Memasuki bulan ke enam sejak terbunuhnya Imam Ali Khomeini pada bulan Februari 2026, oleh serangan gabungan Israel-USA, pemakamannya kini dilakukan dengan seremoni cukup panjang. Dihadiri oleh lautan masyarakat Iran bersama dengan segenap perwakilan luar negeri Negara-negara yang bersimpati ke Iran. Menurut beberapa sumber diperkiarakan jumlah pengantar jenazah Imam Ali Khomeini dikisaran 10 juta-an.
Menarik di simak dalam salah satu potongan seremoni di mana para perwakilan negara-negara sahabat diberikan kesempatan secara bergiliran untuk memberikan penghormatan dan do,a terakhir kepada jenazah supreme leader Iran. Setiap perwakilan yang terdiri dari 5 sampai puluhan orang diiringi oleh bacaan ayat-ayat suci Al-qur,an. Apa makna terdalam dari perstiwa pembacaan ayat-ayat suci ini?
Bagi masyarakat bisa jadi hanya seremoni do,a dan penghormatan kepada supreme leader, tetapi sesungguhnya hal demikian telah menghancurkan sekat-sekat yang sudah lama diusahakan oleh para propagandis barat dan sekutu untuk mengkotak-kotakkan kaum muslimin. Harus diingat bahwa sejak Iran menjadi Negara yang menantang hegemoni USA, sejak itu pula propaganda dilancarkan dengan berbagai macam cara. Mulai dari isu syi,ah bukan islam, syi,ah sesat sampai pada syi,ah mempunyai Al-qur,an yang berbeda dengan kaum muslimin lainnya.
Lewat seremoni pemakaman tuduhan bahwa Al-Qu,an kaum Syiah berbeda dengan Alqur,an kaum muslimin lainnya langsung terbantahkan. Selama ini media terus memutar-mutar narasi bahwa syi,ah lain dengan kaum muslimim kebanyakan, ternyata sekali lagi dibuktikan bahwa qur,annya kaum syi,ah tidak berbeda dengan qur,an kaum muslimin pada umumnya. Di sebalik pembacaan itu pula terdapat pembelajaran bagi masyarakat muslim seluruh dunia bahwa pesan-pesan yang disampaikan hendak menyindir, di mana misalnya Arab Saudi mendapatkan bacaan Al-qur,an ayat 13 Surat Ali –Imran yang berkisah mengenai perang badar di mana kaum muslimin terdiri dari kelompok kecil sedangkan kaum kafir terdiri dari dua sampai 3 kali lipat, namun berkat pertolongan Allah Swt kaum muslimin waktu itu memenangkan perang badar tersebut. Sedangkan Turkiye mendapatkan ayat 95 surat Annisa di mana Turkiye disentil karena terlalu cari aman saat perang Iran melawan Israel-USA. Bahwa berjuang dengan jiwa dan harta lebih utama dari sekedar berjuang hanya dengan kata-kata, demikian makna sindiran bacaan Al-qur,an untuk delegasi Turkiye.
Berbeda dengan dua Negara Islam terdahulu, Pakistan justru mendaptakan bacaan yang mendoakan posisi Pakistan sebagai negara tetangga yang mempunyai sikap jelas atas pembelaannya kepada Iran. Sedangkan untuk delegasi Palestina-Hamas, Hizbullah dan Houthi diperdengarkan ayat-ayat pujian mengenai jihad dan janji setia. Sementara untuk delegasi Rusia dan China diperdengarkan ayat-ayat ketenangan, kedamaian dan harmoni sejalan dengan sikap mereka yang sama sekali tidak pernah merasa terganggu dengan perjuangan Iran.
