Selong,DS– Atinah (60) pensiunan PNS asal Masbagik Selatan Kabupaten Lombok Timur, patut menjadi contoh bagi para pensiunan. Meski sudah purna dari PNS, ia tetap produktif menghasilkan pundi pundi ekonomi. Atinah sukses raup cuan melalui jualan kue.
Atinah awalnya iseng karena hobi membuat kue untuk disajikan ke keluarga. Tapi siapa sangka, hobinya itu menjadi ladang usaha menjanjikan dan berhasil menggerakkan ekonomi keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Memang, Atinah sosok perempuan kreatif dan pekerja keras. Ia tak pernah berhenti beraktifitas dan terus berkreasi hingga menemukan momen yang tepat dengan merintis usaha kue dan sekarang menjadi owner UMKM Dapur Sendi.
“Saya tidak bisa diam. Setelah pensiun, saya ingin tetap punya kegiatan. Kebetulan saya suka buat kue,” ucap
Dari rumah sederhananya, Atinah menggerakkan roda ekonomi mikro di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, usaha ini bukan sekadar tentang produksi kue. Di balik loyang-loyang berisi camilan itu, tersimpan kisah tentang keteguhan, harapan, dan pemberdayaan.
Setelah purna dari PNS dua tahun lalu, Atinah mulai memproduksi kue-kue rumahan yang dulu hanya ia sajikan untuk keluarga. Dengan resep warisan ibunya, ia mencoba menerima pesanan dari tetangga.
“Awalnya iseng. Saya buat satu toples, lalu dua. Ternyata banyak yang suka. Akhirnya saya seriuskan,”tuturnya.
Perlahan, Dapur Sendi berkembang. Atinah membeli alat-alat tambahan dan menyulap dapurnya menjadi ruang produksi. Namun, ia tidak bekerja sendiri. Ia menggandeng anak-anak muda dari berbagai desa di Lombok Timur. Ada yang baru tamat sekolah, ada pula yang belum mendapatkan pekerjaan tetap.
“Mereka butuh pekerjaan. Saya pikir, kenapa tidak kita jalan sama-sama?” ujar Atinah.
Ada enam anak muda yang kini membantunya setiap hari. Mereka datang pagi, membantu mulai dari mencetak adonan hingga proses pengemasan. Bagi Atinah, ini bukan sekadar urusan bisnis, tapi tanggung jawab moral.
Ia sadar betul, di tengah keterbatasan lapangan kerja, kehadiran UMKM seperti miliknya bisa menjadi alternatif bagi mereka yang belum terserap pasar kerja formal.
“Saya tidak bisa bantu banyak. Tapi kalau satu dua anak bisa punya penghasilan, itu sudah cukup bagi saya,” ucapnya, pelan.
Produk Dapur Sendi kini dikenal hingga ke luar Kecamatan Masbagik. Permintaan meningkat terutama saat Lebaran, acara syukuran, dan musim hajatan. Ia bahkan pernah mendapat pesanan dari luar kabupaten, yang dikenalkan oleh pelanggan lama.
Setiap jenis kue yang dibuat memiliki bentuk dan rasa berbeda. Ada yang berbentuk bunga, daun, dan hati, semuanya diproduksi secara manual dengan ketelitian tinggi.
“Meski rumahan, saya tetap jaga kebersihan dan kualitas. Karena itu yang bikin orang percaya,” kata Atinah, sambil memeriksa loyang terakhir sebelum dimasukkan ke dalam oven.
Pengalaman sebagai ASN membantu Atinah dalam mengelola manajemen usaha. Ia terbiasa membuat catatan rapi soal pengeluaran, stok bahan baku, hingga jadwal produksi.
Ia juga rajin mengikuti pelatihan UMKM yang diadakan pemerintah daerah. Ia mengakui, banyak pelaku UMKM yang stagnan bukan karena kurang modal, tapi kurang pengetahuan.
“Saya ikut pelatihan tentang pengemasan, pemasaran online, sampai perizinan. Itu penting agar usaha bisa naik kelas,” ujarnya.
Kini, Dapur Sendi bukan hanya milik Atinah. Ia merasa usaha ini milik bersama—ia dan para pekerjanya. Mereka tumbuh bersama, belajar bersama, dan bekerja dalam kehangatan yang tidak ditemui dalam dunia kerja formal.
“Buat saya, mereka sudah seperti keluarga. Kita saling bantu. Mereka jaga kualitas, saya jaga keberlangsungan,” ucap Atinah.
Sosok Atinah, cermin dari perempuan yang terus bekerja keras dan produktif meski sudah purna dari PNS. Ia berhasil memberdayakan dan menggerakkan ekonomi masyarakat sekitarnya.li
