Karl Marx dan Ketika Agama Sebagai Candu

Ahmada Efendi, Staf Ali Dachlan Center, Jln. Dr. Soetomo No 19 Karang Baru Mataram

banner 120x600

Sangat sulit membayangkan adanya solidaritas kelompok dalam alam kapitalisme. Bagaimana pun juga kapitalisme pada dirinya sudah melekat padanya sifat perorangan (individualism). Pada kapitalisme sebagai ide telah melekat padanya superioritas orang perorang. Bukan dihitung superioritas kelompok.

Pada kepemilikan modal yang sudah pasti tidak merata di antara semua orang akan selalu berujung pada konflik kelas karena perbedaan akumulasi modal itu sendiri. Inilah yang memberi inspirasi pada Marxis sehingga sejak lama dia mengingatkan pada masyarakat bahwa ada “konflik” yang tidak pernah berujung dengan adanya kesenjangan modal di tengah-tengah masyarakat.

Lalu dikenal istilah teori konflik antar kelas. Semua bermuara pada hilangnya solidaritas lantaran adanya perbedaan kuantitas modal di antara masyarakat. Penulis akhir-akhir ini mau menegaskan kenyataan dari teori kelas Marxis. Bagaimana pun hal itu semakin menggejala di masyarakat.

Jikalau menggunakan kerangka pikir agama Islam, di mana Allah Swt tidak memandang rupa, tidak memandang harta benda, tidak memandang jabatan tetapi memandang hati dan ketakwaan, maka dalam padangan marxis yang dipandang adalah seberapa besar akumulasi modal. Bagaimana pun perbedaan kepemilikan modal pada realitasnya telah membentuk siapa yang layak dipanggil bos, siapa yang di panggil buruh, pesuruh, pembantu dan seterusnya. Dari dua kerangka pikir terdahulu, nampak agama mencoba menetralisir fakta ketimpangan antara kaum bermodal dengan tidak bermodal. Agama mencoba memberi penawar terhadap realitas yang tidak terjembatani antara kaum berpunya dengan tidak berpunya.

Jangan kan status Bos besar, masyarakat dengan variable tertentu saja kadang merasa perlu mengkelaskan diri mereka pada sebuah level yang bisa mereka identifikasi. Klasifikasi social di masyarakat itu bisa berdasarkan banyak variable. Bisa karena variable kekayaan, sama-sama kaya maka mereka mempunyai sebuah komunitas. Sama-sama politisi maka akan sama-sama mempunyai komunitas politisi. Sama-sama aktivis maka akan mempunyai komunitas aktivis, begitu seterusnya.
Begitulah realitasnya sangat terang benderang, bahwa ada perbedaan kelas-kelas social di masyarakat, sehingga jauh-jauh hari Marxis sudah menuliskannnya. Setidaknya Marxis sudah sangat jujur mengakui. Lalu apakah karena marxis orang Eropa lalu di sini hendak disamarkan pengakuan kejujuran Marxis itu? Saya kira perlu sesekali kejujuran untuk mengakui realitas sejatinya.

Dengan pengakuan yang jujur memungkinkan masyarakat dapat mengambil sikap yang perlu. Misalnya pada realitas kapitalisme yang menggejala di kehidupan masyarakat. Gejala ini tidak bisa dinafikan karena nampak adanya. Walaupun tujuan Marxis hendak “menghadang kapitalisme”, tetapi Marxis mengakui bahwa ada perbedaan kelas yang tidak terjembatani di dalam masyarakat. Dan hal ini telah berlangsung sejak zaman kuda bisa gigit besi.

Pada konteks Indonesia yang tidak mempunyai pijakan jelas, ambiguitas dalam memegang ideology, kejujuran itu semakin urgen. Bagaimana pun kejujuran dapat menjadi kunci keselamatan pada konteks-kontes tertentu. Secara formalitas Indonesia menyuruh semua warga negaranya berideologikan pancasila.

Pada kenyataannya di lapangan ideologi pancasila hampir-hampir tidak menemukan pijakannya. Ketimpangan di mana-mana, tetapi “tidak ada yang mempersoalkannya”, akhirnya dibiarkan berjalan terus. Pada saat yang sama agama memberikan hiburan dengan berbagai nasihatnya. Menghibur masyarakat yang tidak mempunyai akumulasi modal.

Salah satu nasehat untuk masyarakat tidak berpunya adalah boleh miskin di dunia tetapi janganlah sekali-kali miskin di akhirat. Artinya miskin di dunia tidak akan menghilangkan kesempatan untuk kaya di akhirat. Asalkan tetap mengabdi kepada Allah Swt.

Demikianlah, ketika Negara tidak pernah mau tulus mengakui praktik-praktik ideology yang membolehkan ketimpangan. Agama lah sebagai tumpuan hiburan masyarakat. Pada konteks inilah Marx benar bahwa agama adalah candu, ia menghibur. Meminjam istilah Marxian di mana agama menghilangkan keputusasaaan antara kaum borju dengan kaum proletar.