Suasana riang gembira tergambar di wajah para ibu di Desa Aik Dewa, Kecamatan, Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (28/4). Mereka berdialog masalah pengasuhan anak dari sisi pendidikan maupun kesehatan dalam momen “Dialog Warga”.
Dialog yang dihadiri fasilitator PLKB Pringgasela Rahmatullah, Ketua PKK Aik Dewa, Sahiri pengurus LPA NTB dan sejumlah ibu lain, berkenaan dengan Program Berani II yang fokus pada upaya pencegahan perkawinan anak.
Desa Aik Dewa sebagai salah satu desa sasaran sudah menerbitkan Peraturan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).
Dalam dialog mengemuka bahwa semua proses yang berlangsung dalam kehidupan keluarga berpulang kepada anak. Karena itu, perlu penataan keluarga termasuk dalam masalah perkawinan.
Para ibu pun mendiskusikan cara mengontrol anak di era digital agar anak anak terarah menggunakan gadget.
“Diperlukan kontrol terhadap anak. Jangan sampai di usia muda berpacaran online dan kemudian menikah di usia muda, ” ujar Ketua PKK Aik Dewa, Sahiri.
Meningkatkan kualitas hidup anak dimulai dari peran orangtua dalam mendidiknya.
“Anak-anak dicegah agar tidak melakukan perkawinan dini, apalagi sudah ada UU yang mengatur, ” lanjut Sahiri.
Ia menambahkan pernikahan anak harus diputus mata rantainya dan jangan mengikuti cara dulu. Dalam kaitan itu, ibu ibu diajak pula ikut bersosialisasi.
Sekretaris LPA NTB, Sukran Hasan, mengatakan hal yang diperlukan dari peran orangtua adalah mengajak anak pada kemandirian.
“Pelatihan mandiri agar anak berlatih kritis dengan kemampuannya sehingga tidak mendapat kekerasan, ” katanya.
Fasilitator PLKB, Rahmatullah, mengatakan dialog warga memudahkan dirinya dalam bersosialisasi di masyarakat. Termasuk sosialisasi pencegahan perkawinan anak khususnya dan kesehatan pada umumnya nya. Ian
