Belum genap sepekan kami melakukan videocall saat mendengarnya masuk rumah sakit. Ditemani sang istri, H. Dinullah Rayes, terbaring. Tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya.
Usianya memang sudah sepuh, 89 tahun. Penyakit muncul silih berganti seiring waktu yang menua. Jauhlah kuasa.manusia atas dirinya. Di sanalah terbersit kepasrahan sebagai puncak tertinggi pertahanan.
Kami bercakap dan melihat wajahnya yang nampak pucat. Sejenak ia seperti hendak mengurai ingatan siapa lawan bicaranya. Sang istri membisikkan sebuah nama ke telinga hingga dia tersadar, kemudian kata kata puitis yang khas pun meluncur dari belahan bibirnya.
Nada bicaranya masih cukup jelas. Namun, rapuh tubuh yang dibelit sakit membuat Papin Din, begitu kami menyebutnya, membuatnya tak kuat bangkit dari bangsal putih bisu.
Hari berlalu…
Hingga pada Jumat (1/5), ketika sedang dalam perjalanan untuk suatu kegiatan organisasi JMSI, kabar duka hinggap. Ini seakan mengurai bayangnya yang selalu datang. Serpihan kecil di atas kursi ruang tamu tempatnya kadang tertidur seperti meninggalkan jejak tubuhnya.
Setiap kali puisinya mampir via WA laksana merenda kehadirannya, berhari-hari. Sehingga, kabar duka itu sekaligus membuat tangan ini secara reflek membuka kembali bait-bait puitis yang masih tersimpan.
Ada puisi yang sempat ia goreskan.
Tubuh — kalbu sembari tidur mencari mimpi yang dirindukan/Sastra — budi daya/Di aneka batu kalbu gunung sedang merenung//Sayapun menulis di kertas bekas putih puisi/Diantar sekawan angin kembara yang mengembara//Saya sakit lansia dan nyeri sendi sungguh pedih — perih sekali/Menidurkan mimpi kelopak mata kepala/Diganggu angan layang — layang yang putus benang anjungannya//Saya rindu akar cinta kasih fitri/Di pintu Mu saya mengetuk berkali — kali
Puisi “ISTIRAHAT JARI HATI TELUNJUK DI ANDROID BENTAR dan SABAR” ditulis Selasa, 31 Maret 2026.
Bukan puisi terakhir.
H. Dienullah Rayes mengirimkan bait-bait sajak terakhir 5 April 2026 dengan judul PENGANTAR LIDAH KATA-KATA . Tak ada setelahnya kecuali berita kepulangannya di hari baik yang menyulam kenangan baik. Innalilahi wainnailaihi rojiun.
SILATURRAHMI YANG TAK PUTUS
Sebelum ditimpa sakit, Dienullah Rayes merupakan sastrawan yang sangat rajin bersilaturrahmi. Tiada hari tanpa kunjungan ke sejumlah sahabat dari berbagai daerah. Selalu menebar kesan baik. Selalu melahirkan bait-bait sajak.
Pengalaman kecil pada seseorang adalah sajak. Mengunjungi dan dikunjungi, diam maupun berjalan, adalah sajak. Ia memberi ruang intuisi dengan sadar, sangat detil sebagai sentuhan estetik. Ruang itu begitu cermat dikelola menjadi kebiasaan seperti menghirup udara.
Dienullah Rayes tidak memiliki suudzon pada setiap orang. Sikap baik yang selalu membersamainya membuat keberterimaan yang sangat terbuka bahkan bagi mereka yang dikenal pertama kali dari lintas status sosial.
Ia memelihara dengan rapi hubungan sosial dengan siapapun bagaikan memelihara nafasnya. Walau tidak pernah menjawab kiriman buah karyanya, Dienullah terus menerus mengirimkan karya terbaru. Sebuah kebiasaan humanis. yang langka dipunya manusia di muka bumi ini.
Itulah model silaturrahminya sejak beberapa tahun terakhir ketika kaki tak sanggup lagi berjalan. Puisi demi puisi yang tak kenal henti. Bukan lagi soal apakah karyanya itu dibaca melainkan inilah sebuah sapaan dan konsistensi silaturrahmi yang tak mengenal putus.
MENUA BERSAMA PUISI
Hingga berusia 89 tahun, Dienullah Rayes mengukir “keabadian” bersama puisi. Karya-karya yang membesarkan namanya, yang membawanya melanglang buana, tak pernah dilupakannya.
Tidaklah mengherankan jika buku kumpulan puisi Dienullah Rayes hampir tak terhitung jumlahnya. Puisi ibarat mutiara yang ingin selalu dipelihara, dihimpun, disimpan, diabadikan di atas kertas dan ruang mana pun.
Ia sadar hanya dengan puisi bisa memberi dan bersilaturrahmi. Kumpulan kata-kata yang tak jauh dari pengalaman dan fenomena sosial.
Di saat tubuh tak berdaya, Dienullah menyadari semuanya kian dekat. Pengalaman batin yang juga ia rangkai dalam sajak.
Kita datang dan pulang/Tergantung umur terukur/Dari Pesona Kuasa Cinta Semesta/Bukan pada yang lain selain Engkau/Maha Jurdil Tunggal dan Unggul.
Puisi Dienullah Rayes “PENGANTAR LIDAH KATA — KATA’
Selamat jalan Papin Din. riyanto rabbah














