Wajahnya sumringah. Ramah dengan senyum itu tak pernah lepas dari belahan bibirnya. Itulah Sumarni, 63 tahun, penjahit pasar yang setia mangkal di los utara Pasar Pagesangan, Kota Mataram.
Kisahnya bermula jauh sebelum pasar ini berdiri megah. Dulu, ia membuka lapak di pasar lama, tepat di lampu merah Pagesangan. Ketika pasar direlokasi, ia pun ikut berpindah, menyeret mesin jahit tuanya ke los baru, di sisi musholla pasar.
Hampir 25 tahun ia melakoni hidup sebagai penjahit tradisional. Sepuluh tahun di Pasar Lama, lima belas tahun di Pasar Baru.
Di usia yang telah masuk senja, ketika mesin-mesin otomatis dan teknologi perlahan menggusur tenaga manusia, suara dinamo mesin jahit tua milik Sumarni itu masih bertahan. Pelan, berderak, namun setia, dari los belakang yang sempit.
Sumarni adalah satu dari sedikit sosok terampil yang bertahan hidup dengan kekuatan tangannya sendiri.
Perempuan asal Sekarbela ini hanya mengandalkan satu warisan: keterampilan menjahjt. Di tengah derasnya modernisasi kota yang serba instan, ia menyambung hidup dari helai demi helai benang.
Begitu orderan datang, tubuh rentanya bergegas cekatan. Tangannya yang keriput dengan lincah mengarahkan kain ke atas mesin jahit tua di meja kayu sederhana. Di sampingnya, perkakas setia tertata rapi: meteran yang warnanya mulai pudar, gunting yang mengkilap karena sering diasah, gulungan benang warna-warni, dan potongan-potongan kain sisa.
“Keterampilan menjahit ini warisan dari orang tua. Dulu waktu masih SD, saya sering diajak keliling menerima orderan jahitan orang. Disuruh bantu. Lama-lama, ya bisa sendiri,” ujarnya pelan, dengan logat Sasak yang kental.
Kisah penjahit pasar seperti Sumarni adalah cermin nyata tentang ketekunan. Tentang adaptasi dan perjuangan melawan zaman. Di sudut kios sempit itu, deru mesin jahitnya beradu dengan riuh langkah pembeli, seolah bercerita bahwa profesi legendaris ini menolak untuk punah.
Namun gempuran itu nyata. Serbuan fast fashion dan pakaian jadi yang murah di e-commerce membuat orang tak lagi membeli kain untuk dijahit menjadi baju baru. Inilah tantangan yang tak terbendung bagi para penjahit lawas.
Akibatnya, penurunan omzet tak bisa dihindari.
“Kisarannya minimal sehari dapat Rp100 ribu. Kalau ramai bisa sampai Rp200 ribu. Tapi yang penting bagi kami adalah rasa syukur. Harus tetap dipanjatkan, biar rezeki bertambah,” terang Sumarni.
Agar dapur tetap mengepul, penjahit pasar seperti dirinya tak tinggal diam. Ia berinovasi, menyesuaikan diri dengan pesanan apa saja: permak celana yang kebesaran, mengecilkan kebaya, hingga menambal seragam sekolah yang robek.
Di los yang pengap itu, Sumarni mengajarkan satu hal: bahwa bertahan hidup tidak selalu tentang menjadi yang paling modern. Terkadang, cukup menjadi yang paling setia pada keterampilan sendiri. Adi
