Sering penulis liat di media sosial adanya kelompok berseberangan dengan pemerintahan Pak Bowo mencoba bersuara kritis; entah mengenai MBG, Koperasi Merah Putih, mengenai pernyataan-pernyataan para pejabat yang tidak punya kualitas dan lain sebagainya.
Respon pro pemerintahan pun tidak ragu-ragu menyematkan Anak Abah pada kelompok kritis atau kelompok berseberangan. Seakan di Indonesia penduduknya hanya terdiri dari dua entitas yaitu kelompok Pro Abah Anies dan Pro Pemerintahan.
Pada kenyataanya semua warga Indonesia juga mengetahui jumlah penduduk cukup besar dengan keragaman yang sangat majemuk pula. Tidak dapat disederhanakan setiap orang kritis atau berseberangan dengan pemerintahan Pak Bowo kemudian di gelari dan distigma Anak Abah. Cara seperti itu merupakan logika cacat. Simplisiti dan tidak menggunakan akal sehat.
Pada kenyataannya banyak entitas yang tidak saja Pro Anies tetapi juga pro NKRI, pro Tanah Air, pro kebaikan untuk mencintai Indonesia. Bagaimana pun juga masih banyak masyarakat Indonesia yang berakal sehat melihat bahwa Indonesia memang memerlukan cara kelola baru yang baik dan benar.
Mereka mengkritik atau memperingatkan pemerintah bukan sekedar hendak berseberangan dengan pemerintah, melainkan sebagai bentuk ekspresi keprihatinan, ekspresi kecintaan dan ekspresi kegalauan mereka melihat Indonesia dewasa ini.
Di sisi lain ada pula pernyataan Presiden baru-baru ini dengan kata kabur ke Yaman. Pada konteks ini yang dimaksud adalah barang siapa yang menganggap Indonesia penuh dengan masalah maka dipersilahkan kabu ke Yaman. Ini juga mengandung simplisiti, di mana seolah-olah dunia hanya ada Indonesia dan Yaman saja.
Terlepas dari itu nampak sekali narasi pemerintahan Pak Bowo sangat “tidak senang” dengan kelompok Abah Anies. Siapa pun yang berseberangan dengan pemerintahan atau mengkritik maka digelari anak abah. Siapapun yang tidak senang dengan keadaan Indonesia saat ini di suruh kabur ke Yaman. Dua keadaan yang keduanya merupakan pukulan ganda pada pihak pro Anies.
Penulis pun heran mengapa Anies ini sangat di benci, di khawatirkan dan atau ditakuti oleh pemerintahan Pak Bowo? Bukankah dengan menyebut-nyebut Anies malah membuat Anies semakin menanjak popularitasnya. Apalagi Anies memang tidak bisa disangkal berasal dari keturunan Yaman. Jika terkomfirmasi sebutan-sebutan stigma anak abah dan kabur ke Yaman memberi efek positif pada pihak Anies maka bersyukurlah bagi pihak Anies dan pendukungnya.
Meskipun memang sebutan anak abah dan kabur ke Yaman merupakan konotasi betapa pendukung pemerintah dan pemerintahan Pak Bowo sangat anti pada pihak Anies. Pada kenyataanya harus pula mereka sadari bahwa dengan terus-menerus membuat pernyataan demikian maka itu artinya kampanye gratis bagi pihak Anies. Tidak menutup kemungkinan pihak Anies mendapat simpati luas masyarakat karena terus menerus “dipojokkan”. Apalagi pada kondisi Indonesia saat ini yang penuh dengan kritik pada MBG misalnya. Seperti yang banyak sekali ditulis oleh berbagai pihak dengan menempatkan MBG pada narasi negatif. Terbaru di mana hari buruh pada tanggal 2 Mei di mana Pak Bowo mempertanyakan manfaat MBG, lalu dijawab oleh ribuan buruh yang hadir dengan kata tidak bermanfaat.
Refresentasi demikian menempatkan pemerintahan Pak Bowo pada kenyataan pahit, tetapi dikatakan sebagai capaian yang sangat baik. Merupakan program yang sangat agung. Begitu terus yang direproduksi, tetapi tidak pernah mau jujur pada suara kritik yang datang bertubi-tubi bahwa MBG banyak mendatangkan mudharat. Pun dengan koperasi merah putih yang terkesan dikomando, merupakan jenis koperasi yang tidak natural berjalan. Padahal koperasi itu mestinya tumbuh berdasarkan kesadaran kolektif anggota-anggotanya, sehingga dimungkinkan terbentuknya koperasi =cooperation (kerja sama).
Jika dibentuk dengan cara “paksaaan” maka itu artinya tidak ada kekuatan yang mengakar pada realisasinya. Semua serba di setting yang sebenarnya mempunyai potensi untuk gagal karena tidak ada jalinan partisipasi yang kuat dari masyarakat di mana koperasi itu didirikan. Koperasi didasari oleh semangat kebutuhan akan kerja sama anggota-anggotanya secara suka rela dengan adanya semangat gotong royong yang tinggi.
Suara-suara kritik seperti yang dinukilkan terdahulu kemudian di sederahanakan menjadi suara anak abah. Lalu di suruh kabur ke Yaman. Tentu saja model demikian sangat tidak konstruktif bagi kebesaran pemerintahan Pak Bowo. Masyarakat bisa menilai kapasitas pemerintahan yang hanya melakukan simplisiti. Padahal yang diperlukan adalah bercermin pada apa yang telah berjalan lalu melakukan upaya evaluasi mendasar dan menyeluruh.
Jika hasil evaluasinya baik maka ada harapan untuk memperkuat posisi Pak Bowo di pemilu 2029 untuk mendapat hasil yang memuaskan. Jika tidak ada evaluasi mendasar dan menyeluruh mungkin Pak Bowo berharap pada buzzer dan pencitraan tiada henti untuk menyambut 2029 kelak. Bagaimana pun paradigm kerja pemenangan bisa jadi masih sangat berpegang pada konsep post truth, di mana kepalsuan seolah-olah merupakan kebenaran dan harus diterima.














