassa, termasuk pemanfaatan sabut kelapa dan bambu. Tim BRIN menjelaskan bahwa teknologi tersebut telah memiliki paten, dengan pengembangan teknologi berbasis serat kelapa yang memperoleh paten pada 2025.

Tim peneliti juga memaparkan hasil pengujian produk, termasuk pengujian terhadap pemanasan dan ketahanan api. Namun, pengujian ketahanan dalam kondisi lingkungan terbuka masih memerlukan pengamatan lebih panjang untuk memperoleh data mengenai masa pakai dan tingkat kerusakan produk. Selain aspek teknis, efisiensi biaya produksi juga menjadi perhatian agar produk dapat dikembangkan secara ekonomis dan dijangkau oleh pelaku usaha maupun masyarakat.

Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, menyampaikan bahwa NTB memiliki potensi biomassa dan hasil samping pertanian yang dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Menurutnya, pemanfaatan potensi tersebut membutuhkan dukungan teknologi, keterampilan, serta kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga riset, dan pelaku usaha.

Ia mencontohkan pemanfaatan kulit jagung yang berdasarkan hasil riset BRIN berpotensi diolah menjadi material peredam suara. Sementara itu, bonggol jagung juga dapat dikaji sebagai bahan baku komposit. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil samping pertanian yang selama ini belum optimal diolah.

Kepala BRIDA NTB juga menyinggung pentingnya riset yang menjawab kebutuhan daerah, termasuk persoalan ketersediaan air bawah tanah di kawasan selatan NTB. Ia menyampaikan bahwa peluang kolaborasi dengan peneliti BRIN perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan kajian yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan daerah.

Dalam diskusi, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan turut mengangkat persoalan limbah di kawasan pesisir, seperti sisa sisik ikan, cangkang kerang, dan sampah plastik. Isu tersebut menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti melalui kajian pemanfaatan limbah dan kemungkinan penerapan teknologi yang sesuai. Namun, diperlukan pembahasan teknis lebih lanjut bersama BRIN untuk mengidentifikasi teknologi pengolahan yang tepat.

Sebagai tindak lanjut, BRIDA NTB akan menjajaki keterlibatan UMKM dan koperasi desa dalam pengembangan produksi genteng berbasis biomassa. Langkah ini diharapkan dapat menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri dan peluang usaha di daerah. BRIN juga memperkenalkan teknologi ecoprint yang telah diberikan melalui pelatihan kepada 15 perajin UMKM.

Melalui FGD ini, BRIDA NTB berupaya mempertemukan hasil riset dengan potensi sumber daya lokal dan kebutuhan perangkat daerah. Pemanfaatan biomassa diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (adi)