Perjuangan Tak Kenal Lelah Membangun BSK

Berdirinya BPR (Bank Perekonomian Rakyat) BSK sejak tahun 90-an telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Mengawali dengan cara yang sederhana, kini kekayaannya mencapai Rp 800 miliar atau hampir 1 triliun. Ini merupakan contoh nyata dari kerja keras, dedikasi, dan visi yang jelas.

Didirikan dengan modal awal yang terbatas, BSK Group yang terdiri dari BPR Segara Anak Kencana dan BPR Samawa Kencana berkembang menjadi salah satu entitas ekonomi yang kuat dan berpengaruh di NTB. Kekayaan yang dimiliki saat ini tidak hanya menunjukkan kesuksesan finansial, tetapi juga merupakan bukti dari kepercayaan masyarakat dan mitra bisnis terhadap BSK.

“Ini berkat kerja keras. Saya tahu Anda bekerja keras. Saya selalu harap bekerja dan maju,” kata pendiri BSK Group, Dr. H. Ali Bin Dachlan, dalam sambutannya saat membuka kegiatan Laporan Pertanggungjawaban Direksi tahun 2025, yang berlangsung di Lombok Raya, Sabtu (3/4). Ali menyebutkan ada staf pemasaran di Tanjung yang bergaji Rp 30 juta sebulan karena bekerja keras. Namun, ada juga yang puas dengan gaji Rp 2 juta.

Kunci dari kesuksesan BSK terletak pada kemampuan untuk berinovasi, beradaptasi dengan dinamika pasar, dan komitmen untuk memberikan nilai tambah bagi nasabah. Dengan visi yang jelas dan strategi yang tepat, BSK terus melangkah maju, menghadapi tantangan, serta mencari peluang baru untuk pertumbuhan.

Salah satu adaptasi ditunjukkan ketika Pemerintah Pusat menggulirkan kebijakan  program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengisyaratkan akan banyak pebisnis memerlukan modal. Dengan kepiawaiannya, kru BSK sanggup merangkul nasabah sehingga membuat sirkulasi bisnis berjalan.

Kekayaan yang dimiliki juga membuka peluang bagi BSK untuk berkontribusi lebih besar kepada masyarakat dan lingkungan. Melalui program CSR dan kegiatan sosial, BSK dapat memberikan dampak positif yang lebih luas dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.

Dengan fondasi yang kuat dan visi untuk masa depan, BSK siap menghadapi tantangan dan kesempatan yang akan datang. Ali berharap ke depan jumlah kekayaan bisa menyentuh Rp 1 triliun seiring upaya memperluas jangkauan. “Tahun ini mencatat kemajuan kecil,” ujarnya seraya menyebut sejumlah target yang belum tercapai.

“Masalah yang dihadapi terbatasnya SDM dan sulitnya mencari pimpinan. Banyak potensi tapi tak tertarik jadi pemimpin,” kata Ali. Dampaknya, direktur mengembangkan kepemimpinan one man show karena bawahan kurang mandiri. Ia mengatakan melakukan regenerasi agak sulit. Seharusnya, pimpinan di bawahnya mengimbangi pimpinan lain.

“Jalankan tugas Anda seakan-akan Anda menjadi direktur perusahaan Anda,” cetus Ali. Ia menegaskan tahun 2026 merupakan tahun untuk melakukan koreksi diri sendiri, tidak mengkritik orang lain selain kritik diri sendiri.

“Koordinator bank harus lebih banyak di lapangan bukan sebagai kepala kantor yang hanya duduk,” katanya sambil menyebut tantangan dunia perbankan tahun 2026 datang dari masyarakat dan kebijakan pemerintah.ian

Exit mobile version