Dengan demikian seremoni pemakaman supreme leader penuh makna, tidak hanya berisi do,a untuk melepas Khomieni tetapi memberi multimakna, mulai dari makna diplomasi, makna sikap Iran terhadap Negara-negara delegasi sampai pada makna simbolik yang memperlihatkan betapa musuh Iran harus berfikir ulang, karena bagaimana pun Iran mampu mendatangkan sebegitu banyak pentakziah untuk melepaskan kepergian Khomeini ke alam keabadian. Artinya Imam Khomieni sangat dicintai oleh rakyatnya beserta masyarakat Internasional lainnya, sehingga propaganda bahwa adanya kebencian masyarakat Iran khususnya dan dunia pada umumnya terhadap rejim Repuplik Islam Iran terbantahkan dengan jelas. Bagaimana pun propaganda USA –Israel dan sekutunya mengatasnamakan rakyat Iran yang tertindas di bawah rejim Republik Islam Iran untuk kemudian mau menggantikan rejim Republik Islam Iran. Sebuah propanda murahan yang sudah mulai kehilangan pengaruhnya.
Puncak Kecemburuan USA
Seremoni pemakaman supreme leader Imam Khomieni tidak hanya digelar di Iran, tetapi juga digelar di Irak. Pada saat Presiden Iran Phezeskian berada di Najaf Irak dalam rangkaian seremoni pemakaman dikabarkan USA menyerang bagian selatan Iran. Diberitakan beberapa warga sipil terluka dengan serpihan mortar yang dilepaskan oleh pihak USA. Serangan dilaporakan terjadi di sejumlah lokasi seperti di Bandar Abbas, Pulau Qeshm Kawasan Selat Hormuz yang menyasar dermaga komersial, dermaga nelayan, kapal-kapal sipil, serta sebuah menara komunikasi di Bandar Abbas (detik, 8 juli 2026).
Dari peristiwa penyerangan USA di atas, Nampak jelas betapa kecemburuan USA tidak bisa ditahan-tahan. Bagaimana pun juga seremoni pemakaman supreme leader telah memberikan kejutan yang sangat signfikan bagi USA dan sekutu. Bagaimana tidak berhari-hari seremoni pemakaman berlangsung, berhari-hari pula nampak jutaan manusia mengiringi kepergiannya. Bahkan dikatakan oleh salah seorang anggota CIA, bahwa belum ada tokoh sejak paling lama 250 tahun terakhir yang diiringi pemakamannya dengan jumlah jutaan manusia sebanyak penghantar Imam Komeini ke pemakamannya. Hal ini sudah pasti membuat USA cemburu tingkat tinggi. Simpati dunia kepada Iran “membahayakan” geopolitik dan geostrategi USA di kawasan.
Di sisi lain perwakilan dari seluruh dunia juga tidak sedikit yang datang. Setidaknya ada 34 negara yang mendelegasikan kehadirannya dalam seremoni pemakaman supreme leader Iran. Maknanya bahwa dukungan terhadap posisi Iran menghadapi aggressor dari USA dan sekutu dekatnya Israel alih-alih menyusut malah meluas dan membesar.
Dalam konteks USA sebagai hegemon global, hal itu dapat menjadi kemunduran secara bertahap cengkaraman USA ke dunia. Konsekeunsi jelas pada berbagai bidang seperti berkurangnya pengaruh USA di bidang ekonomi domestik karena satu persatu negara-negara satelit akan mengurangi ketergantungannya kepada USA. Militer USA secara bertahap akan berkurang juga di berbagai nengara-negara. Sampai pada mundurnya pengaruh budaya USA diberbagai Negara. Begitu juga dengan system demokrasi liberal dan HAM dengan ciri khas Barat bisa saja ditinggalkan dan seterusnya.
Kekhawatiran-kekhawatiran hilangangnya Americanism di dunia internasional, dapat menjadi alasan kuat USA dan sekutu dekatnya Israel untuk terus menekan setiap negara yang membandel seperti Iran. Bagaimana pun USA sudah menikmati buah dari hegemoninya sejak berakhirnya perang dunia II dengan terbentuknya berbagai instrument lembaga-lembaga dunia seperti PBB, IMF , Bank dunia dan lain-lainnya. Dengan kemunduran pengaruhnya, instrument-instrumen itu juga terancam tidak bisa berjalan dengan mulus.














