Plank bertuliskan Sade di pinggir jalan masih utuh. Namun di seberang jalan, kumpulan rumah tradisional yang biasanya tampak meneduhkan, sudah hilang. Lenyap tak bersisa.
Batang-batang pohon tergeletak seperti sisa kayu yang tak habis dibakar. Warnanya hitam hangus dan dibiarkan menumpuk bersama puing puing reruntuhan. Selebihnya pohon yang ringkih mengering tegak dengan daun hitam yang berguguran.
Tonjolan pondasi, lantai rumah, dan undagan yang tersisa menjadi alur pengunjung melangkahi menuju areal lebih tinggi. Ada mushalla yang menyisakan aktivitas lima kali sehari namun tidak lagi terlindung seperti dulu. Para jamaah hanya dinaungi atap nonpermanen dengan lantai beralas terpal. Angin bertiup kencang menghalau panas pada Selasa (1/9) siang itu.
Inilah lokasi satu satunya yang masih dikunjungi warga untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Masih ada tempat berwudhu melepas debu debu sebelum mereka melakukan rukuk dan sujud.
KEMBALIKAN RUMAH SEMULA
Hangusnya areal Sade membangkitkan kenangan tersendiri bagi korban kebakaran. Tentang rumah tradisional beratap ilalang, berdinding anyaman bambu, berlantai tanah. Selebihnya tentang alat tenun yang dimainkan tangan-tangan renta dan remaja. Bukan sebatas harta melainkan nilai sebuah peninggalan yang terus menggenang.
Inaq Tina, korban kebakaran Sade, mengaku kehilangan harta senilai Rp 1 miliar karena banyak koleksi tenun berharga yang dimilikinya hangus. Akibatnya, Inaq Tina kini mengungsi di kediaman orangtuanya.
Sedangkan Inaq Najwa mengakui pula kerugian yang tidak kecil, yakni mencapai ratusan juta rupiah. Namun, hal yang menyedihkan baginya adalah kehilangan alat tenun bukan mesin disamping rumah khas yang biasa digunakan untuk bisnis dan istirahat.
Dari usaha berjualan kain tenun, Inaq Najwa biasanya bisa menghasilkan antara Rp200. 000 hingga Rp300. 000 sehari. Akibat rumahnya hangus, keluarganya tidak lagi mendapatkan penghasilan dan mengandalkan bantuan keluarga maupun orang lain.
Menurutnya, rumah Sade baru yang akan dibangun dijadwalkan sebelum bulan November. Sedangkan modelnya dikembalikan dengan model seperti semula berbahan baku alang-alang, bambu, tanah termasuk kotoran sapi.
Tanpa lustrik dan kompor gas, hal itu dinilainya akan lebih aman. Namun ia meminta pengamanan dari berbagai kemungkinan musibah agar disediakan.
Hal serupa dikatakan Inaq Dita. Bentuk hingga bahan baku rumah seperti semula akan dilakukan masing-masing pemilik dengan bantuan masyarakat.
ALAT TENUN
Hal yang cukup menyedihkan bagi Inaq Najwa adalah kehilangan alat tenun yang biasa digunakan menenun. Alat tersebut merupakan peninggalan leluhurnya yang tidak terbeli. Ia mengaku memiliki hingga 3-4 alat tenun.
Jika dikalikan 85 KK pemilik rumah di Sade, diperkirakan hampir 300 alat tenun yang menjadi abu. Untuk pengadaan alat diperlukan sedikitnya Rp3 juta untuk pembelian per unit.
Najwa mengatakan sebelum melakukan pemesanan ke tukang, terlebih dahulu akan membeli jika ada yang tidak terpakai oleh penenun di dusun lain. .
“Kehilangan alat tenun ini adalah kehilangan terbesar kedua setelah kehilangan rumah karena keduanya merupakan peninggalan leluhur, ” katanya.ian














